Tidak Ditemukan Kasus Vaksin Palsu di Simalungun

0
215
Dr Jan Maurisdo Purba

SIMANTAB.COM, Raya – Dinas Kesehatan Simalungun memastikan tidak ada vaksin palsu yang beredar di Kabupaten tersebut, sebagaimana kasus vaksin palsu yang tengah menjadi isu hangat di beberapa daerah di tanah air.

Dr Jan Maurisdo, Kepala Dinas Kesehatan Simalungun mengatakan, kasus vaksin palsu yang menjadi temuan menggegerkan di sejumlah wilayah di tanah air beberapa waktu terakhir, sama sekali tidak berdampak di Simallungun. Setidaknya, hingga hari ini. “Oh, belum ada (temuan vaksin palsu) di daerah kita,” jelas Jan Maurisdo, saat dihubungi via telepon dari Pamatangraya, Senin (27/06/2016) siang ini.

Menurut dokter yang akrab dengan panggilan dokter koteng ini juga mengatakan, Dinas Kesehatan, tepatnya bagian farmasi dalam beberapa hari terakhir memang tengah menunggu kiriman vaksin dari Dinas Kesehatan Provinsi. Ini berarti, kata dia, tidak ada sisa stock vaksin di gudang farmasi. Dia mengatakan, kondisi ini terjadi, karena pengadaan vaksin untuk Dinas tersebut adalah kewenangan pemerintah Provinsi Sumut.

“Biasanya, vaksin yang ada di kita itu ada bermacam-macam. Ada vaksin Hepatitis A dan B, Polio, vaksin campak, PVC, HPV dan lain-lain. Dan, kemarin-kemarin juga, tidak ada temuan yang palsu,” jelasnya. (Baca : Ini Tanda Balita Terkena Vaksin Palsu) Meski belum ada kasus temuan, dr Koteng memastikan, pihaknya akan meningkatkan kewaspadaan, dengan melakukan pengawasan ketat terhadap vaksin-vaksin yang nantinya akan dikirim ke Tanoh Haboranon do Bona ini.

Lima Merk Vaksin yang Sering Dipalsukan

Sementara itu, Kementerian Kesehatan RI menyebutkan, ada 5 merek dagang vaksin yang sering menjadi sasaran pemalsuan vaksin. Ke lima merek itu antara lain; Vaksin Tuberkulin, Pediacel, Tripacel, Havrix, dan Biocef.  Menurut Direktur Pengawasan Produksi Produk Terapeutik dan PKRT, Togi Hutadjulu, kemungkinan para pemalsu vaksin ini mendapat botol dengan nama yang mirip dari limbah yang kemudian diisi lagi dengan produk atau cairan yang tidak sesuai dengan penandaannya.

“Kemungkinan pemalsu vaksin ini mendapatkan botol-botol yang diperoleh dari limbah. Vial-vial yang sudah dipakai, dibuang, dan seharusnya memang ada mekanisme dan prosedur bagaimana pemusnahan kemasan pakai sehingga tidak dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab,” kata Togi pekan lalu.(Win)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.