Kanjeng Dimas Taat Pribadi Dan Filsafat Keilmuan

0
431
Dimas Kanjeng Taat Pribadi

“Semakin sedikit pengetahuan seseorang terhadap suatu realitas, maka semakin banyaklah mitos yang mengisi kesadarannya akan realitas itu. Dulu ketika manusia melihat rintik-rintik hujan, kurangnya pengetahuan membuat manusia percaya bahwa hujan itu adalah realitas yang terjadi ketika Sang Dewa sedang menangis.

fem

*** Novembri Yusuf Simanjuntak ***

 Namun, lambat laun perkembangan pengetahuan membuat kita mengetahui kenyataan bahwa ada realitas alam yang bekerja di balik hujan yang bisa terjelaskan secara rasional, tanpa harus secara apriori melibatkan dewa. Ketika terjadi gempa misalnya, sebagian masyarakat dahulu percaya bahwa seekor lembu (entah dari mana) sedang mengamuk.

Itu terjadi katanya karena manusia tidak memberi makan (sesajen) sang lembu. Namun lagi-lagi, kelahiran pengetahuan akhirnya bisa menjelaskan sebab gempa secara ilmiah dan rasional tanpa mesti lagi melibatkan apriori kita tentang realitas yang lahir dari imajinasi liar.

Indonesia dengan masyarakat yang majemuk di dalamnya, merupakan negara yang senantiasa terdapat fenomena di dalam kehidupan masyarakatnya. Fenomena yang terjadi beberapawaktu terakhir adalah ditangkapnya seorang “guru spiritual” yang juga merupakan Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) AA Gatot Brajamusti karena kasus kepemilikan narkoba dan kemudian oleh penyidik diperluas dengan kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur dan kepemilikan senjata api ilegal.

Pada fenomena yang lain, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan penangkapan seseorang bernama Taat Pribadi yang oleh pengikutnya disebut dengan Kanjeng Dimas Taat Pribadidengan senjata lengkap pada kamis, 22 September 2016.  Dikatakan mengejutkan adalah karena Taat Pribadi tersebut ditangkap di padepokannya sendiri dengan melibatkan sekitar seribuan aparat KEPOLISIAN.

Penangkapan tersebut karena diduga Taat Pribadi terlibat sebagaidalang pembunuhan dua mantan pengikutnya yang jasadnya ditemukan di daerah yang berbeda dankasus penipuan mulai dari ratusan juta hingga miliaran rupiah.

 

Mengenal Sosok Kanjeng Dimas Taat Pribadi

Dengan gelar Sri Raja Prabu Rajasa Nagara, Taat Pribadi yang oleh pengikutnya disebut Kanjeng Dimas adalah seorang lelaki yang berasal dari daerah Probolinggo, memiliki empat orang istri dan merupakan anak mantan seorang Kepala Kepolisian SektorGading. Dimas Kanjeng terlahir dengan nama Taat Pribadi pada tanggal 28 April 1970.

Ayahnya bernama Mustain dan Ibunya bernama Ngatri, adalah ibu rumah tangga biasa. Mustain ayahnya meninggal pada tahun 1992, sedangkan Ibunya Ngatri meninggal pada tahun 2002. Pria yang dipanggil sebagai Mas Kanjeng oleh pengikutnya tersebut adalah anak kelima di antara enam bersaudara. Pada 1994 dia menikahi istri pertamanya, Rahma Hidayati, sesama murid Ilyas yang juga tetangganya sendiri di Probolinggo. Dari hasil pernikahan ini mereka mempunyai tiga anak, yakni Sariwatul Wahida serta dua anak kembar Radery dan Radeni.

Dalam waktu singkat, pengikut Kanjeng Dimas Taat Pribadi yang semula hanya berjumlah sekitar lima puluhan orang berkembang menjadi sekitar dua ribu orang.  Sebelum Kanjeng Dimas Taat Pribadi ditangkap polisi, pengikutnya telah mencapai dua puluh tiga ribu orang. Luas tanah yang dipergunakan sebagai tempat padepokan juga telah berkembang menjadi tujuh hektare.

Pada awalnya dikenal sebagai seseorang dengan kemampuan dapat mengambil barang-barang pusaka dari dalam tanah, yang kemudian dengan kemampuannya dapat mengadakan dan menggandakan uang milik masyarakat pengikutnya dengan sejumlah persyaratan yang diberikan.

