
Dinkes Kota Semarang memastikan influenza A H3N2 subclade K tidak berbahaya dan meminta warga tetap tenang serta waspada dengan menjaga kesehatan.
Semarang|Simantab – Dinas Kesehatan Kota Semarang meminta masyarakat tetap tenang dan tidak panik menyikapi maraknya informasi mengenai influenza A (H3N2) subclade K yang kerap disebut sebagai super flu. Meski demikian, warga tetap diimbau meningkatkan kewaspadaan guna mencegah penularan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam, menjelaskan bahwa virus tersebut pada dasarnya merupakan influenza tipe A yang umum ditemukan. Perbedaannya terletak pada subclade K yang memiliki tingkat penyebaran lebih cepat. Namun, hingga kini tidak ditemukan peningkatan angka kematian maupun lonjakan kasus rawat inap akibat virus tersebut.
Menurutnya, gejala influenza A H3N2 subclade K serupa dengan flu biasa, seperti batuk, pilek, dan demam. Penanganannya pun tidak berbeda, yakni dengan istirahat cukup serta mengonsumsi makanan bergizi untuk menjaga daya tahan tubuh.
Apabila demam muncul, masyarakat dapat mengonsumsi obat penurun panas sesuai anjuran. Jika keluhan tidak membaik, warga disarankan memeriksakan diri ke puskesmas, klinik, atau rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Hingga saat ini, Dinas Kesehatan Kota Semarang belum menemukan kasus influenza A H3N2 subclade K di wilayahnya. Beberapa sampel yang telah diperiksa di laboratorium tingkat nasional juga belum menunjukkan adanya subclade tersebut.
Abdul Hakam menambahkan, kondisi kebugaran tubuh sangat berpengaruh terhadap risiko penularan virus. Saat daya tahan tubuh menurun, virus lebih mudah menginfeksi. Oleh karena itu, masyarakat yang mulai merasakan gejala flu disarankan menghentikan aktivitas sementara, beristirahat di rumah, serta menjaga asupan makanan dan cairan.
Selain itu, warga yang mengalami gejala flu diminta mengurangi interaksi dengan orang lain dan menggunakan masker untuk mencegah penularan.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa influenza A H3N2 subclade K bukanlah virus baru dan telah lama beredar seperti flu pada umumnya. Virus ini juga tidak memiliki tingkat kematian tinggi seperti Covid-19 atau tuberkulosis.
Ia menjelaskan, di negara empat musim, kasus influenza cenderung meningkat pada musim dingin. Sementara di negara tropis seperti Indonesia, lonjakan kasus biasanya tidak terlalu signifikan. Oleh sebab itu, sejumlah negara menerapkan vaksin influenza tahunan untuk menekan angka penularan.
Meski dinilai tidak berbahaya, masyarakat tetap diimbau menjaga kesehatan dengan istirahat cukup, rutin berolahraga, dan menjaga pola hidup bersih dan sehat.(*)






