Kehangatan di Duri Birokrasi

0
236

Oleh : PUTU FAJAR ARCANA

Daniel cuma tukang kayu. Katie ibu tunggal dua anak tanpa rumah. Keduanya dipertemukan sutradara Ken Loach dalam film “I, Daniel Blake”. Pertemuan itulah yang menghasilkan Palme d’Or, penghargaan tertinggi dalam Festival Film Cannes, Perancis.

Daniel Blake (Dave Johns) lelaki berusia 59 tahun tinggal di Newcastle. Ia dinyatakan dokter sakit jantung. Bahkan, suatu kali Daniel hampir terjatuh di dalam apartemennya yang kecil. Sepeninggal istrinya, tukang kayu ini praktis hidup sendiri. Karena sakitnya yang makin parah, untuk pertama kalinya dalam biografinya hidupnya, ia meminta tunjangan kepada negara. Celakanya, ia harus berhadapan dengan birokrasi para pekerja sosial yang tak mudah. Daniel diharuskan melamar pekerjaan untuk membuktikan bahwa ia sudah tidak mampu lagi bekerja. Di situlah cerita ini mulai melukiskan konflik-konflik yang rumit.

Di tengah usahanya melamar pekerjaan, ia bertemu dengan Katie yang sedang bersitegang dengan beberapa pekerja sosial. Katie tampak lusuh dengan dua anaknya, Daisy (Briana Shann) dan Dylan (Dylan McKiernan). Katie sedang berusaha melarikan diri dari jeratan kamarnya yang kecil dan miskin di London. Bahkan, ia tidak tahu telah menempuh jarak 450 kilometer untuk menuju Newcastle.

Film ini diputar tiga kali dimulai pada Jumat (13/5) di teater kehormatan Festival Film Cannes, Grand Theatre Lumiere, yang terletak di Palais des Festivals, Kota Cannes, gedung utama festival. Pemutaran di Lumiere dikhususkan bagi mereka yang memiliki undangan. Bahkan, ribuan wartawan dari sejumlah negara diwajibkan pula memiliki undangan atau memasuki gedung festival pada detik terakhir.

I, Daniel Blake terakhir diputar Sabtu (14/5) di Salle du Soixantieme, teater yang dibangun khusus untuk Festival Film Cannes. Sebagaimana dua pemutaran sebelumnya, di Salle du Soixantieme, penonton memberikan standing ovation tak kurang dari 5 menit. Itulah salah satu bukti bahwa film ini mendapatkan apresiasi yang tinggi. Benar saja, pada hari ketiga, festival juri yang diketuai George Miller (Australia) telah memberi angka positif sebagaimana dimuat dalam majalah Screen International setiap hari.

Rumit

Konflik yang rumit dibangun Ken Loach dengan membiarkan kedua tokoh utamanya menjalani keseharian mereka. Daniel yang berusaha mengikuti birokrasi agar memperoleh tunjangan dari negara nyaris frustrasi karena harus mengisi biodata dirinya lewat komputer. Sementara ia hanyalah seorang tukang kayu. Loach membiarkan Daniel melakukan kekonyolan dengan menggesekkan mouse pada layar komputer. Bahkan, ia beberapa kali meminta dipandu kepada siapa pun orang di dekatnya untuk mengisi aplikasi lamaran kerja.

I, Daniel Blake
Kena dihantam kelaparan yang mencekam, saat diajak ke bank makanan, diam-diam Katie membuka sebuah kaleng dan memakan isinya secara rakus. Ketika dipergoki petugas, ia makan sembari meneteskan air mata. Suatu waktu, saat berbelanja kebutuhan sehari-hari bagi kedua anaknya, ia mencuri pembalut wanita dari sebuah minimarket. Seorang petugas keamanan yang menangkapnya kemudian memberinya nomor telepon kalau ia membutuhkan uang. Arah alur ini sebenarnya tertebak. Tetapi, saya menunggunya dengan berdebar. Pasti nomor telepon itu sebuah jebakan.

Sementara Daniel berjalan ke sudut-sudut kota untuk melamar pekerjaan sampai melupakan kesehatan dirinya. Ia hanya membawa selembar kertas bertuliskan data dirinya dan semua perusahaan menolaknya mentah-mentah. Sampai suatu hari karena frustrasi, ia melakukan aksi unjuk rasa di sebuah jalan dekat tembok kantor tunjangan sosial. Daniel bahkan menyemprotkan cat di tembok. Meski banyak warga bersimpati, ia kemudian ditangkap.

Pada puncak frustrasi, Katie menelepon seseorang yang kemudian memberinya pekerjaan. Loach menyimpan dengan baik pekerjaan apa yang dilakoni Katie, sampai akhirnya Daniel menemukannya sebagai PSK di sebuah kamar.

Lengkap sudah deraan hidup yang menimpa kedua orang yang tersisih dari gemuruh kemakmuran Inggris. Loach cuma ingin jujur menceritakan biografi orang-orang kecil, yang harus dijamin negara, dengan birokrasi tunjangan sosial yang rumit dan bahkan berduri-duri. Banyak penonton sore itu meneteskan air mata. Saya menahan sesak dalam dada yang diam-diam mendesak. Mungkin bukan lantaran kesedihan semata, tetapi nyatanya masih ada orang-orang yang berhati hangat dan mulia seperti Daniel di tengah kemiskinan yang mencekam. Ia tetap berusaha memberi semangat dan menyelamatkan hidup Katie dan kedua anaknya sampai detik terakhir ia ditemukan terjatuh di toilet sebuah klinik.

Kemenangan I, Daniel Blake di Festival Film Cannes memberi sinyal kuat bahwa film-film bersahaja seperti ini, tetapi disajikan dalam jalinan kisah yang kuat serta bangunan karakter yang matang, yang akan menjadi tren di masa depan. Dan Indonesia punya potensi materi cerita yang berlimpah ruah. Banyak kisah-kisah manusia yang tak kalah dramatisnya dibandingkan kehidupan Daniel dan Katie, yang bisa diterjemahkan ke layar film. Sutradara Joko Anwar, yang datang ke Cannes, membahasakannya, “Kita kekurangan penulis skenario yang kuat.” Jelas sudah masalahnya, bukan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.