Bank Dunia,  BPIW Dan Cipta Karya Adakan Raker Untuk Danau Toba

0
352

SIMANTAB.COM, Simalungun – Hari ini,  Senin (10/04/2017) bertempat di Inna Hotel Parapat,  kota Parapat,  kecamatan Girsang Sirpanganbolon, kabupatem Simalungun,  pihak Bank Dunia,  BPIW (Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah)  dan Dinas Cipta Karya Repoblik Indonesia adakan rapat dengan agenda ” Kerangka kerja pengelolahan lingkungan dan sosial program nasional pembangunan pariwisata.

Kegiatan dihadiri oleh seluruh steak holder yang berkepentingan untuk memajukan sektor Pariwisata yang terdiri dari beberapa Satuan Kerja Perangkat Dinas  se Sumatera Utara yang berdekatan dengan wilayah Danau Toba.

Salah seorang peserta dari kabupaten Tobasa  mengatakan Ciptakan parapat parapat baru.  Hotel hotel baru. Cor pariwisatanya seperti apa,  alam,  budaya, dan lainnya. Pilih prioritas dan harus bisa membuat prioritas.  Lalu membuat atau mengembangkan desa desa wisata. Melalui surat keputusan bupati agar dana bantuan dari pemerintah pusat bisa masuk.

Menanggapi hal tersebut,  Candra, Ditjen Cipta Karya,  mengatakan Kita tidak membangun Danau Tobanya,  kita membangun fasilitas fasilitas Danau Tobanya.

Perwakilan dari Dairi,  masyarakat apa mau hanya dijadikan penonton.  Kita sangat senang dengan adanya Otorita Danau Toba,  kiranya dapat masyarakat dirangkul.

Kabupaten Samosir, untuk air minum dan sampah.  Ini anggaran cukup besar.  Sudah disampaikan,  dan supaya dapat dilakukan bergulir. Keperluan untuk air minum dengan sistem grafitasi.  Dari dua sumber membutuhkan dana sekitar Rp 172 M.

Karena lokasi perkampungan yang berjarak jarak,  maka membutuhkan juga mobil tangki untuk pengangkutan air minum.

Untuk pengadaan TPA sudah diajukan dengan anggaran sekitar Rp 20 M.  Sanitasi juga dibutuhkan untuk kabupaten Samosir.

Menjawab hal itu Gorge,  perwakilan dari Bank Dunia,  mengatakan bahwa kita meminta masukan dari pemerintah daerah untuk melakukan pembangunan dilokasi pariwisata.

Disambung oleh Ditjen Cipta Karya,  mobil tangki bukanlah sistem,  melainkan proses darurat untuk menyampaikan air.

Kerangka teknis berbicara tentang kebutuhan melalui kecamatan kecamatannya.  Supaya bisa berbicara seperti apa kebutuhan.

Sementara itu di ketahui pembicara pada kegiatan Hadi Sucahyono dari BPIW (Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah), Candra yang merupakan  Ditjen Cipta Karya, dan  Gorge dari Bank Dunia. (Die)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.