Sebelum ditangkap oleh Polisi, masyarakat Indonesia telah melihat melalui tayangan video pengambilan uang dari belakang tubuh seseorang bertubuh agak gemuk dengan menggunakan baju gamis dan uang yang diambil tersebut kemudian dihamburkan di lantai dengan jumlah yang sangat banyak.

Kanjeng Dimas Taat Pribadi diyakini oleh ribuan pengikutnya sebagai sosok yang mempunyai kemampuan luar biasa, mampu mengadakan dan menggandakan uang, permata, emas batangan dalam jumlah yang tidak terbatas. Bahkan ada rumor yang mengatakan bahwa Kanjeng Dimas Taat Pribadi mampu berubah wujud menjadi beberapa bentuk lain.  Pengikut Kanjeng Dimas Taat Pribadi berasal dari berbagai kalangan, seperti masyarakat biasa, pengusaha, Pegawai Negeri Sipil, TNI/Polri, bahkan akademisi intelektual seperti Marwah Daud. Sebuah hal yang menarik karena sejak sekolah dasar, Marwah Daud termasuk orang yg cerdas.

Marwah tak merasakan kelas enam Sekolah Dasar,karena begitu menginjak kelas lima dia ikut ujian akhir, dan lulus sebagai juara.Marwah Daud pernah terpilih sebagai pelajar teladan se-Sulawesi Selatan dan diundang ke istana negara oleh Presiden pada tahun 1974. Marwah juga tercatat pernah mendapat beasiswa untuk melanjutkan studynya di American University, Washington DC, dan berhasil meraih gelar master dari jurusan Komunikasi Internasional.

Untuk yang kedua kalinya, Marwah Daud Ibrahim mendapat beasiswa untuk study di Amerika.Di universitas yg sama, ia mengambil Komunikasi Internasional bidang satelit, dan meraih gelar doktor tahun 1989 sebagai lulusan terbaik (distinction). Selama di Amerika, Marwah Daud bekerja sebagai asisten peneliti Unesco, dan Bank Dunia. Sekembalinya dari Amerika Serikat, ia bergabung dgn organisasi ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), dgn menjabat sebagai Sekretaris Umum.

Beberapa pengikut setia Kanjeng Dimas Taat Pribadi sapai saat ini masih tetap setia bertahandi Padepokandan “menunggu petunjuk” serta “perintah langsung” dari Ketua Yayasan  walaupun “sang guru” telah ditahan di penjara.Padepokan tersebut beralamat di Dusun Cangkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur.

Apakah Kanjeng Dimas Taat Pribadi memiliki kesaktian?

Banyak masyarakat pengikutnya percaya dengan kesaktian Kanjeng Dimas Taat Pribadi, salah satunya dapat menggandakan uang. Semua pengikutnya dijanjikan bahwa uang yang mereka setorkan akan menjadi berlipat ganda dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Misalnya uang satu juta rupiah, katanya dapat digandakan menjadi satu milyar dalam waktu dua tahun. Semakin banyak disetor maka akan semakin banyak yang akan diterima oleh pengikut tersebut.

Fantastis, bagi orang yang meyakini, maka akan semakin banyak uang yang diberikan kepadanya. Sejak tahun 2010, pengikut Kanjeng Dimas bertambah banyak dan menyebar di seluruh Indonesia. Di Sulawesi Selatan saja, ada sebanyak lebih dari dua ribu orang merupakan pengikut Kanjeng Dimas. Agar pengikutnya yakin bahwa aksinya bukanlah sebuah penipuan, Kanjeng Dimas Taat Pribadi pun memasukkan zikir dan wirid yang biasa diamalkan oleh muslim sebagai bagian dari ajaran padepokan yang dipimpinnya.

Pada waktu tertentu, Kanjeng Dimas Taat Pribadi menunujukkan kemampuannya dengan cara mengadakan uang di depan pengikutnya. Uang yang muncul daribalik bajunya adalah pecahan seratus ribu rupiah, bahkan ada juga uang dari sejumlah negara lain seperti dolar amerika, singapura dan lain-lain. Menurut pengakuan salah seorang pengikutnya, dalam menunjukkan kesaktiannya, Kanjeng Dimas Taat Pribadi katanya mampu mengubah garam menjadi butiran-butiran permata.

