Pasar Horas, Pasar Modern Yang Dikelola Secara Tradisional

?????????

KUKEK KUKEK – Sebuah Opini

“Pasar Horas Pematangsiantar, Pasar Modern Yang Dikelola Secara Tradisional, Jika Bisa Ribet, Kenapa Harus Simple?”

Pasar Horas menjadi ikon Kota Pematangsiantar. Pasar Horas adalah Siantar. Sebuah pasar yang berdiri kokoh di pusat kota Pematang Siantar tetap dengan problematika masa lalunya. Pasar Horas tidak bisa melepaskan diri dari persoalan yang menggerogotinya. Pasar Horas tetap kumuh, sumber kemacetan dan menjadi sarang kriminalitas. Pasar Horas menyumbang sebagian besar persoalan kota.

Dan anehnya, problematika Pasar Horas tetap subur seakan tak terselesaikan. Pengunjung Pasar Horas akan disambut dengan joroknya fasilitas publik tersebut dan tentu saja anda harus hati – hati terhadap copet. Jika anda berniat untuk menjadi pedagang maka bersiaplah untuk berhadapan dengan birokrasi yang njelimet dan tentu saja pungutan pungutan dari oknum yang tidak bertanggungjawab. Bahkan pegawainyapun meringis karena pembayaran gaji yang selalu tertunggak.

Pasar yang menikmati gelontoran dana dari APBD Pemerintah Kota Pematang Siantar ini tidak menunjukkan perkembangan ke arah yang lebih baik dan anehnya Pemerintah Kota Pematangsiantar sebagai pemilik juga adem ayem terhadap situasi tersebut.

Pasar Horas sepertinya mengidap penyakit kronis namun ditangani oleh dokter magang. Persoalan Pasar Horas sejatinya adalah persoalan turun temurun dari kepemimpinan kepemimpinan sebelumnya. Dan uniknya Pemko Pematangsiantar selalu gagal menghadirkan pembaharu untuk mengelola Pasar Horas.

Sempat ada harapan ketika Dirut PD Horas Jaya, Bambang W Kencono berniat membuat layanan digitalisasi Pasar Horas. Namun entah kenapa idenya pun redup dan hilang tertiup angin seiring dengan pengunduran dirinya.

Persoalan Pasar Horas yang kompleks memang harus dituntaskan dengan cara yang luar biasa. Salah satunya adalah menggunakan digitalisasi Pasar Horas.

Digitalisasi Pasar Horas

Pasar Horas harus dipaksa untuk beralih ke pengelolaan digital berbasis aplikasi. Aplikasi pertama yang harus dihadirkan di Pasar Horas adalah digitalisasi penerimaan perusahaan daerah tersebut. Dengan jumlah kios yang sudah jelas, sewa dan cicilan kios yang jelas, retribusi yang jelas dan data pedagang yang jelas tentu bukan hal yang sulit untuk membangun sebuah platformnya.

Bahkan jika manajemen lebih serius maka digitallisasi fisik bisa diterapkan, Dimana semua pintu kios menggunakan pintu elektrik sederhana yang akan memprotek pedagang menggunakan kiosnya jika belum menyelesaikan kewajibannya.

Aplikasi digital yang digagas tesebut tentu saja akan memberikan sebuah jaminan pemasukan bagi PD Horas Jaya. Koneksi aplikasi dengan lembaga perbankan akan memberikan jaminan pembayaran kewajiban dari seluruh pedagang.

Kendala ilmu pengetahuan dari pedagang hanyalah alasan yang dicari cari dari manajemen untuk menghempang digitalisasi pasar

Memang penerapan digitalisasi pasar ini akan mengganggu beberapa oknum yang kerap mempermainkan aturan terutama memperkecil peluang bagi para koruptor yang kerap melakukan pungutan liar kepada pedagang.

Sungguh sebuah ironi, Sebuah pasar dengan jumlah kios ribuan tetap menetek kepada APBD Kota Pematangsiantar padahal disisi lain pusat perbelanjaan dengan kios hanya puluhan tetap berhasil membukukan laba.

 

Tinggalkan Balasan