Kajian Pemanfaatan Crude Palm Oil (CPO) sebagai Biodiesel (B20) Oleh Pemerintah

0
158

Oleh : Safril ST, MT

Biodiesel (B20) ialah Bahan Bakar Minyak (BBM) alternatif yang dapat diciptakan dengan berbahan dasar minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO), kanola, kacang kedelai, limbah minyak goreng dan limbah organik lainnya, dalam arti B20 adalah Biodiesel 20% yang dicampurkan kedalam bahan bakar minyak. Mulai 1 september 2018 akan diterapkannya kebijakan B2O Jokowi yang diperuntukan bukan hanya jenis solar subsidi tetapi juga non subsidi, mengenai keuntungan dari penggunaan B20 adalah mengurangi kebutuhan devisa karena menekan impor minyak dan mengurangi emisi karbon sementara kerugiannya adalah berpotensi memperpendek usia filter bahan bakar, informasi tersebut dapat dilihat atau telah terbit dari portal berita CNN Indonesia, (Timothy Loen, sabtu 01/09/2018, 10:05). Berlandaskan informasi tersebut maka terciptalah pertanyaan ilmiah “Optimalkah CPO dimanfaatkan sebagai Biodiesel (B20) campuran BBM?”. Melalui data produksi CPO di Indonesia dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 1. Produksi CPO di Indonesia tahun 2001-2005 (hambali,2008)

Dapat dilihat dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 5 tahun 2006, konsumsi minyak bumi harus dikurangi menjadi 20% dari konsumsi energi nasional (PP No. 5, 2006). Diawali dengan PP tersebut maka dilakukan kajian pemanfaatan Crude Palm Oil (CPO) sebagai biodiesel. pembuatan biodiesel melewati proses pemurnian terlebih dahulu dengan menggunakan metoda esterifikasi dan selanjutnya proses transesterifikasi. Pada metoda esterifikasi menggunakan katalis asam, seperti asam sulfat (H2SO4) atau dapat menggunakan katalis asam klorida (HCl) dan selanjutnya memanfaatkan proses transesterifikasi dengan katalis CaO dapat ditemukan pada cangkang kerang darah. Reaksi pada proses esterifikasi dilakukan dengan cara mencampurkan asam sulfat/asam klorida (H2SO4/HCl) dengan alkohol (methanol/etanol). Pemisahan minyak dengan menggunakan methanol dilakukan sintesis biodiesel untuk menghitung nilai kandungan air dan asam lemak bebas (ALB). Dalam penentuan ALB dari CPO dapat dilakukan dengan pengujian dengan menggunakan sampel CPO dipanaskan dan mencampurkannya dengan methanol yang telah dipanaskan sebelumnya, dalam proses pengujian suhu yang diperlukan dalam pengujian tersebut adalah antara 50-60 0C pada pencampurannya ditambahkan 2-3 tetes indikator fenolftalein hingga homogen dan selanjutnya melakukan titrasi dengan larutan KOH 0,1 N (yang telah distandarisasi) sampai berwarna merah muda. Dalam pengujian tersebut maka akan didapatkan nilai Volume ALB. Setelah melewati proses esterfikasi maka selanjutnya dilakukan proses transesterifikasi yang terdiri dari 4 tahap (Lesmana, 2006), yaitu:
1) dilakukan pencampuran secara katalis alkaline (NaOH atau KOH) dengan menggunakan alkohol (Methanol/Ethanol). Dimana konsentrasi katalis dilaksanakan dengan kisaran 0,5-1% dari massa minyak/CPO. Sementara itu pada alkohol dilaksanakan konsentrasi kisaran 10-20% dari massa minyak/CPO.
2) dilakukan pencampuran alkohol secara katalis pada minyak/CPO dengan temperatur 55°C dan kecepatan pengadukan dilakukan secara konstan. Pada proses ini dilakukan dalam interval waktu 30-45 menit
3) terjadinya peemisahan pada campuran saat methyl ester telah terpisah dengan gliserol. Methyl ester yang telah terbentuk pada tahap ini dikatakan sebagai crude biodiesel dikarenakan terdapat substansi zat-zat pengotor seperti residu methanol, residu katalis alkalin dan sabun
4) pada proses atau tahap pencucian methyl ester dapat dilakukan dengan menggunakan air hangat untuk memisahkan zat-zat pengotor yang selanjutnya dilakukan dengan menguapkan air yang terkandung dalam biodiesel. Dapat dilihat dibawah ini persamaan reaksi kimia dalam produksi biodiesel sebagai berikut:

Gambar 1 : Gambar reaksi kimia pada proses bio diesel (mursanti,2007,sujatmoko, 2004)

Pada Pembuatan biodiesel dari CPO melalui proses transesterifikasi langsung dapat menghasilkan senyawa metil ester. Dari hasil kajian pemanfaatan CPO sebagai biodiesel (B20) dapat dilaksanakan dengan melewati proses diatas secara bertahap untuk menghasilkan campuran yang sempurna, sehingga hasil pencampuran tidak merusak elemen mesin pada kendaraan, generator berbahan bakar solar dan motor penghasil energi lainnya. perlu diketahui jika rasio mol CPO pada metanol besar maka yield biodiesel semakin besar pula.
Dengan kajian diatas maka dapat disimpulkan secara ilmiah bahwa pencampuran CPO sebagai biodiesel (B20) terhadap BBM dapat dilaksanakan dan cukup optimal, hanya perlu dalam pelaksanaanya tidak dilakukan secara langsung dengan perbandingan 1:20 yang semestinya atau yang menjadi saran pada prakteknya harus dilakukan secara bertahap mulai pencampuran 1:10, 1:15, 1:20, 1:25, 1:30 hingga titik maksimal yang bertujuan agar pada pelaksanaan khalayak luas bisa diteliti atau dikaji jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, sehingga dapat diketahui titik campuran yang terbaik dalam pencampuran biodiesel yang tidak merusak elemen mesin.

Proses bertahap juga menumbuhkan rasa kepercayaan masyarakat terhadap produk B20 oleh pemerintah. Saran tersebut dapat dilaksanakan sebagai perbandingan jika campuran biodiesel 20% tersebut dilakukan dengan skala laboratorium, karena saat penerapan khalayak luas, perlu dicermati pada praktek lapangan kondisi mesin kendaran berbeda-beda dengan jenis dan tipe mesin yang berbeda pula, maka perlu dilakukan kajian-kajian pada interval waktu tertentu, untuk menghasilkan hasil yang optimal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.