
Drainase tersumbat menyebabkan genangan air dan mengganggu aktivitas pedagang di Pasar Balerong Pematangsiantar. Pedagang berharap penanganan menyeluruh dari pengelola pasar.
Pematangsiantar|Simantab – Aktivitas pedagang di Pasar Balerong, eks Gedung IV Pasar Horas, Jalan Merdeka, Kecamatan Siantar Bawah, Kota Pematangsiantar, terganggu akibat drainase yang tersumbat. Kondisi tersebut menyebabkan genangan air dan aroma tidak sedap di area pasar dalam dua pekan terakhir.
Pantauan Simantab, Selasa (6/1/2026), genangan air di saluran drainase lantai pasar masih terjadi. Air tampak bercampur lumpur dan mengeluarkan bau menyengat, diduga berasal dari tumpukan sampah organik yang membusuk dan tidak mengalir dengan baik.
Situasi ini semakin diperparah oleh curah hujan yang cukup tinggi dalam beberapa pekan terakhir, sehingga air bertahan cukup lama dan membuat lantai pasar becek serta licin. Kondisi tersebut berdampak langsung pada aktivitas jual beli, terutama bagi pedagang bahan basah seperti sayur-mayur dan ayam potong.
Direktur Utama PD Pasar Horas Jaya, Bolmen Silalahi, mengakui persoalan drainase di kawasan Pasar Balerong menjadi perhatian serius pihak pengelola. Menurutnya, upaya pembersihan dan pengorekan saluran air telah beberapa kali dilakukan, namun hasilnya belum optimal.
“Permasalahan ini sudah lama terjadi. Sampah menumpuk di dalam saluran, sementara ukuran drainase relatif kecil. Jika terus dimasuki sampah, aliran air pasti tersumbat,” ujarnya.
Bolmen menjelaskan, pengelolaan pasar tidak hanya berkaitan dengan kebersihan rutin, tetapi juga penataan kios dan kedisiplinan pedagang dalam mematuhi aturan. Ia menegaskan, ukuran kios telah ditetapkan sesuai standar, dengan tinggi meja dan pembatas maksimal 80 sentimeter, serta larangan memajang dagangan hingga melewati batas kios atau ke area jalan.
“Penataan kios yang tertib akan memudahkan petugas melakukan pembersihan, termasuk perawatan drainase. Aturan ini sudah kami sampaikan melalui pemberitahuan resmi,” katanya.
Ia juga mengimbau para pedagang agar tidak membuang sampah ke saluran air serta turut menjaga fasilitas umum yang tersedia di lingkungan pasar.
Di sisi lain, keluhan pedagang terus bermunculan. Seorang pedagang ayam potong, Teguh (40), mengaku kondisi drainase yang tersumbat sangat merugikan. Menurutnya, air bercampur limbah sisa potongan ayam kerap menggenang di depan lapaknya, menimbulkan bau tidak sedap dan membuat pembeli enggan mendekat.
“Kalau begini kondisinya, aktivitas jual beli jelas terganggu. Bau menyengat, lantai licin, pembeli juga merasa tidak nyaman,” ujarnya.
Ia menambahkan, para pedagang tetap membayar retribusi pasar setiap hari, termasuk biaya kebersihan. Namun, kondisi lingkungan pasar dinilai belum sebanding dengan kewajiban yang telah dipenuhi pedagang.
“Kami membayar retribusi, tapi persoalan ini sudah lama belum juga tuntas. Kami menuntut hak kami terkait kebersihan pasar,” katanya.
Akibat genangan air, sejumlah pedagang terpaksa melakukan upaya swadaya dengan meninggikan teras kios menggunakan semen atau memasang papan kayu sebagai jalur lintasan bagi pembeli.
Para pedagang berharap pengelola pasar segera melakukan pembenahan drainase secara menyeluruh, bukan sekadar pembersihan sementara, agar aktivitas ekonomi di pasar tradisional tersebut dapat kembali berjalan normal dan nyaman.(Putra Purba)






