Kisah Pilu si Penyemir Cilik

0
196

SIMANTAB.COM, Pematangsiantar- Masa kecil adalah masa belajar dan bermain dengan teman-teman. Namun tidak untuk Jaksen Binyamin Sirait (11), warga Jalan Kertas Sampul, Kecamatan Siantar Timur. Demi menghidupi keluarganya, sepulang sekolah, ia terpaksa menjadi tukang semir keliling.

Bermodalkan perlengkapan semir seadanya, Jaksen tampak sudah terbiasa dengan profesi yang kini menjadi kewajiban. Rasa letih dan malu, seperti sudah habis dilunak target pendapatan yang harus ia bawa pulang.

Setiap harinya, anak ke tiga dari empat bersaudara ini berjalan kaki menyusuri kota berslogan Sapangambei Manoktok Hitei. Kedai-kedai kopi menjadi tempat favoritnya menawarkan jasa pembersihan sepatu.
“Udah tiga tahun aku jadi tukang semir, bang,” ujarnya, duduk di lantai, sembari membersihkan sepatu hitam salah satu pelanggaan kedai kopi.

Sebelum ayahnya meninggal dunia, bocah berkulit putih ini mengaku kalau ekonomi keluarganya sangat cukup. Namun seketika buyar, dan memaksa mereka harus meninggalkan rumah kontrakan terdahulu. Beruntung, ada Pendeta GBI, tempat ia dan keluarganya beribadah, memberi tumpangan tempat tinggal, hingga saat ini.
“Kami dikasih tinggal di tempat kost Amang Pendeta, sekalian menjaga kost itu. Di situ Mamak juga berjualan,” akunya, tanpa malu.

Selama menjadi tukang semir keliling, Bocah yang bercita-cita jadi Pemimpin ini, mengalami kisah yang cukup tragis. Dituduh mencuri dan menjadi korban tabrak lari, sudah biasa ia alami. Namun hal itu tak pernah sampai ke ibunnya, dengan alasan taku kalau sang ibu khawatir dan tidak mengijinkannya bekerja lagi.

Hal yang paling tidak ia lupakan adalah, peristiwa tabrak lari yang terjadi di Jalan Merdeka, tepatnya di depan Kantor Walikota. Saat itu, hari sangat terik, dan kondisi jalanan tidak begitu ramai. Ketika langkah kecilnya sampai di bahu jalan, dengan kencang pengendara sepedamotor langsung menabraknya. Seketika ia terdorong hingga beberapa meter ke depan. Sementara si pengendara melaju kencang meninggalkannya yang masih terbaring. Peralatan semir berhamburan di jalan. Tidak satu orangpun menolongnya. Hanya menonton dan berlalu seperti tidak peduli melihat bocah polos ini penuh dengan luka.

Jaksen pun menepi, setelah memungut semua peratan semir yang dibeli ibunya. Rasa perih tetap tidak mematahkan semangatnya mencari pemilik sepatu yang ingin memakai jasanya.

Untuk menghentikan darah yang mulai mencucur di kakinya, ia pun mengambil rumput di sekitarnya, dikunyah, lalu ditempel ke bagian luka.
“Yang penting mamak nggak tau, mangkanya cepat-cepat kuobati sendiri,” kenangnya.

Setiap harinya, uang yang bisa ia bawa ke rumah berfariasi. Jika keberuntungan berpihak, ia bisa membawa Rp 30ribu. Namun jika situasi sepi, ia bisa membawa Rp 20ribu bahkan tidak ada sama sekali.

Begitulah kegiatan Jaksen setiap harinya. Ia berharap, kelak nasibnya bisa berubah ke arah yang lebih baik. (Wan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.