Banyaknya Mess, Ganggu Penataan Kota Parapat

0
661

SIMANTAB.COM, Simalungun – Ferry Risdonni Sinaga SH, Lurah Tiga Raja, mengakui sampai saat ini pihaknya mengalami kesulitan untuk melakukan pengembangan terhadap kawasan wisata, Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, kabupyaten Simalungun. Pasalnya di daerah tersebut terdata ada puluhan mess milik PTPN ataupun BUMN yang begitu banyak menguasai lahan.

“Maunya di satukan. Supaya bisa dibuat tata ruang. Kelurahan Tiga rayja luas daerah hanya 25 Haktar,” sebut Ferry.

Wisma milik PTPN antara lain Wisma Pamela, Wisma Tirta, Wisma Deli, Wisma Tamora, Wisma Tirta Maya, Wisma Tenera, Wisma Horas, Wisma Prana, Wisma Oleo, Wisma Kayu Waro, Wisma Simalungun, Wisma Serdang, Wisma Peripera. Wisma ini secara keseluruhan milik PTPN atau BUMN.

Masing masing mempunyai 4 kamar dengan rata-rata luas minimal 3000 M. Sehingga kalau membuat tata ruang untuk parkir dan pedagang pihaknya mengalami kesulitan.

Lalu ada juga wisma milik Provinsi Sumatera Utara ada 5 mess. Diantaranya pesanggrahan Soerkarno,  hotel tingkat 1 Sumut, mess Kehutanan Sumut, mess PU Sumut,  Mess Pertanian. Milik TNI AD, Mess Dolok Martimbang, Mess Kartika. Sementara mess milik Kepolisian antara lain Wisma Bayangkara dan Asmara Kepolisian ada dua lokasi. Untuk TNI AL ada dua yakni Wisma Bahari dan Wisma Jangkar.

“Sementara, kalau hari besar tamu over kapasitas. Akibatnya rumah penduduk dimamfaatkan dan itupun masih kurang. Permohonan kalau mess dapat disatukan. Sehingga pemerintah kabupaten bisa membuat tata ruang yang nyaman bagi wisatawan,” katanya.

Adapun potensi yang ada, ketika ada hari libur tamu tidak nyaman karena dagangan sudah mendesak ke jalan. Pihaknya juga sudah dilakukan penataan, tapi mess banyak memakan ruang. Khususnya pada mess BUMN. Kalau bisa dapat disatukan.

Untuk dibentuk tata ruang, lalu bisa dilihat potensi yang ada. Akibat banyaknya mess jadi sulit melakukan peningkatan potensi wisata. Bagaimana cara dilakukan pegabungan terhadap mess tersebut.

Kota Parapat belum layak dikatakan sebagai kota pariwisata karena sampai saat ini belum ada convension hall yang bisa menampung 1000 orang.

Dengan dilakukan penggabungan terhadap mess. Maka penggabungan terhadap pedagang ataupun ruang lain untuk dilakukan peningkatan.

Untuk dermaga parawisata dan dermaga akhir kapal, sampai saat ini juga masih sangat diperlukan. “Sehingga kapal tersebut banyak parkir di asal tempat yang mengakibatkan lokasi potensi wisata jadi rusak dan tidak tertata. Untuk itu kami membutuhkan dermaga wisata dalam perhitungan membutuhkan sekitar 4 dermaga, dan untuk poll dermaga akhir,” katanya. (Die)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.