Kehebatan lainnya adalah kemampuan menghadirkan sepeda motor dalam waktu hanya sekejap saja. Dalam konteks ini, Kanjeng Dimas Taat Pribadi diakui sebagai seseorang yang memiliki Karomah, sama seperti kemampuan wali-wali Allah yang terpilih. Marwah Daud Ibrahim, seorang intelektual bergelar Doktor berdarah Bugis Soppeng yang juga merupakan ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi mengungkap sejumlah fakta dari sudut pandangnya untuk menjelaskan fenomena yang diperlihatkan oleh Kanjeng Dimas Taat Pribadi, dalam sebuah acara TV Nasional.

Di dalam acara TV tersebut, Marwah Daud menunjukkan video di saat dirinya hadir dan menyaksikan sendiri bagaimana aksi Kanjeng Dimas Taat Pribadi mengadakan uang dalam jumlah besar, berbagai perhiasan mewah, jam tangan, permata, dan emas batangan serta sebuah kitab. Di video lainnya, Kanjeng Dimas Taat Pribadi juga terlihat menghadirkan banyak peti berisi uang yang diatasnya terdapat bendera merah putih.

Menurut Marwah Daud, sebelum benar-benar percaya tentang adanya kekuatan multi-dimensi seperti yang dimiliki oleh Kanjeng Dimas Taat Pribadi, dirinya melakukan istikharah selama satu tahun. Kemudian beliau memperoleh keyakinan ketika menemukan pembenaran di dalam surah An Nahl ayat 38-40, tentang kemampuan seseorang (yang berarti manusia) yang memiliki ilmu dari Al Kitab menghadirkan singgasana Balqis dalam sekejap mata di Singgasana Nabi Sulaiman, mengalahkan kemampuan Ifrit (sebangsa jin).

Dari ayat tersebut, Marwah Daud mengungkapkan betapa mungkinnya seorang manusia biasa, yang diberikan karunia dari Allah SWT untuk menghadirkan apa saja. Dan manusia itu diyakininya adalah Kanjeng Dimas Taat Pribadi. Nah, apakah Kanjeng Dimas Taat Pribadi adalah seorang yang sakti dan memiliki Karomah?Jawabannya dapat dilihat dari pengakuan beberapa pengikutnya.  Seorang pengikut Kanjeng Dimas Taat Pribadi yang berasal dari Makassar ingin membuktikan kesaktian sang guru.

Saat itu, Kanjeng Dimas Taat Pribadi mengaku telah mengirim sesuatu secara gaib ke rumahnya. Benar saja, kiriman itu benar-benar ada. Namun sayang, dari rekaman CCTV yang ada di rumah sang pengikut tersebut diketahui bahwa ada dua orang yang menyimpan sesuatu di halaman rumahnya. Jadi, terungkap bahwa benda kiriman Kanjeng Dimas bukan melalui cara gaib tetapi lewat orang-orang suruhannya. Kejadian ini kemudian menjadi persoalan antara sang pengikut dengan sang guru yang selanjutnya didamaikan oleh Almarhum Ismail, Mantan pengikut Kanjeng Dimas Taat Pribadi yang diduga dibunuhnya sendiri.

Selain itu, salah seorang pengikut Kanjeng Dimas Taat Pribadi pun pernah menguji keaslian uang yang dihasilkan oleh sang guru. Saat itu, dia diminta untuk mengambil uang atas petunjuk sang guru. Untuk mengujinya, sang pengikut mengambil uang dari sisi lain di saat sang guru lengah. Ternyata, uang tersebut adalah uang palsu.

Pengakuan lain dari mantan pengikut yang telah menyetorkan uang ratusan juta rupiah juga menyebutkan bahwa Kanjeng Dimas Taat Pribadi tidak tahu mengaji dan mewajibkan santrinya (sebutan untuk pengikut padepokan Kanjeng Dimas) untuk mengirimkan bacaan al-Fatihah kepada mendiang guru-gurunya, bukan kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu, berbagai ritual, uang mahar, dan doa-doa yang diajarkan di dalam padepokan sangat aneh dan bukan seperti ajaran agama Islam yang sebenarnya.

