Takut OTT Pungli, Pegawai Dishub Tutup Timbangan dan Nangis

1
446

SIMANTAB.COM, Medan – Operasi Tangkap Tangan yang dilakukan Polda Sumut terutama untuk Timbangan – Timbangan di wilayah Sumut ternyata menimbulkan ketakutan di kalangan pegawai Dishub.

Bonar Simanjuntak, pegawai Pelaksana penimbang kendaraan bermotor (UPPKB) Tanjung Morawa meneteskan air mata dihadapan anggota DPRD Sumut Sutrisno Pangaribuan.

Ia mengaku kepada Sutrisno tidak tenang dalam bekerja. Setelah operasi tangkap tangan di jembatan timbang Sibolangit, satu pekan lalu, ia jadi waswas bekerja. Apalagi, tidak ada pimpinan yang pasang badan alias memperhatikan pegawainya.

Bonar menangis, tak lama setelah Sutrisno menanya alasan tak beroperasinya jembatan timbang.

Awalnya, ia hanya duduk terdiam, tak mengeluarkan satu kata pun. Namun, mendadak, Bonar bangkit dari tempat duduk sembari memperlihatkan berbagai aturan yang menurutnya memberatkan pegawai. Satu di antaranya setiap petugas piket wajib menjaga aset dan tidak boleh mengutip pungli.

“Kami dilema yang orang bawahan ini, kami orang kecil yang ditangkap. Mengapa orang besar enggak ditangkap? Kami di sisi orang tak punya, kami punya keluarga, anak dan istri,” ujarnya di hadapan Sutrisno yang melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke UPPKB Tanjungmorawa I, Kamis (27/10/2016) siang seperti dikutip dari tribunmedan.com.

Bonar bersama rekan-rekannya menutup jembatan timbang, karena khawatir ada penggerebekan susulan. Apalagi, PNS yang ketangkap pungli akan dipecat, sehingga tak dapat pensiunan.

“Kalau kami ketangkap dipecat dari PNS. Apa enggak takut kami itu? Seharusnya jangan gitulah, pimpinan harusnya pasang badan kepada kami. Jika kami dipecat nanti enggak ada peduli, sama kami. Seharusnya enggak boleh demikian,” katanya sembari mengusap air mata.
Setelah mendengar penjelas itu, Sutrisno mendekat dan memeluknya.
“Waktu kejadian di Sibolangit itu, uang perdapun diangkat polisi, uang kawan kami itu di kantong celanapun dirogoh. Apalagi mereka bawa senjata pasti takut kami. Kayak teroris waktu ditangkap itu, bawa-bawa senjata,” ujarnya.

“Justru masalah ini, kami jadi dilema, kami punya keluarga Pak, kami punya anak dan istri. Saya binggung memikirkan anak istri saya. Cemana mereka kalau kami ditangkap polisi. Ya, udalah, enggak apa-apa, tak usah kami kerja. Ngapain kerja kalau ujung-ujungnya ditangkap polisi,” tambahnya.

Ia menyampaikan, sebagai pekerja jembatan timbang sering bekerja hingga tengah malam. Karena itu, ia merasa sedih bila ada intimidasi.

“Kami kerja malam-malam taruhan nyawa, demi perjuangkan anak dan istri. Kami hanya bicara sama Bapak sebagai anggota dewan untuk minta perlindungan,” ujarnya. (SN-01)

 

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.