Keluarga ini Tinggal di Gubuk 4×3 Meter

0
339

SIMANTAB. COM, Simalungun – Hidup dengan kemiskinan membuat keluarga Erwin Marbun (37) dan Ani boru Hasibuan (37) harus bertahan meski harus tinggal di gubuk berukuran 4×3 meter. Hal ini dilakukan keluarga Erwin bersama 6 anaknya selama tiga tahun terakhir.

Ya, gubuk yang mereka tinggali beada ditengah persawahan. Lokasinya berada di kawasan Tiga Bolon Pane, Nagori Tiga Bolon, Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun. Rumah berdinding tepas usang itu hanya berjarak sekira 70 meter dari jalan raya Sidamanik.

Untuk bisa sampai ke kediaman keluarga Erwin, harus melewati pembatas sawah yang kondisinya licin. Apalagi jika malam, suasana gelap karena tidak ada lampu penerangan atau listrik di sana.

Dalam gubuk yang usianya sekira enam tahun itu, terdapat kamar kecil berukuran 2×2 meter. Antara ruang utama dan kamar itu dipisahkan dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan terlihat sudah usang. Tampak jelas celah-celah bambu dinding itu kian membesar dan mulai lapuk. Sehingga, aktivitas di kamar itu pun terlihat jika dipandang dari ruang utama. Untuk mengatasinya, keluarga ini menempelkan potongan-potongan karung plastik yang tidak terpakai di sana.

Begitu juga dengan dinding luar gubuk mereka. Karung plastik berbagai warna menghiasi sekeliling gubuk yang kondisinya sudah sedikit miring itu. Setidaknya itu bisa menahan dinginnya tiupan angin malam.

Cahaya pada malam hari tak bersahabat dengan keluarga ini. Apalagi jika minyak tanah untuk menghidupkan lampu teplok habis, mereka harus rela bergelap-gelapan. Namun karena sudah terbiasa, semua hal itu tidak lagi menjadi keluhan. “Yang ada hanya menjalani hidup sajalah. Ngapain kita mengeluh. Tapi meski begitu, kami memang selalu mengharapkan adanya bantuan, minimal bedah rumah,” kata Ani membuka cerita, Sabtu (28/1) lalu.

Saat berbicara dengan Metrosiantar.com, Ani duduk di samping sebuah makam yang berjarak 3 meter dari gubuk tersebut. Dikatakan, makam yang dindingnya sedang dipegang Ani saat itu adalah makam mertuanya.

“Siapa yang gak mau hidup layak, semua pasti menginginkan hal itu. Termasuk kami sekeluarga. Setidaknya bisa lebih nyaman untuk masa pertumbuhan keenam anak-anak ini,” ungkapnya,.

Ya, keenam anak-anak mereka semakin hari tumbuh kian besar. Anak pertamanya, kini sudah berusia 13 tahun bernama Sintia Marbun dan duduk di kelas dua SMP. Kemudian Naomi (11) yang kini sudah kelas 1 SMP di Tigabolon. “Anak ketiga adalah Meri Marbun (10) kelas 4 SD, anak keempat Pourledis (8) kelas dua SD, anak kelima Valentina (6) kelas 1 SD dan terakhir Frandi, masih berusia 3 tahun,” tambahnya.

Butuh Bantuan Bedah Rumah

Menurut wanita yang menikah sejak tahun 2003 ini, yang paling utama mereka harapkan adalah bantuan bedah rumah dari pemerintah. Sebab selama ini, iming-iming akan mendapat bantuan bedah rumah selalu mereka dengar.

“Bahkan dulu sudah pernah didata oleh pihak Kecaamatan Sidamanik. Tapi entah kenapa tiba-tiba tak ada lagi kabarnya. Saya dapat infomasi, camatnya diganti. Dulu saya pernah ditanya soal tanah ini. Saya bilang ini milik kami yang diwariskan orangtua. Kami sudah didata, katanya harus dibikin dulu surat tanah semacam SKT. Dan itu juga sudah dilakukan setahu saya melalui bantuan pangulu,” katanya.

Bantuan bedah rumah itu, menurutnya bisa membuat mereka keluar dari gubuk derita. Kenapa gubuk derita? Menurut Ani, setiap hari mereka harus waspada dari kondisi cuaca maupun hewan liar.

“Kami harus terus waspada terhadap binatang, seperti ular atau binatang-binatang yang biasa berkeliaran di persawahan. Sebab dinding rumah kami juga bolong-bolong. Sewaktu-waktu hewan itu bisa saja melintas atau datang, tidak menutup kemungkinan membawa masalah,” ungkapnya.

Yang sering terjadi dan menjadi masalah besar bagi mereka adalah ketika hujan deras turun disertai angin kencang.

“Maka masa istirahat pun menjadi waktu untuk menutup celah hujan atau menghindari percikan air hujan. Kami kan tinggal delapan orang dalam rumah. Jadi ruangan itu sempit. Apalagi jika peralatan, seperti tempat piring, baju atau buku ditempatkan tidak tertata rapi. Jadi himpit-himpitanlah,” kata Ani.

