Peralihan jenis tanaman dari padi ke jagung pasca serangan hama tikus itu, karena perawatannya lebih mudah
Simalungun|Simantab – Bagi petani, lahan yang subur adalah impian. Persoalan cuaca dan biaya bisa disesuikan. Namun, terkadang dari alam itu juga datang rintangan yang merepotkan. Salah satunya, hama tikus.
Serangan tikus yang sangat masif layaknya invasi itu, dirasakan petani di Nagori Dolok Marlawan, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun.
Salah satunya, Martin Sitorus (20). Kepada Simantab, Sabtu (22/3/2025), dia mengisahkan sudah sudah dua tahun ini menanam jagung di lahan yang sebelumnya ditanami padi.
Peralihan tanam dari padi ke jagung yang dilakukannya, menurut dia, sangat telat dibanding petani lainnya.
“Dulu, ular sawah adalah penjaga setia sawah kami. Tapi sekarang, mereka sudah jarang terlihat. Dampaknya, tikus-tikus datang dari segala penjuru. Merusak padi kami yang sudah hampir panen,” tutur Martin mengingat kegagalan panennya dengan nada getir.
Peralihan jenis tanaman dari padi ke jagung pasca serangan hamai tikus itu, kata dia, karena perawatannya lebih mudah. Jagung lebih tahan hama tikus dan tidak membutuhkan banyak air. Terlebih, lahannya saat ini lebih sering kekurangan air.
“Tengok saja, gimana mau tanam padi? Lahan kering kayak gini. Lagipula tikus banyak. Udah satu dua tahun ini selalu gagal panen. Tak sebutir pun padi bisa dipanen, kalah cepat sama tikus,” katanya.

Upaya membasmi tikus di daerahnya sudah pernah dilakukan. Malah sudah melibatkan aparat pemerintah. Namun jumlah tikus tidak berkurang, malah terlihat semakin banyak.
“Kami sudah pakai belerang dan menembak tikus di lubangnya. Berhasil. Tapi tetap saja, tikusnya tambah banyak. Serasa sia-sia saja,” keluhanya.
Upanya beralih dari padi sawah menjadi tanaman jagung, ternyata belum lepas dari masalah. Walau sudah bergabung dengan kelompok tani, agar berpeluang mendapatkan pupuk subsidi, tetap saja jumlahnya kurang. Pupuk komersil jadi pilihan, dengan harga yang tinggi.
Kegelisahan Martin Sitorus ini diamini Tobi Siagian (39), petani dari Nagori Karang Bangun, Kecamatan Siantar.
Di nagorinya, banyak petani mengalihkan lahan padi mereka ke jagung demi bertahan hidup.
“Sudah gotong royong berburu tikus, banyak yang mati. Tapi tetap saja, padi kami habis. Dua bulan lalu, saya juga tanam padi, tetapi tidak ada sebutir padi yang bisa dipanen,” katanya kepada Simantab.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh petani bersama pemerintah desa dan kecamatan untuk mengatasi hama ini.
Salah satu cara yang dilakukan adalah berburu tikus secara massal, melibatkan seluruh warga desa, pria wanita dan tua muda terlibat langsung.
“Dalam sehari kami bisa menangkap sekitar 600 sampai 800 ekor tikus. Tapi besoknya, datang lagi tikus, sama banyaknya. Kalau gini terus, entah gimana kami bisa melanjutkan hidup,” ujarnya.
Dia menduga penggunaan racun rumput dan perburuan ular untuk dikonsumsi menjadi penyebab populasi ular, predator alami tikus, telah berkurang.
Dampak serangan hama tikus yang tak terkendali itu, telah merubah 25% lahan padi sawah di Nagori Karang Bangun beralih ke jagung.
“Kami trauma menanam padi lagi. Jagung sekarang jadi pilihan untuk menyambung hidup,” tambahnya.
Tobi dan petani dan petani lainnhya, saat ini menaruh harap kepada pemerintah. Terlebih, Presiden Prabowo sedang fokus dalam penguatan sektor pangan.
“Harapan kami, pemerintah turun langsung mendengarkan keluhan petani, untuk menanggulangi hama tikus. Jangan mendengarkan dari pihak lain atau malah didiamkan saja,” ujarnya.
Adanya serangan hama tikus itu ternyata telah sampai ke Pemkab Simalungun. Kepala Bidang (Kabid) Penyuluhan pada Dinas Pertanian Simalungun, Zefri Zein mengatakan, untuk daerah lainnya memang ada laporan yang terkena serangan hama tikus. Hanya saja serangan hama tikus bersifat sporadis dan spot.
“Persentase serangan hama tikus di Simalungun belum begitu memprihatinkan. Upaya sudah dilakukan pada tanaman padi yang berusia 20-30 hari. Padi di usia ini paling rentan terhadap serangan hama tikus,” tuturnya.
Saat ini pengendalian massal hama tikus itu, kata Zefri, telah dilakukan bersama tenaga teknis dari petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), PUPT, dan kelembagaan Gapoktan.
“Jadi melibatkan semua pihak. Tidak cukup hanya dinas saja. Pengendalian massal bisa dengan pemberian umpan racun, atau gropyokan tikus,” paparnya.
Agar petani mampu mengendalikan hama tikus secara mandiri, cara seperti itu sudah diajarkan secara masif kepada kelompok tani, khususnya pada wilayah Simalungun bawah.
“Hama tikus memang menjadi masalah klasik yang dihadapi petani. Kita terus berupaya bertindak cepat dan tepat untuk mencegah kerugian yang lebih besar,” ujar Zefri.(putra purba)