
Simantab.com – Di sisi timur Danau Toba, jauh dari riuh destinasi wisata yang telah lebih dulu populer, ada sebuah pantai yang tumbuh perlahan tanpa gegap gempita. Namanya Pantai Salbe Nauli. Terletak di Dusun II Salbe, Nagori Togu Domu Nauli, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun, pantai ini menjadi ruang tenang bagi siapa saja yang ingin berjumpa kembali dengan alam dalam wujudnya yang paling sederhana.
Perjalanan menuju Salbe Nauli bukan sekadar soal jarak, tetapi pengalaman. Dari Kota Pematangsiantar, kendaraan bergerak sekitar satu setengah jam menyusuri jalan menuju Dolok Pardamean. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan sekitar tiga kilometer melalui jalan desa yang mulus, diapit perbukitan hijau dan bentangan Danau Toba yang perlahan terbuka di hadapan mata. Setiap tikungan seolah menjadi pengantar menuju ketenangan.
Pantai Salbe Nauli belum berdiri sebagai objek wisata resmi. Ia tumbuh apa adanya, dirawat oleh tangan-tangan warga. Pariaman Sinaga (60), warga setempat yang telah puluhan tahun menetap di Nagori Togu Domu Nauli, menyebut kawasan ini berkembang secara swadaya karena belum tersentuh pengelolaan pemerintah.
“Selama ini belum ada pengelolaan resmi. Padahal potensinya besar sekali. Alamnya masih terjaga, tapi belum ditata dengan baik,” ujar Pariaman.
Keistimewaan Pantai Salbe Nauli terletak pada karakter bibir pantainya yang landai. Berbeda dengan banyak kawasan Danau Toba yang berbatu dan curam, pantai ini relatif datar dan aman. Anak-anak bisa bermain air, keluarga dapat berenang dengan tenang, sementara sebagian pengunjung memilih mendirikan tenda dan menghabiskan malam di tepi danau.
Sejak pertengahan 2024, wajah Salbe Nauli mulai berubah. Pengunjung datang perlahan, didominasi anak muda dan keluarga yang ingin merasakan suasana baru. Mereka memancing, berkemah, atau sekadar duduk menatap danau.
“Bibir pantainya landai, jadi orang mulai berdatangan sejak sekitar satu setengah tahun lalu. Banyak yang sudah bosan dengan tempat lama dan mencari suasana baru,” kata Pariaman, Minggu (18/1/2026).
Bagi warga, pantai ini bukan hanya tempat berlibur. Salbe Nauli adalah bagian dari hidup mereka. Sebagian besar penduduk menggantungkan hidup sebagai nelayan dan petani. Kopi, jahe, bawang, dan cabai menjadi komoditas unggulan yang tumbuh berdampingan dengan aktivitas wisata sederhana. Lanskap sosial pun terbentuk alami, tanpa sekat antara pengunjung dan warga.
Soal biaya, Pantai Salbe Nauli ramah bagi siapa saja. Tidak ada tiket masuk. Pengunjung hanya diminta membayar parkir, Rp5 ribu untuk sepeda motor dan Rp10 ribu untuk mobil atau bus. Uang itu dikelola secara swadaya oleh warga untuk kebersihan dan pengaturan kendaraan.
Keterjangkauan inilah yang membuat pantai ini mulai dilirik wisatawan keluarga. Satria (35), warga Perdagangan, Kecamatan Bandar, menjadi salah satunya. Libur Isra Mikraj tahun ini ia habiskan bersama istri dan dua anaknya di Pantai Salbe Nauli.
“Awalnya tidak ada rencana ke Salbe. Tapi karena anak ingin ke pantai, akhirnya berangkat supaya dapat suasana baru,” ujar Satria, Minggu (18/1/2026).
Berangkat pukul 08.00 WIB, keluarganya tiba sekitar pukul 11.30 WIB. Jarak yang jauh justru menambah kesan liburan.
“Kalau perjalanannya agak jauh, liburannya lebih terasa. Tidak cepat bosan,” katanya sambil tersenyum.
Pantai memang selalu menjadi pilihan keluarga Satria saat musim libur. Namun Salbe Nauli memberi kesan berbeda.
“Biasanya kami ke pantai yang itu-itu saja di sekitar Simalungun. Di sini suasananya lebih sepi dan alami,” tuturnya.
Di lokasi, suasana desa terasa hidup tanpa kehilangan keasrian. Deretan pondok sederhana dari kayu dan seng berdiri di sepanjang pantai. Pondok-pondok itu menjadi tempat berteduh, bersantai, hingga bernyanyi bersama keluarga. Beberapa pengunjung menggelar tikar, membuka bekal, dan menghabiskan waktu seharian di tepi danau.
Di perairan dangkal, anak-anak dan orang dewasa bermain air dengan ban pelampung. Air danau tampak tenang dan relatif jernih. Perahu nelayan dan beberapa kapal wisata bersandar di tepi pantai, menandakan danau tetap menjadi sumber kehidupan utama warga.
Tak jauh dari pondok, tenda-tenda berdiri di bawah pepohonan rindang. Aktivitas berkemah menjadi daya tarik tersendiri. Tanpa fasilitas mewah, suara riak air dan hembusan angin dari perbukitan justru menjadi hiburan utama.
Perbukitan hijau dan pepohonan pinus mengitari desa, menciptakan latar alami yang fotogenik. Sesekali, perahu bermotor dan wahana air melintas di tengah danau, memberi sentuhan dinamika di tengah ketenangan.
Camat Dolok Pardamean, Sahat Jan Sidabutar, menilai Pantai Salbe Nauli menyimpan potensi besar. Namun, menurutnya, pengembangan harus dilakukan dengan hati-hati dan melibatkan masyarakat.
“Potensi Pantai Salbe sangat besar, terutama untuk wisata alam dan keluarga. Tapi pengembangannya harus tetap menjaga lingkungan dan kearifan lokal,” ujarnya, Senin (19/1/2026).
Ia menyebut pemerintah kecamatan siap menjadi penghubung antara masyarakat nagori dan pemerintah kabupaten untuk membahas penataan akses, penyediaan fasilitas dasar, hingga pemberdayaan ekonomi warga melalui usaha kecil dan jasa wisata.
“Perlu sinergi agar pengembangannya tidak merusak lingkungan. Pantai Salbe Nauli harus tumbuh sebagai destinasi wisata desa yang berkelanjutan,” tegasnya.
Di tengah keterbatasan fasilitas, Pantai Salbe Nauli justru menghadirkan sesuatu yang kini semakin langka: wisata yang tenang, terjangkau, dan menyatu dengan kehidupan desa. Sebuah sudut Danau Toba yang memilih berjalan pelan, namun pasti, menuju pengakuannya sendiri di peta pariwisata Simalungun.(Putra Purba)





