Kisah Nyata Nek Sare’ah Pelayan Istana Presiden (part 2)

0
897

SIMANTAB.COM – Banyak orang yang berperan dalam perjalan hidup sang Proklamator Ir.Soekarno dalam memperjuangkan agar Indonesia merdeka, baik itu pelayan di istana maupun pejuang yang membantu kemerdekaan. Banyak pula diantaranya masuk daftar pahlawan yang diakui oleh Negara, namun adapula yang namanya terlupakan, salah satunya adalah pelayan istana yang biasa membuatkan bung Karno “Gulai masam” yakni Nek Sare’ah atau biasa dipanggil bung Karno dengan sebutan Ibu panjang.
Banyak orang yang berperan dalam perjalan hidup sang Proklamator Ir.Soekarno dalam memperjuangkan agar Indonesia merdeka, baik itu pelayan di istana maupun pejuang yang membantu kemerdekaan. Banyak pula diantaranya masuk daftar pahlawan yang diakui oleh Negara, namun adapula yang namanya terlupakan, salah satunya adalah pelayan istana yang biasa membuatkan bung Karno “Gulai masam” yakni Nek Sare’ah atau biasa dipanggil bung Karno dengan sebutan Ibu panjang.

Namun seiring berjalannya waktu, memasuki awal hingga akhir tahun 1956. Kehidupan nek Sare’ah yang dulu bahagia terancam berantakan, ketika sang suami yang sangat dia cintai diangkat oleh bung Karno menjadi kepala bagian Logistik pasukan RPKAD, iapun mulai berpaling kelain hati. Bahkan perempuan yang menjadi madu nek Sare’ah tak lain adalah Siwo Minah,pembantu rumah tangganya sendiri, ironi.

“Dulu atok kau tuh sayang kali sama nenek, masuk taon 1956 ketika dia diangkat bung Karno menjadi kepala bagian Logistik, diapun mulai jatuh cinta ke puan lain. Madu nenek tuh namanya Siwo Minah,pembantu rumah tangga yang bekerja sama kami, ancur ati nenek dibuat atok kau tuh” Sebut nek Sare’ah berkaca-kaca.

“Pembantu nenek tuh agak Jontik (baca : genit), banyak laki-laki yang suka samo dio. Ontah apo yang dio pake, ampe atok kau tuh tergila-gila amo dio tuh, ga tahan lagi rasanya, nenek kabur ke pangkalan Berandan, membawa dua anak, si Ali dan si Tasman. Semua barang tinggal, kecuali tas ini hadiah dari ibu Fatmawati” Ujarnya seraya mengenang kemasa kelam ketika dikhianati sang suami.

Sambil bercerita dengan tim Ikatan Wartawan Online (IWO) dia menunjukan potonya semasa di istana Bogor bersama Suaminya Tahmit Subagio dan Putranya Muhammad Ali (almarhum). Bahkan bila rindu dengan keluarga bung Karno, nek Sare’ah memandangi sebuah Tas buatan Mesir, cindera mata dari ibu Fatmawati.

“Ini poto nenek, waktu sama atok kau di Istana bogor. Ini si Ali, dia lahir di istana Bogor tahun 1953, kalo adeknya Tasman lahir di Istana Bogor taon 1955. Kalo nenek takonang samo keluarga Bung Karno, nenek pandangilah poto-poto sama tas ini, terobat jugo rindu ati nenek neh, kalo jumpo kau Nak Guntur, suruhlah dio tengok-tengok nenek yo, Nenek Kasih Kue Kembang Loyang” Tuturnya
Setelah 61 tahun meninggalkan istana presiden dengan kekecewaan karena suami tercinta menikah lagi dengan pembantu rumah tangganya.

Kehidupan nenek Sare’ah berputar 180 derajat celsius. Akhir tahun 1956, Sang pelayan istana ini kembali ke kampung halamannya di Linkungan Bahari, Jalan Babalan, Kelurahan Berandan timur.Sesampai dinegri leluhur,justru tak mengubah apapun. “Nasi sudah jadi bubur” Katanya.

Faktanya, walau telah menikah lagi dengan pegawai syahbandar di Berandan, kehidupan nek sare’ah tak semanis ketika berada di Lingkungan Istana, dimana Bung Karno dan Putranya Muhammad Guntur Soekarno Putra selalu memperhatikanya.

Dinegri tumpah darahnya ini (baca : berandan-red), kehidupan sang pembuat “gulai masam dan kembang loyang” kesukaan Bung Karno itu berlarut-larut di bawah garis kemiskinan, Apalagi membesarkan anak yang lahir di lingkungan istana presiden tanpa mendapatkan gaji pensiunan suami dari negara.

Bahkan sempat terlintas dibenak keluarganya untuk melelang Tas berusia 70 tahun saat ini, pemberian Ibu Fatmawati yang dia bawa dari Istana untuk sekedar penyambung hidup di kampung halaman.

“Iya, maklumlah, nek sare’ah tinggal sama anaknya Tasmin yang hidup sebagai nelayan tumpangan. Miskin papa, kalo uak Tasmin ga melaut ga ada untuk pembeli beras, aku berharap IWO mampu meberikan sedikit informasi ke keluarga pak Soekarno di jakarta, siapa tau pak Guntur membaca berita ini, tergugah hatinya untuk menjenguk ibu panjangnya yang merawat dia kala masih kecil dulu” Sebut Muslim Yusuf, salah satu kerabat nek Sare’ah penuh harap. (bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.