Apakah mungkin seseorang yang tidak bisa membaca Al-Quran, dan mengajarkan ritual-ritual di luar ajaran Islam bisa dikatakan sakti dan memiliki Karomah seperti wali-wali Allah? Tampaknya, tidak mungkin. Dan sangat jelas, sebutan-sebutan tentang adanya jin penjaga dan kantung jin di kediaman Kanjeng Dimas Taat Pribadi semakin mengindikasikan bahwa telah terjadi persekutuan dengan jin dalam menjalankan aksi-aksinya.

Filsafat Ilmu dalam menjelaskan Fenomena Kanjeng Dimas Taat Pribadi

Suatu ketika bertanyalah seorang awam kepada ahli filsafat, “bagaimanakah caranya agar saya mendapatkan pengetahuan yang benar?”. Sang Filsuf berkata, “Mudah saja”, “ketahuilah apa yang kau tahu dan ketahuilah apa yang tidak kau tahu”. Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu.

Melalui rasa ingin tahu tersebut maka sifat filsafat adalah :menyeluruh, yaitu rasa tidak puas dalam mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri namun harus dilihat hakikat ilmu dari pengetahuan lainnya.Mendasar, yaitu suatu cara berfikir dengan membongkar tempat berpijak yang fundamental, tidak percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar, mengapa ilmu itu disebut benar, bagaimana proses penilaian terhadap kriteria dilakukan, apakah kriteria itu sendiri benar, dan pada akhirnya juga mempertanyakan bahwa apakah ilmu itu sendiri benar?. Spekulatif, yaitu keraguan dan ketidakyakinan terhadap pemikiran yang mendasar.

Dari seluruh spekulasi yang ada dalam proses pencarian ilmu, filsafat mempunyai tugas utama untuk menetapkan dasar-dasar yang dapat diandalkan.  Apakah yang disebut logis?, apakah yang disebut benar?, apakah yang disebut sahih?.

Filsafat ilmu merupakan bagian dari filsafat pengetahuan yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu pengetahuan ilmiah. Aspek ilmu ada 3, yaitu :

Apa yang dikaji oleh pengetahuan itu (Ontologi).

Aspek ini berkaitan dengan pertanyaan seperti berikut :  Objek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki dari objek tersebut? Bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berfikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?. Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan itu (Epistemologi). Aspek ini berkaitan dengan pertanyaan sebagai berikut :

Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan berupa ilmu?.

Untuk apa pengetahuan itu dipergunakan (Aksiologi).

Aspek ini berkaitan dengan pertanyaan :

Untuk apa pengetahuan berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional?.

Dengan mengetahui jawaban dari ketiga pertanyaan diatas, maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam khasanah kehidupan manusia. Hal ini memungkinkan kita mengenali berbagai pengetahuan yang ada  seperti ilmu, seni dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita. Tanpa mengenal ciri-ciri tiap pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita dapat memanfaatkan kegunaannya secara maksimal, namun kadang kita salah dalam menggunakannya.

Penalaran, yaitu suatu proses berfikir dalam menarik kesimpulan yang berupa pengetahuan. Manusia pada hakikatnya merupakan mahluk yang berfikir, merasa, bersikap, dan bertindak. Sikap dan tindakannya yang bersumber pada pengetahuan yang didapatkan lewat kegiatan merasa dan berfikir. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegitan berfikir dan bukan dengan perasaan. Sehingga penalaran merupakan kegiatan berfikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran.

Adapun ciri-ciri penalaran adalah sebagai berikut :

Logika, yaitu kegiatan berfikir menurut suatu pola tertentu/pengkajian untuk berfikir secara sahih.

Analitik, yaitu kegiatan berfikir analisis yang mempergunakan logika ilmiah dan berdasarkan langkah-langkah tertentu.

Marwah Daud dengan penuh semangat mengakui ketertarikannya terhadap ‘sang guru’ Kanjeng Dimas Taat Pribadi, karena Taat Pribadi dianggap seorang (atau memiliki kemiripan dengan) wali yang memiliki karomah, hanya karena Taat Pribadi dianggap mampu mengadakan dan menggandakan uang secara ajaib. Dalam pandangannya, Kanjeng Dimas Taat Pribadi dianugerahi ilmu pengetahuan dan “karomah” yang dapat dimaknai sebagai “kelebihan”. Sederhananya, anugerah itu merupakan sesuatu yang dianggap mustahil, tetapi nyata terjadi. Menurutnya, Taat Pribadi bukan “menggandakan”, melainkan memunculkan uang secara tiba-tiba, memindahkan uang melalui tangannya, atau tiba-tiba ada peti berisi uang, atau ruangan penuh berisi uang.

