Kisah Nyata Nek Sare’ah Pelayan Istana Presiden

0
1574

Simantab.com – Tak banyak yang tahu siapa nenek Sare’ah, perempuan kelahiran 1907 atau berusia satu abad lebih ini ternyata adalah istri dari seorang prajurit Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). Seorang prajurit terlatih yang ditugaskan presiden Soekarno sebagai penyedia logistik bagi pasukan elite penjaga lambang negara

Sebagai seorang istri abdi negara, terdapat sebuah kisah mengharu biru kala ia mengenang saat-saat dekat dengan presiden pertama RI Ir.Soekarno atau yang akrab disapa rakyatnya dengan panggilan Bung Karno.

Dulu, kata nek Sare’ah kepada tim Ikatan Wartawan Online (IWO), bung Karno dan putra sulungnya Muhammad Guntur Soekarno Putra selalu memanggil dirinya dengan sebutan ibu panjang selalu menanyakan ‘saya masak sayur apa hari ini’.

“Bung Karno, selalu bertanya sama nenek masak apa hari ini, begitu pula nak Guntur, dia kecilnya cukup bandal dan suka mencagili (jahili-red). Tapi keduanya suka gulai asam buatan nenek, kalo mereka berdua datang kerumah selalu langsung ke dapur dan makan tanpa sungkan-sungkan. Nenek rindu nak Guntur, dimana dia sekarang ?” Ujar Nek Sare’ah mengenang sembari bercucuran air mata.

Meski menyandang status sebagai mantan pelayan istana dan istri dari prajurit elit RPKAD, tak membuat masa tua nenek yang tinggal menghabiskan masa tuanya di jalan Bahari, Pangkalan Berandan ini berkecukupan. Buktinya, hingga saat ini, wanita renta itu hanya hidup dalam kemiskinan dan bantuan dari handai taulan dikampungnya.

“Tak ada bantuan apapun dari pemerintah buat nenek nak, biarlah. Bagi nenek semua akan terobati bila nenek dapat bertemu sama nak Guntur !! Guntur,,Guntur,,Guntur,,ini ibu panjang nak”Sebutnya dengan isak tangis semakin deras.

Nenek Sare’ah kemudian menceritakan kisah hidupnya yang dulu bahagia di keluarga Bung Karno di Istana Negara berakhir tragis ketika suaminya yang seorang prajurit para Komando menikahi pembantu rumahnya. Namun ketika ditanya lebih jauh siapa nama suami dan madunya tersebut ? sinenek hanya mendonga, gerahamnya bergemeretak tanda ketidaksukaan saat IWO meminta nama kedua orang yang telah membuatnya menderita.

“Jangan sebut nama itu, nenek tidak suka, itu tahun 1965, tahun yang pahit buat nenek” Sergahnya.

Sejurus kemudian, nenek Sare’ah menambahkan ceritanya, akibat suaminya tercinta yang telah memberinya dua anak bernama Muhammad Ali dan Tasman itu menikahi pembantu rumah tangganya. Sang nenek kembali ke kampung halamnya di Pangkalan Berandan.

Sesampai dikampung halamanya, setahun kemudian nenek Sare’ah kembali menikah dengan seorang petugas Syahbandar di Pangkalan Berandan. (bersambung minggu depan,,,)…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.