Program MBG juga memberi dampak pada ekonomi lokal. Setiap dapur diarahkan bekerja sama dengan UMKM, petani, dan peternak setempat.
Simalungun|Simantab — Suara bising kompor, aroma rempah, dan tawa anak-anak sekolah bercampur di sebuah dapur sederhana. Pemandangan ini menjadi bagian dari pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah pusat di Kabupaten Simalungun. Program ini tidak hanya membagikan makanan, tetapi juga menggerakkan nutrisi dan ekonomi lokal.
Sebagai salah satu pionir, Simalungun telah memiliki tiga dapur operasional di Kecamatan Sondi Raya, Siantar, dan Pematang Bandar. Koordinator Wilayah Balai Gizi Nasional Kabupaten Simalungun, Debora Purba, menyebutkan bahwa target tahun ini adalah delapan dapur gizi. Percontohan pertama terdapat di Rambung Merah, Kecamatan Siantar, yang mulai beroperasi sejak 19 Mei lalu.
Ia mengatakan pada 1 September mendatang akan dioperasikan tiga dapur tambahan, dan saat ini masih dilakukan pendataan dua titik lain di wilayah tertinggal di pinggiran Simalungun. Menurutnya, kualitas bahan baku menjadi prioritas utama meski harganya lebih tinggi dari pasar. Setiap menu disusun ahli gizi dengan siklus sepuluh hari agar kebutuhan karbohidrat dan protein anak terpenuhi sesuai takaran.
Debora menambahkan, dapur di Sondi melayani tiga sekolah dengan dua ribu hingga tiga ribu penerima manfaat. Dari tiga dapur yang sudah beroperasi, belum ada yang mencapai kapasitas maksimal tiga ribu penerima. Targetnya, jumlah itu akan bertahap ditingkatkan hingga empat ribu penerima agar potensi kendala bisa diatasi lebih awal. Dapur Rambung Merah sendiri melayani sebelas sekolah dengan lebih dari dua ribu lima ratus penerima, sementara total sekolah yang terlayani saat ini berjumlah delapan belas.
Pemberdayaan Masyarakat Lokal dan Tantangan yang Ada
Program MBG juga memberi dampak pada ekonomi lokal. Setiap dapur diarahkan bekerja sama dengan UMKM, petani, dan peternak setempat. Namun, tantangan tetap ada, terutama ketersediaan bahan baku. Beberapa jenis bahan, seperti ikan dori, harus didatangkan dari luar Simalungun. Hal ini berisiko karena kualitas tidak selalu terjamin saat tiba di lokasi.
Indeks harga bahan baku juga menjadi kendala. Meski demikian, kualitas tetap diutamakan untuk menjaga keberlanjutan program. Debora menegaskan, koordinasi terus dilakukan dengan seluruh dapur agar mutu makanan terjaga.
Menjangkau Daerah 3T dan Antusiasme Anak-anak
Pemerataan menjadi fokus program ini. Tidak hanya sekolah negeri, sekolah swasta hingga sekolah internasional juga menjadi sasaran. Untuk daerah 3T seperti Haranggaol yang sulit dijangkau, akan didirikan dapur khusus dengan spesifikasi berbeda agar anak-anak tetap mendapatkan makanan bergizi.
Antusiasme anak-anak menjadi motivasi tersendiri bagi tim pelaksana. Mereka hafal jadwal distribusi makanan dan bahkan ikut membantu membongkar boks makanan. Semangat itu dianggap sebagai balasan atas kerja keras penyelenggara di lapangan.
Program MBG di Simalungun dipandang sebagai upaya membangun generasi sehat dan mandiri melalui dapur-dapur sederhana di pelosok daerah.
Kendala Geografis dan Koordinasi Daerah
Sekretaris Dinas Pendidikan Simalungun, Janulingga Damanik, menyebutkan bahwa tantangan utama pelaksanaan program adalah kondisi geografis. Banyak sekolah berada di daerah pinggiran dengan medan sulit sehingga distribusi makanan kerap terhambat.
Distribusi makanan diperkirakan harus tiba maksimal dua jam sebelum jam makan, namun hal ini sulit dipenuhi di wilayah pedalaman. Kondisi tersebut telah dilaporkan ke Balai Gizi Nasional untuk dicarikan solusi bersama agar seluruh sekolah tetap terlayani.
Ia menekankan perlunya komunikasi intens antara pemerintah pusat dan daerah agar implementasi program lebih tepat sasaran dan sesuai kebutuhan lapangan.(Putra Purba)