“Banyak puskesmas di Simalungun memang belum punya sopir tetap. Itu sebabnya sering terjadi kekosongan. Sebenarnya ada bahan bakar, tapi tidak mencukupi untuk perjalanan jauh.”
Simalungun|Simantab – Sabtu malam (23/8/2025) seharusnya menjadi hari biasa bagi keluarga Arman Purba Sidadolog, warga Urung Pane I, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun. Namun, kecelakaan lalu lintas di kawasan Bukit Simarjarunjung merenggut nyawa Arman dan menyisakan duka mendalam.
Ironisnya, kesedihan keluarga korban justru kian bertambah akibat lambannya penanganan di Puskesmas Sipintuangin. Alih-alih mendapat layanan cepat, jenazah korban justru terbengkalai berjam-jam karena ketiadaan sopir ambulans dan persoalan bahan bakar.
Kronologi Pilu dan Kekecewaan
Menurut Lela Saragih, kerabat korban, kabar kecelakaan datang sekitar pukul 20.00 WIB. Suaminya segera bergegas ke lokasi dengan harapan adiknya masih bisa diselamatkan. Namun, sesampainya di sana, Arman sudah tidak bernyawa dan dibawa ke Puskesmas Sipintuangin.
“Kami sadar semua sudah kehendak Tuhan. Tapi yang membuat kami sangat kecewa adalah bagaimana adik kami diperlakukan setelah meninggal. Jenazah terkatung-katung berjam-jam hanya karena alasan tidak ada sopir ambulans dan tidak ada bahan bakar,” ujar Lela, Kamis (28/8/2025).
Ia menuturkan jenazah Arman terbengkalai lebih dari tiga jam di Puskesmas yang seharusnya melayani 24 jam. Bahkan, menurut pengakuannya, Arman sempat masih bernapas saat pertama kali dibawa ke puskesmas, tetapi keterlambatan ambulans memperburuk keadaan.
“Kami bahkan mencoba menghubungi Puskesmas Tigarunggu, tapi jarak dan waktu membuat kami akhirnya membawa jenazah dengan mobil pribadi,” tambahnya.
Pengakuan dari Dalam
Seorang pegawai puskesmas, sebut saja Nuri, mengakui persoalan utama adalah tidak adanya sopir khusus serta lemahnya manajemen bahan bakar.
“Banyak puskesmas di Simalungun memang belum punya sopir tetap. Itu sebabnya sering terjadi kekosongan. Sebenarnya ada bahan bakar, tapi tidak mencukupi untuk perjalanan jauh,” katanya.
Ia juga menambahkan, petugas jaga malam sempat meminta keluarga korban membeli bensin tambahan agar ambulans bisa beroperasi.
“Ini menunjukkan SOP ada, tapi tidak berjalan di lapangan karena keterbatasan tenaga dan sarana,” ujarnya.
Menurut Nuri, karena korban sudah meninggal, petugas mungkin menilai penanganan tidak darurat. Namun, ia menegaskan hal itu tetap tidak bisa dijadikan alasan lambannya respons.
Klarifikasi Puskesmas dan Dinas Kesehatan
Kepala Puskesmas Sipintuangin, Togi Jerry Loan Aruan, membenarkan bahwa pada saat kejadian memang tidak ada sopir. Ia mengaku meminta bantuan Polsek untuk membawa ambulans. “Bahan bakar ada, tapi tidak cukup untuk perjalanan ke Pematangsiantar,” jelasnya.
Ia juga menyebut petugas sempat keliru mengisi bahan bakar, dari pertalite malah solar. Hal ini membuat situasi semakin kacau.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Simalungun, Edwin Simanjuntak, menyatakan hal serupa. “Benar, tidak ada sopir saat itu. Puskesmas akhirnya meminta bantuan Polsek. Ke depan akan kami tindaklanjuti agar kejadian ini tidak terulang,” katanya.
Cermin Buram Layanan Kesehatan
Bagi keluarga korban, peristiwa ini bukan hanya tentang kematian Arman, tetapi juga wajah buram pelayanan kesehatan di daerah.
“Ini bukan soal individu, tapi sistem. Pemerintah harus serius berinvestasi pada tenaga dan fasilitas. Jangan sampai nyawa melayang hanya karena ambulans tidak ada sopir atau bensin,” tegas Lela.
Ia meminta Pemkab Simalungun segera menindak tegas pihak-pihak yang lalai. “Bisa jadi kasus seperti ini bukan baru sekali terjadi. Mungkin sudah banyak korban lain, yang tak terekspos. Harus ada tindakan nyata agar tidak berulang,” ujarnya.
Kisah pilu Arman menjadi pengingat bahwa fasilitas kesehatan dasar seperti ambulans, bahan bakar, dan tenaga siaga bukan sekadar kebutuhan, tetapi hak masyarakat yang harus dipenuhi. Tanpa itu, Puskesmas hanya menjadi bangunan kosong yang gagal menjalankan fungsinya sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan.(Putra Purba)