Suatu hal yang sulit untuk dinalar dengan akal sehat oleh orang awam, bagaimana mungkin sosok intelektual ternama, menjabat sebagai dewan pakar organisasi intelektual ICMI, akhirnya mempercayai mitologi dan tahayyul yang tak bisa dibuktikan dan dinalar dengan sikap-sikap akademis.

Kesemua ciri dari pengetahuan sebagai sebuah filsafat ilmu tidak dapat menerima tindakan pengadaan dan penggandaan uang yang dilakukan oleh Kanjeng Dimas Taat Pribadi. Yang terlihat hanya pertunjukan “magis” berkedok penipuan yang diselimuti dengan kegiatan berbau agama.

Tindakan yang dilakukan oleh Kanjeng Dimas Taat Pribadi adalah sebuah Rasionalisasi “magis” atau penjelasan terhadap kemampuan “magis” atau segala hal kasat mata dan “aneh bin ajaib” akhirnya memang dianggap sebagai modus penipuan, baik oleh kepolisian dan masyarakat yang mempunyailogika dan akal sehat.

Maksudnya, kemampuan itu tak datang tanpa sebab atau ada dengan sendirinya. Kanjeng Dimas Taat Pribadi diduga melakukan “trik” tertentu, sehingga para pengikutnya terkelabui.Trik-trik yang menggiring para pengikutnya untuk menyakini bahwa Kanjeng Dimas Taat Pribadi sungguh mempunyai kesaktian dibalut dengan kegiatan-kegiatan wirid dan zikir bersama yang sesungguhnya hanya sebagai sebuah modus belaka.

Trik yang dilakukan oleh Kanjeng Dimas Taat Pribadi tersebut misalnya saja sukses menambah kekayaan dan kemegahan padepokan Taat Pribadi yang bukan diperoleh dari uang ajaib, atau yang ada dengan sendirinya. Banyak pihak menduga bahwa uang itu justru berasal dari mahar, uang pendaftaran, iuran rutin, serta uang yang diserahkan untuk digandakan dari para pengikutnya. Banyaknya uang itu membuat Kanjeng Dimas Taat Pribadi mampu “membesarkan” padepokan, membeli beberapa mobil mewah, serta membangun akses jalan di lingkungan sekitar padepokan.

Tentu saja, semua ini di luar nalar dan tidak mampu dijangkau oleh logika manusia biasa. Tindakan pengikutnya yang mengarah kepada sebuah tindakan yang tidak menggunakan logika dan penalaran tentulah terdapat faktor yang mempengaruhinya.Salah satu misalnya, kemiskinan yang telah dinikmati sejak lama dan disertai keinginan untuk “cepat kaya” tanpa harus susah payah dalam bekerja tetapi tidak kritis terhadap cara, terlebih penjelasan rasional di baliknya.

Pengikut yang percaya memilih jalan pintas dan praktis, “yang penting uangnya ada”, tetapi luput mempertimbangkan kembali bahwa misalnya uang ituadalah berasal dari hasil penipuan. Akibatnya mereka digerakkan oleh emosi yang sesaat, keinginan untuk cepat kaya dibanding memakai akal rasionalnya untuk memikirkan secara jernih kemampuan Kanjeng Dimas Taat Pribadi.

Sebagai contoh salah satu pengikut Kanjeng Dimas Taat Pribadi mengaku bahwa ia memang berkeinginan untuk memperkaya diri tanpa harus bekerja. Biaya mahar sengaja diberikan kepada Kanjeng Dimas Taat Pribadi dengan harapan uang itu kembali kepadanya dalam jumlah yang berlipat ganda. Namun yang terjadi justru sang pengikut menjadi banyak utang sekarang, uang yang dijanjikan akan berlipat ganda tidak diterima bahkan uang mahar yang diberikan tidak kembali sama sekali.

Dalam konteks ini pengikut tersebut telah menggunakan Intuisi untuk mendapatkan pengetahuan. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang terpusat pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba saja menemukan jawaban atas permasalahan tersebut. Tanpa melalui proses berfikir yang berliku-liku, tiba-tiba saja dia sudah sampai di situ.

