Pengakuan Dirman, Pendulang Emas yang Masuk Terowongan Pabrik Es Siantar

0
542

SIMANTAB.COM, Pematangsiantar – Menelisik mengenai bunker yang berada di Sungai Bah Bolon, Jalan Diponegoro, Kelurahan Simalungun, Siantar Selatan, Kota Pematangsiantar, banyak misteri yang masih tersimpan di dalam bunker peninggalan Kolonial Belanda itu.

Dirman Butarbutar, salah satu saksi mata yang pernah masuk ke bunker peninggalan Kolonial Belanda tersebut menceritakan pengalamannya kepada simantab.com. Bersama empat temannya, Ia masuk ke dalam bungker yang menurutnya sangat mengerikan. Untuk masuk ke bunker rahasia, ia masuk melalui pintu yang ada di aliran Sungai Bah Bolon, tepat berada di bawah jembatan Jalan Diponogoro.

Dari sana, pria yang kini berusia 60 tahun ini menceritakan pintu masuk ditutup dengan besi jerjak besar dan di lapis ke dua pintu berbentu lempengan dipasang.

“Dulu belum dipasang gembok, kita bisa masuk. Saat itu air sedang surut karena pabrik es sedang rusak,” kata pria yang kesehariannya menjadi pencari emas tersebut.

Dilanjutkannya, setelah masuk ke pintu, ia bersama rekan-rekannya harus menuruni anak tangga hingga kedalaman 3-4 meter, dari sana ia mulai mencari tahu apa isi bunker peninggalan Belanda. Setelah menelusuri beberapa meter lorong berbentuk setengah lingkaran itu, ia melihat ada pintu besi yang diduga adalah kamar atau gudang untuk penyimpanan. Sayangnya, pintu terbuat dari besi itu tak dapat dibuka.

“Pintu gak bisa dibuka karena di gembok dengan gebok zaman dulu, itu kami lihat ada sekitar 4 kamar, ada juga gang-gang kecil ukuran 1 sampai 1,5 meter lebarnya. Waktu itu karena peralatan kami hanya senter kami enggak berani masuk lebih dalam,” kata ayah 4 anak ini.

Diceritakan pria dengan perawakan kurus berkumis putih ini, lorong setengah lingkaran itu memiliki diameter sekitar 5 meter serta terdapat banyak tulisan seperti tulisan Bahasa Belanda. Namun, karena kondisi gelap dan oksigen yang tipis membuat perjalanan mereka hanya mampu menelusuri sekitar 100 meter.

“Sekitar 6 atau 7 tahun yang lalu kami masuk, di dalam sangat lembab dan gelap, cahaya penerangan kami hanya bisa menembus 10 meter, itupun kami harus balik lagi karena fisik kami  merasa sudah tak sanggup, kawanku saja sampai keluar darah  dari dari kupingnya karena nggak sanggup lagi,” terangnya saat ditemui di salah satu warung tak jauh dari Sungai Bah Bolon.

Ia senpat membawa beberapa benda yang dianggapnya oleh-oleh. Ia membawa beberapa proyektil peluru yang jumlahnya hampir  satu karung. Ia juga membawa selongsong peluru meriam yang diameternya sekitar 15 centimeter.

“Karena pelurunya keropos kami jual sama tukang botot (barang bekas, red) semua. Yang tinggal di rumah cuma selongsong meriam itu. Aku yakin, masih banyak peninggalan Belanda di dalam sana (bunker, red). Peluru yang kami dapat itu ukurannya beda sama yang sekarang, peluru itu lebih panjang dan lebih berat,” cerita saksi mata ini kepada Simantab.com. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.