4 Tahun Tak Pulang, Hamdani Meregang Nyawa di Negeri Jiran

0
1921

SIMANTAB.COM, Simalungun – Bermaksud untuk menyenangkan hati orang tua dan mendapatkan penghasilan, Ria Hamdani (24) meregang nyawa di Negeri terangga (Jiran, red), Sabtu (28/10/2017) dinihari waktu Malaysia.

Kejadian pilu dirasakan keluarga Anas Pandif (49), anak keduanya itu meninggal dunia di negeri perantauan. Bahkan, penyakit yang diderita anaknya itu terkesan tiba-tiba.Ayah 4 anak itu bercerita bahwa seminggu yang lalu, anaknya menghubungi pihak keluarga melalui video call, saat itu Hamdani bercerita kepada ibunya bahwa ia mengalami sakit kepala dan bahkan sakit yang ia rasakan sangat sakit.

“Sakit kali katanya, seperti ditusuk-tusuk, itu cerita anakku waktu itu waktu teleponan,” jelas pria yang kesehariannya berjualan sate keliling ini.

Diceritakannya, selama 4 tahun anaknya merantau ke Malaysia sebagai Redi Golf bersama kakak tertuanya. Di sana, Hamdani sempat menikahi seorang gadis asal Aceh yang juga merantau di Malaysia dan sudah dikaruniai seorang anak laki-laki.

“Selama menikah mereka belum pernah pulang, bahkan istrinya saja kami belum pernah jumpa. Tapi ntah kenapa pas seminggu yang lalu ia merasa sakit di kepala. Sama abangnya sempat dibawa ke klinik tapi klinik tak mampu sampai akhirnya dibawa ke rumah sakit,” jelasnya saat ditemui di kediamannya di Huta V, Nagori Bangun, Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun, Senin (30/10/2017) siang.

Tiga hari setelah dirawat, anak tertuanya menghubunginya dan meminta kiriman uang untuk membantu biaya perobatan di rumah sakit karena kondisinya sudah semakin parah dan tidak sadarkan diri. Sekitar Rp 8 juta ayah dan ibunya mengirim biaya untuk membantu meringankan biaya perobatan.

Sayangnya, pada hari Sabtu, Hamdani dinyatakan meninggal dunia akibat penyakit yang dideritanya. “Disana sudah kehabisan biaya, karena biaya perobatannya sekitar Rp 17 jutaan, jadi ada kawan-kawannya yang merantau di sana (Malaysia, red) juga ikut membantu biaya rumah sakit dan pemulangan jenazah, karena sampai hari Minggu Hamdani masih di rumah sakit karena masalah administrasi belum selesai, ditambah biaya pemulangan jenazah ke Indonesia kena biaya sekitar Rp 11 juta,” ucapnya usai pemakaman anaknya itu.

Karena kehabisan biaya, maka hanya Hamdani saja lah yang dikirmkan melalui pesawat. Sementara, anak, istri dan kakaknya tidak bisa pulang ke kampung halaman. “Jadi saudara yang disana enggak bisa pulang karena biaya sudah tidak ada lagi, tadi sempat video call, sama abangnya yang di Malaysia itu, waktu sebelum dimakamkan,” katanya.

Sementara itu, Pangulu Nagori Bangun, Muhammad Azahar yang ditemui di rumah duka mengatakan, pihaknya bersama warga juga berpartisipasi untuk memulangkan jenazah Hamdani mengingat kondisi perekonomian keluarga seperti itu. “Alhamdulillah banyak warga yang membantu, kita juga berterimakasih kepada Tim Relawan Semangat Baru Sumut yang bersedia membantu membawa jenazah dari Bandara ke rumah duka,” ungkap Azahar.

Dikatakannya, jenazah Hamdani tiba di Bandara Kualanamu pada Senin pagi, dan beruntungnya mobil ambulans milik Relawan Semangat Baru siap membantu. “Kalau tidak ada mobil ambulans itu mungkin sudah tidak tahu lagi bagaimana,” jelasnya mengakhiri. (Lud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.