Jawaban atas permasalahan yang sedang dipikirkannya muncul dalam benaknya bagaikan kebenaran yang membukakan pintu. Atau bisa juga, intuisi ini bekerja dalam keadaan yang tidak sepenuhnya sadar, artinya jawaban atas suatu permasalahan ditemukan tidak ada waktu orang tersebut secara sadar sedang menggelutnya. Orang tersebut yakin bahwa memang itulah jawaban yang dicarinya namun dia tidak bisa menjelaskan bagaimana caranya dia sampai kesana. Intuisi bersifat personal. Sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur, maka intuisi ini tidak dapat diandalkan.

Fenomena Kanjeng Dimas Taat Pribadi ini juga menunjukkan telah tumpulnya daya kritis masyarakat terhadap tindakan yang Irasional. Suatu hal yang kelihatannya selalu diabaikan dalam masyarakat, yaitu menggunakan daya kritis dalam berpikir dan mempersepsi kejadian yang terjadi di kesehariannya.

Pengabaian pemikiran kritis adalah sama halnya dengan memberi ruang ilmu yang berkarater mitologi mengisi ruang-ruang pengetahuan. Mitologi merepresentasikan segala bentuk kebodohan, pembodohan, irasionalitas, penyelewengan ilmu, dan hegemoni lewat ilmu pengetahuan yang diluar nalar.

Sebagian orang beranggapan bahwa Kanjeng Dimas Taat Pribadi menggunakan metode “hipnotis”, sehingga pengikutnya percaya dan meyakini secara “buta” kemampuannya. Sebagai akibatnya, penjelasan rasional apa pun yang ditawarkan akan sengaja diabaikan dan tak dicoba untuk dipertimbangkan kebenarannya.

Seandainya masyarakat dihadapkan pada fenomena yang tidak wajar, masyarakat harus mempunyai sikap kritis dan ragu-ragu.Sikap kritis harus dibangun sehingga jika ada seseorang  yang menyatakan punya kekuatan super, atau karomah, masyarakat jangan mudah percaya. Sikap skeptis atau ragu-ragu seharusnya dikedepankan demi menajamkan kembali daya kritis khususnya saat dihadapkan pada fenomena “orang sakti” Kanjeng Dimas Taat Pribadi.

Apa yang harus dilakukan agar fenomena yang sama tidak terjadi lagi?

Fenomena Kanjeng Dimas Taat Pribadi barangkali masih ada terdapat di Indonesia, hanya saja belum muncul dan diproses secara hukum. Namun perlu kiranya agar fenomena tersebut tidak terjadi lagi di masa yang akan datang. sehingga masyarakat tidak kembali terjerat dengan fenomena penipuan dengan modus “orang sakti”. Masyarakat jangan terbujuk oleh rayuan “cepat kaya” tanpa bekerja. Yang seharusnya dilakukan adalah bekerja keras sehingga masyarakat tersebut mendapatkan hasil yang lebih. Hasil haruslah berbanding lurus dengan usaha.

Di sisi lain, pemerintah perlu meninjau kembali program pengentasan kemiskinannya. Pemerintah seharusnya tidak membiarkan banyak warga masyarakat terus terbelakang dan miskin, sehingga dengan mudah terjebak dalam penipuan bermodus agama, mistis, dan iming-iming uang.

Selain itu masyarakat harus selalu mengedepankan sikap kritis untuk senantiasa ragu-ragu dan tidak mudah percaya terhadap sesuatu fenomena yang diluar kebiasaan. Disinilah peran pemerintah untuk mempersiapkan dan menyelenggarakan pendidikan kepada seluruh  masyarakat.

Pengetahuan yang diperolah dari pendidikan pada hakikatnya adalah terang cahaya yang membebaskan manusia dari segenap mitos dan tahayyul. Pendidikan dapat menjelaskan secara ilmiah hal-hal mendasar terhadap kehidupan, tak terkecuali dalam upaya membebaskan manusia dari tahayyul/mitos.

Karena itu, hal mendasar yang dapat diterima dari pendidikan adalah diperolehnya tradisi intelektual dan sikap akademis. Yang tentu saja menekankan kepada rasionalitas, hipotesa dan pembuktian, serta segenap sikap kritis masyarakat terhadap segala hal di setiap kehidupannya.(***)

Penulis Adalah Mahasiswa Tata Kelola Pemilu UNAIR Surabaya

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.