Tragis, Bocah 13 Tahun Diperkosa Paman Berkali-kali, Disiksa Istri Polisi, Pengaduan ‘Jalan di Tempat’

1
486

SIMANTAB.COM, Pematangsiantar – Seorang remaja yang masih berusia 13 tahun harus menerima kenyataan pahit dalam hidupnya. Usai diperkosa pamannya, remaja ini disiksa oleh istri seorang polisi. Malangnya, pengaduan derita gadis belia ini tak pernah ditanggapi pihak kepolisian.

Dengan wajah takut dan rasa trauma, R gadis belia asal Huta Pokan Baru, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun ini, mendatangi Dinas Kesehatan Kota Pematangsiantar bersama guru sekolahnya serta kepala sekolahnya, dengan harapan mendapatkan pertolongan atas derita yang dialaminya selama beberapa tahun terakhir.

Dengan rasa takut, R sedikit bercerita mengenai kisah pahitnya, berawal sebelum tahun 2013 silam, keluarga R berantakan, ayah dan ibunya berpisah, selanjutnya R tinggal bersama ayahnya. Namun, kesendirian ayahnya membuat ayah kandungnya memutuskan untuk menikah lagi.

Memiliki sesosok ibu tak seindah yang ia bayangkan. Mulanya, ibunya selalu berbuat baik kepadanya, namun lama kelamaan ibu tirinya mulai bersikap kejam kepadanya hingga akhirnya ia mendapatkan penyiksaan dan pada Tahun 2013 silam keluarganya yang diketahui bermarga Panjaitan membawa R ke rumah pamannya yang bermarga Pardede di Marihat Lambau, Kota Pematangsiantar.

Saat itu, R masih berusia sekitar 10 tahun. Suatu hari, tanpa disadarinya paman yang seharusnya menjadi tempat untuk perlindungannya malah merusak hidupnya. R diperkosa pamannya di ruang tamu saat rumah dalam keadaan sepi. Saat itu, R diancam akan dibunuh bila menceritakan kejadian yang dialaminya.

Beberapa hari berselang, Pardede yang merasa aman atas perbuatannya, mengulanginya lagi hingga lima kali. R sendiri merasa trauma atas kejadian itu hingga akhirnya ia tidak tahan atas kejadian tersebut dan menceritakan kejadian itu ke teman sekelasnya hingga akhirnya kejadian itu diketahui pihak sekolah.

“Pertama kali aku diperkosa di ruang TV. Waktu itu dia menutup mulutku pakai tangannya. Setelah di ruang TV, amang boru memperkosa aku di kamar belakang,
dua kali di kandang babi, dan kelima waktu di sawah, “ucap gadis belia ini dengan nada pelan bahkan nyaris tidak terdengar.

Karena tak tahan, R akhirnya bercerita pada teman satu sekolahnya di salah satu SD di Marihat Lambau. Mendengarkan cerita itu, teman korban kemudian menceritakan hal itu kepada gurunya yang selanjutnya membuat pengaduan ke Mapolres Siantar.
Sayangnya, entah apa alasannya, penyidik di Polres Siantar belum menangani pengaduan itu.

Setelah terbongkarnya kisah pemerkosaan itu, S boru S, guru sekolah R yang merupakan istri seorang polisi di Polres Siantar kemudian mengajak R tinggal di rumahnya di Simpang Muni Harapan Jawa II, Nagori Marubun Jaya, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun.

Diajak tinggal di rumah guru sekolahnya, R merasa hidupnya aman. Ibaratkan, keluar dari kandang harimau masuk ke kandang buaya, kisah pahit R masih berlanjut. Bersama S boru S, R dipaksa untuk melakukan semua tugas rumah tangga, bahkan ia juga dipaksa membersihkan ladang kakao milik S boru S.

Bila ada kesalahan sedikit saja dilakukan R, pemilik rumah yang sebelumnya dianggap dewi penolong itu menyiksanya hingga berkali-kali. Bahkan, ia pernah dipukul menggunakan kayu berpaku dan kepalanya dipukul dengan menggunakan gelas.

“Asal kerjaan gak beres, namboru (S boru S) marah dan memukuli aku. Kadang dicubit, dipukul pake kayu yang berpaku, dan pernah dipecahkannya gelas di kepalaku,”jelasnya seperti yang dilansir jurnalsiantar.net Senin (10/10/2016).

Sahrul Panjaitan yang merupakan guru kelasnya menambahkan, sejak awal tinggal di rumah S boru S, dia sudah kasihan melihat penderitaan R. Soalnya, setiap hari usai membersihkan ladang coklat milik S boru S, dia melihat R melintas di depan rumahnya dengan keadaan sangat kelelahan.

Karena iba, suatu hari Sahrul Panjaitan pernah mencoba mengantarkan R pulang ke rumah S boru S dengan menggunakan sepedamotornya. Namun, sekira 100 meter dari rumah S boru S, remaja itu minta diturunkan karena takut dimarahi.

“Karena kasihan, aku pernah memboncengnya pake kereta ku, tapi sekitar 100 meter dari rumahnya, dia minta turun. Katanya dia takut ketahuan diantar dan takut dipukuli oleh S boru S, “ucap guru olah raga di SD 091520 Pagar Jawa, Nagori Marubun Jawa, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simungun ini.

Mengetahui penyiksaan yang dialami remaja usia 13 tahun itu, maka Sahrul Panjaitan pun membawa R tinggal di rumahnya di Simpang Muni Harapan Jawa I, Nagori Marubun Jaya, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun.

Selanjutnya, Sahrul Panjaitan memindahkan R ke sekolahnya dan selanjutnya pada 23 September 2016 kemarin, dia bersama guru-guru dan Kepala Sekolahnya Jasper Panjaitan mengadukan tindakan penganiayaan itu ke Polres Simalungun.

Sayangnya, ucap Sahrul, meskipun sampai saat ini bekas penganiayaan itu masih tampak di tubuh R, petugas kepolisian di Polres Simalungun berdalih kalau hasil visumnya negatif hingga tak menangani kasus penganiayaan yang dialami R itu.

Parahnya, ucap Sahrul, salah satu penyidik di Polres Simalungun meminta agar Sahrul tak sakit hati kalau mereka tak akan menahan S boru S lantaran merupakan istri seorang polisi.

Dia menyesalkan sikap petugas di Polres Siantar yang tak menangani kasus pemerkosaan dan Polres Simalungun yang hingga kini tak menangani kasus penganiayaan yang dialami gadis belia ini. (Sn-04)

1 COMMENT

  1. Kalau berita ini benar, saya dari kantor pengacara mangaturnainggolan.com siap menjadi kuasa hukum korban agar masalah ini tuntas dan pelaku dapat dimintai pertanggungjawaban secara hukum. Jika ada yg perlu dikonsultasikan terkait tdk tuntasnya laporan polisi dimaksud, dapat menghubungi kami di 081398941976. Terimakasih MANGATUR NAINGGOLAN/ putera dari Afdeling XI Nagori Bah Jambi III Kec. Tanah Jawa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.