Sutan Bathoegana Menderita Kangker Hati, Kondisinya Kurus dan Lemah

0
175

SIMANTAB.COM – Sutan Bathoegana saat ini dirawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta dikarenakan menderita sakit kangker hati, Selasa (11/10/2016).

Mantan Ketua Komisi VII DPR RI yang terkenal dengan ucapannya “ngeri-ngeri sedap” ini masih mendapatkan perawatan medis secara intesif dari pihak rumah sakit. Selain itu, terpidana korupsi pembahasan APBN 2013 di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral itu harus dikawal dua anggota Polsuspas Sukamiskin Kelas I.

Penjagaan itu dilakukan secara bergantian setiap harinya. “Jadi digilir atau dishift. Tapi sifat penjagaan tertutup. Penjaga tidak pakai pakaian dinas,” kata Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Sukamiskin Bandung, Dedy Handoko, seperti yang dilansir medan.tribun.com.

Dedy mengatakan, penjagaan akan terus dilakukan sampai Sutan diperbolehkan dokter kembali ke selnya.

Sebelumnya, kata dia, eks politisi Partai Demokrat itu dirawat di Rumah Sakit Hermina Arcamanik karena sakitnya tersebut.

“Dia dirujuk ke RS Medistra setelah kondisinya semakin memburuk,” ujar Dedy.

Adapun alasan dibawa ke RS Medistra, kata Dedy, merupakan rekomendasi dokter. Selain rekomendasi dokter, terdapat dokter yang dipercaya Sutan untuk merawat dan mengobati penyakitnya.

“Sampai sekarang yang bersangkutan masih dirawat,” kata Dedy.

Diakui jika tidak ada pembatasan waktu perawatan mantan politisi Partai Demokrat itu. “Jadi dirawat sampai sembuh atau sudah diperbolehkan dokter kembali ke lapas,” kata Dedy.

Dedy mengaku sempat menjenguk Sutan di Rumah Sakit Hermina Arcamanik pada 10 Oktober 2016. “Waktu itu yang bersangkutan kondisinya sudah lemah dan kurus,” kata Dedy.

Sehingga harus dirawat di rumah sakit. Kondisi tersebut membuat Sutan harus dirawat di RS Medistra Jakarta.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaku prihatin dengan kondisi Bathoegana.

“Kami turut prihatin dengan keadaan kesehatan Pak Sutan dan kami tentu berharap yang bersangkutan segera lekas sembuh,” kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK, Priharsa Nugraha.

Priharsa menegaskan Sutan kini ditahan di Lapas Sukamiskin sehingga bukan lagi kewenangan KPK

“Kalau sudah dieksekusi (vonis) itu masuk kewenangan kemenkumham lewat Ditjen Pas (pemasyarakatan),” tukas Priharsa.

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta pada tahun 2015 memvonis Sutan pidana 10 tahun penjara.

Vonis tersebut lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntut umum yakni 11 tahun penjara.

Hukuman itu dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi DKI Jakarta pada Desember 2015.

Di tingkat kasasi, Mahkamah Agung akhirnya memperberat hukuman penjara selama 12 tahun dan mencabut hak Sutan untuk dipilih sebagai pejabat publik.

“Diberikan hukuman tambahan, berupa pencabutan hak untuk dipilih, untuk menjadi pejabat publik,” ujar Juru Bicara Mahkamah Agung Suhadi.

Selain dicabut hak pollitiknya, Sutan juga dikenai denda Rp 500 juta, subsider 8 bulan penjara.

Sekadar informasi, Sutan mendekam di Lapas Sukamiskin untuk menjalani masa hukumannya. Ia divonis 12 tahun penjara setelah Mahkamah Agung memperberat hukumannya.

Sebelumnya Sutan divonis 10 tahun atas kasus korupsi yang menjeratnya. Sutan masuk ke Lapas Sukamiskin pada Kamis, 26 Mei 2016. (Sn-07)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.