Nah, saat cuaca sedang hujan itu, mereka sekeluarga dipastikan tidak bisa tidur. “Karena lantai pasti basah. Terpaksa semua harus bangun dan menunggu lantai kering. Tapi kalau hujannya lama, palingan kami menumpang tidur ke rumah tetangga yang berjarak 150 meter dari sini,” jelasnya.

Selain kondisi gubuk yang reot itu, keluarga ini juga memiliki kesulitan-kesulitan lain, seperti mendapatkan air bersih untuk mencukupi kebutuhan mereka.

“Kalau urusan mandi, mencuci piring serta mencuci baju, kami mengandalkan air irigasi yang keruh karena bercampur dengan air sawah. Air irigasi itu memang bisa kami ambil tak jauh dari rumah. Tapi kalau air minum, kita minta dari tetangga. Terkadang air hujan itulah yang kita manfaatkan untuk minum. Makanya musim hujan menjadi masa sulit dan masa baik bagi kami. Sulitnya, air hujan membasahi dinding dan lantai gubuk. Sedangkan baiknya, air hujan ditampung untuk kemudian dimanfaatkan menjadi air minum.”

Mengenai urusan kebutuhan sekolah lima dari enam anaknya, Ani mengaku terkadang harus meminjam dari orang yang memercayainnya.

“Pinjaman itu bisa dibayar saat musim menaman dan musim panen. Setidaknya diganti dengan tenaga. Tak kami pungkiri, kami bersyukur dengan adanya perhatian pemerintah melalui bantuan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP),” sebut Ani.

Sebab diakuinya, jumlah penghasilan yang tidak menentu membuat keluarga ini harus pintar mengelola uang. “Kalau bantuan itu datang, saya manfaatkan untuk membeli keperluan sekolah anak-anak, seperti buku. Memang saya juga agak kesulitan membiayai anak-anak sekolah, apalagi ongkos berangkat dan pulang sekolah. “Setiap hari harus ada paling tidak Rp15ribu setiap hari. Belum lagi urusan makan sehari-hari,” terangnya sembari tertunduk.

Sebelumnya, suaminya Erwin mengatakan, untuk menopang hidup ia harus mengolah lahan persawahan seluas 1 rante yang diwarisan orangtuanya beberapa tahun lalu. Namun, hasil panen dari tanaman itu tidaklah dapat diandalkan. Makanya selain bertani, ia juga menjadi buruh tani dengan penghasilan Rp 50 ribu per hari. Itupun buruh musiman.

“Kalau sedang musim panen dan musim menanam, bisalah saya menjadi buruh tani untuk menutupi kebutuhan sehari-hari yang lagi kosong. Tapi kalau sedang tidak musim, saya terkadang mencari ke daerah lain dan meninggalkan anak dan istri. Belakangan ini saja saya sudah agak mendingan, tidak pergi jauh-jauh lagi. Saya menjadi pelayan di salah satu kedai milik keluarga,” kata Erwin.

Untuk urusan makan, lanjutnya, keluarga ini harus bijak mengelola beras yang ada. “Memang tidak terlalu sering takaran makan dikurangi. Tapi ketika kondisi uang kosong, dan tidak bisa beli beras, makan pun harus dikurangi. Termasuk dengan lauk pauk seadanya. Yaitu ikan asin harga murah yang harganya Rp10 ribu seperempat kilogram (2,5 ons, red). Ikan asin itu pun bisa untuk jatah 3 hari. Kalau soal itu, bisalah dikurangi jatah makan. Yang paling penting dan membuat kita waswas setiap malam, adalah hujan dengan angin yang kencang,” ujarnya.

Dikatakan Erwin, ia dan keluarganya tinggal di gubuk itu sejak tiga tahun lalu. “Lebih baik tinggal di gubuk daripada mengontrak rumah. Apalagi kami tak mampu membayar kontrakan. Tapi kalaupun ada uang, ya tak mungkin juga tinggal di sini.”

Erwin menerangkan, dia pernah punya pengalaman saat mengontrak rumah. Katanya, ada dua cara pembayaran sewa rumah kontrakan, yakni dengan uang kontan dan membayar berbentuk adat. Untuk bentuk uang, besaranya sekitar Rp1.800.000.

Sementara pembayaran berbentuk adat, jika ada pesta, maka yang mengontrak rumah harus membayar biaya adat kepada yang mengundang. “Berapa kali ada undangan pesta terhadap yang punya rumah, maka sebanyak itulah harus dibayar. Yang dibayar itu seperti beras, beli ulos dan perbaikan kerusakan rumah tersebut,” jelasnya.

Dan, jika pemilik rumah sewaktu-waktu datang dari perantauan, maka yang punya rumah dengan yang mengontrak terpaksa tinggal secara bersamaan sampai nantinya pemilik rumah kembali lagi ke perantauannya. “Ini yang tidak enaknya. Kita nggak tenang saja. Biar gubuk, tapi nggak ada yang mengatur,” tegasnya. (Sn-03)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.