Kantor Berita Simantab
Pusat informasi dan berita politik, ekonomi, hukum, budaya dari kabupaten karo, pakpak, dairi, toba, melayu, simalungun dan budaya jawa.

Suksesor Jokowi Paling Kuat adalah Prabowo Subianto

Prabowo Subianto. (Foto: tangkapan layar IG)

Jakarta – Prabowo Subianto unggul dibanding sejumlah figur lainnya guna menggantikan kepemimpinan Presiden Jokowi, jika maju Pilpres 2024.

Terungkap dari hasil survei nasional yang dilakukan Indikator Politik Indonesia, yang dirilis pada Rabu (25/8/2021). Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menyampaikan pemaparan lewat zoom. 

“Calon pesaing utamanya, yaitu terutama Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan. Kemudian Sandiaga Uno, Agus Harimurti Yudhoyono dan Ridwan Kamil,” kata Burhanuddin.

Dikatakannya, jika Prabowo Subianto kembali maju sebagai calon presiden pada Pemilu 2024 mendatang, tampak dukungan terhadap sosok Menteri Pertahanan itu masih lebih besar ketimbang nama lain.

“Dibanding dengan nama-nama lain, dukungan terhadap Prabowo masih lebih besar, tapi tidak menonjol, jaraknya tidak terpaut jauh terutama dari Ganjar Pranowo di posisi ke dua, kurang dari 10 persen dalam sejumlah simulasi nama calon,” terangnya.

Baca Juga:

Polisi “SmackDown” Demonstran

Kapolres Tangerang: Masih Bisa Jalan

Andi Arif Ajak Yusril Berjuang Beneran Untuk Semua Parpol

Kewenangan Besar di Majelis Tertinggi Partai Terdapat Di Semua Partai Politik

Partai Demokrat Dihabisi, Diserang Sahabat Sendiri

Partai Demokrat Tidak Bisa Membayar Tawaran Yusril 100 Milyar Sebagai Pengacara, Yusril Pindah Haluan Ke KLB Moeldoko.

Pesaing kuat lainnya adalah Anies Baswedan, jaraknya juga tidak terpaut jauh, sekitar 8 persen hingga 13 persen, tergantung jumlah dan nama calon yang disimulasikan. Sedangkan nama-nama lain dukungannya masih kurang dari 10 persen.

Selain itu, Burhanuddin juga memaparkan hasil survei bahwa PDIP hingga sejauh ini masih paling banyak basis pendukungnya, yakni sekitar 24 persen.

Kemudian Gerindra 12,8 persen, Golkar dan Demokrat masing-masing sekitar 9 persen, PKB 8,2 persen, PKS 7 persen, PPP 3,9 persen, NasDem 3,5 persen, PAN 2,2 persen, dan partai lainnya lebih rendah basis dukungannya. 

“Sementara kelompok non partisan, yang belum memiliki kecenderungan terhadap partai politik masih sekitar 17 persen,” ujarnya.

Jokowi dan Prabowo di Gerbang Tol Manggar, Kota Balikpapan, Selasa (24/8/2021). (Foto: tangkapan layar IG)

Kemudian tingkat kedekatan pemilih terhadap partai sangat rendah, yakni hanya 11 persen. Hal ini membuat volatilitas dukungan electoral sering terjadi di Indonesia.

“Jika Pileg diadakan sekarang, pada simulasi semi terbuka daftar 17 nama dan lambang partai, PDIP teratas dengan 24,4 persen. Kemudian Gerindra 12,8 persen, Golkar dan Demokrat masing-masing sekitar 9 persen, PKB 8,2 persen, PKS 7 persen, PPP 3,9 persen, Nasdem 3,5 persen, dan PAN 2,2 persen. Partai-partai lain lebih sedikit didukung warga. Masih ada 17 persen yang belum menjawab,” terangnya.

Survei nasional digelar sejak 30 Juli hingga 4 Agustus 2021. Populasi survei adalah seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berumur 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan.

Penarikan sampel menggunakan metode multistage random sampling. Dalam survei ini jumlah sampel sebanyak 1.220 orang. Dengan asumsi metode simple random sampling, ukuran sampel 1.220 responden memiliki toleransi kesalahan (margin of error–MoE) sekitar ±2.9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. 

Sampel berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional.Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih.

Quality control terhadap hasil wawancara dilakukan secara random sebesar 20 persen dari total sampel oleh supervisor dengan kembali mendatangi responden terpilih (spot check). Dalam quality control tidak ditemukan kesalahan berarti.

Dalam rilis bertajuk ‘Evaluasi Publik Terhadap Kinerja Penanganan Pandemi, Vaksinasi dan Peta Elektroral Terkini’ hadir sejumlah penanggap, diantaranya, Dewi Nur Aisyah (Epidemiologi Universitas Indonesia); dr Siti Nadia Tarmizi (Jubir Vaksinasi Covid Kemenkes RI); Habiburokhman (F-Partai Gerindra DPR RI); dan Aria Bima (F-PDI Perjuangan DPR RI).

Diskusi dipandu News Anchor Inews TV Bernadetha Ginting.[]

Top Radio Banner
Comments
Loading...

Situs ini menggunakan kuki untuk memberikan pengalaman terbaik bagi anda dalam menggunakan layanan kami. Kami memegang komitmen untuk melindungi privasi anda dan menjadikan keamanan data menjadi prioritas kami SetujuBaca Lagi