Pengincar Kursi Walikota Siantar Itu “Dikuliti”

0
419
Ir Alpeda Sinaga dalam ngobrol santai soal Siantar

SIMANTAB.COM, Pematangsiantar – Pilkada Kota Pematangsiantar memang masih lama lagi, namun kursi yang sedang diduduki Hefriansyah Noor itu sudah mulai digoyang. Tidak main-main, penggoyangnya, Ir Alpeda Sinaga, sudah mampu mengumpulkan kalangan elit kota ini. Walau demikian, secara umum dia malah terkesan “dikuliti” dalam ngobrol santai di Hotel Grand Palm Jl MH Sitorus, Sabtu (09/02/2019).

“Betulnya Alpeda seorang pemain? Jika betul tunjukkanlah. Pengalaman selama ini, calon walikota yang berhasil di sini adalah yang “gila”. Beberapa kali pemenangnya justru yang kwalitas pendidikannya diragukan, tapi mereka memang “gila” dalam permainan,” serang seorang pemerhati generasi milenial Siantar, Bongsu Pakpahan.

Tidak hanya dari Bongsu, seorang pegiat demokrasi Kota Pematangsiantar, Rocky Marbun malah lebih terbuka lagi. Menurut sosok yang juga pengurus Partai Demokrat ini, uang sangat berpengaruh dalam menjadikan kota Siantar jadi kota yang menyenangkan.

“Mudah itu pak. Bawalah uangmu ke Siantar Rp 8 atau Rp 10 triliun maka senanglah semua warga Siantar ini. Kalau itu sudah ada, bereslah semua persoalan di Kota Siantar ini,” ujar Rocky.

Mendapat kritikan itu, Alpeda terlihat beberapa kali tersenyum dan tertawa. Sesekali wajah pria berkulit putih itu merah merona.

Masih terkesan mengukur kemampuan Alpeda, Ketua MPD BKPRMI Siantar Zaianul, lebih menekankan cara apa yang bisa dilakukan untuk merubah psikologi politik di Siantar.

“Mau siapaun, Caleg atau Calon Walikota Pematangsiantar harus mampu merubah psikologi politik di sini. Kalau itu sudah diperbaiki, maka bisalah kita bicara demokrasi yang ideal. Jika belum, cara-cara lama itu masih lebih berpeluang,” ungkap Zainul.

Merespon semua masukan dalam ngobrol santai yang digagasi Tim Cakap-Cakap Siantar itu, Alpeda mengatakan semua berupa masukan berharga untuk bekal dirinya dalam panggung politik di Pematangsiantar.

‘Sebagai orang yang lahir di kota ini saya tak mau kota ini dikenal hanya Jl Merdeka dan Jl Sutomo saja. Semua masukan dan kritik dari saudara-saudara saya akan saya jadikan bahan berharga. Saya datang ingin terlibat aktif. Jika diijinkan, saya akan ikut dalam Pemilihan Walikota Pematangsiantar yang akan datang,” ungkap Alpeda.

Selain kritik pedas, beberapa masukan membangung juga disampaikan. Salah satunya dari Dr Robert Tua Siregar, dosen di salah satu universitas swasta.

“Membangun kota ini perlu kajian ilmiah. Salah satunya soal topografi. Dengan kondisi ini, tidak mungkin Siantar jadi sektor pertanian dan industri. Namum sangat cocok sebagai kota perdagangan, kota pendidikan, jasa dan pariwisata. Siapa pun yang ingin membangun kota ini, hal di atas patut dipertimbankan,” ujar Robert.

Dalam ngobrol santai itu, masukan dan kritik yang mencuat terlihat seperti gelombangan keresahan. Disimpulkan, keresahan itu bermula dari parktik suap yang sudah mengakar kuat dari segala bidang.

“Saya perhatikan semuanya ungkapkan keresahan. Keresahan ini tidak lepas dari kebiasaan memberikan uang. Jika praktik ini masih terus ada, keresahan ini ya akan selalu ada. Untuk itu, marilah kita mulai dalam segala sesuatu hal kita laksanakan tanpa mengharapkan uang,” ajak mantan anggota DPRD Simalungun, Piliaman Simarmata.

 

Red

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.