Antara After God-nya Don Cupit dan Surat Edaran Kadisdiknya Radiapoh

Pemimpin itu harus berani pasang badan bukan malah cuci tangan

Silverius Bangun, SE, M. Si

Di usia saya yang ke 20 tahun, saya merayakan ulang tahun di sebuah kapel. Sebuah kapel di Universitas yang teruji kekristenannya yaitu Universitas Kristen Duta Wacana, Jogjakarta. Saya mendapat sebuah kado. Kadonya sebuah buku dengan judul: After God karya sang maestro Don Cupit. Buku tersebut bercerita tentang bayangan dari seorang Don Cupit tentang masa depan agama.

Tentu saja diartikan sebagai masa depan agama karena gamang dengan penerjemahan jika menyebutnya sebagai masa depan Tuhan. Dan karena saya bukanlah pakar teoligis dan bahasa inggris saya juga cengap cengap maka saya percaya saja dengan translate ala penerjemah buku tersebut. After God adalah masa depan agama.

Buku tersebut diawali dengan kisah pencarian seseorang terhadap Tuhannya. Dan manusia pra sejarah kekristenan mencarinya di setiap jalan kehidupan. Sesuatu yang besar akan dipercaya sebagai representasi dari tuhannya. Sekelompok orang yang sangat bersyukur dengan adanya matahari yang menyinarinya mempercayai matahari sebagai Tuhannya.

Sebagian yang lain yang menyambung hidup di hutan yang luas menemukan tuhannya di sebuah pohon yang sangat besar dan paling besar dari semua pohon yang dia temui. Dan kemudian kelompok itu mempercayai pohon besar tersebut sebagai tuhannya.

Itu adalah sesuatu yang alami, sesuatu yang normal dimasa itu. Bahkan hingga sekarang kepercayaan kepercayaan seperti itu masih ada dan hadir di sekitar kita.

Jika anda berkunjung ke seputaran singalor lau (sebutan untuk wilayah tiga binanga dan sekitarnya) di Kabupaten Karo maka realitas itu masih bisa anda temui hingga sekarang. Jika terdapat kemarau yang panjang maka masyarakat seputar tiga binanga akan melaksanakan ritual “erlau lau” (bermain air).

Ritual tersebut diterima oleh masyarakat seputaran singalor lau sebagai sebuah ritual yang dipercaya akan mendatangkan hujan di wilayah tersebut. Setelah ritual “erlau lau” tersebut dilaksanakan maka para simada kuta (pengetua adat) akan mengantarkan persembahan ke nini pagar di seputaran jalan tiga binanga menuju tiga beringin, sekitar 300 meter di seberang SMK Ala Delphi Tiga Binanga.

Dalam ritual erlau lau tersebut ada larangan yaitu dilarang menyirim kepada turang (seorang pria dilarang menyiram wanita dengan marga yang sama dan sebaliknya). Ketika ritual tersebut maka semua orang yang melintas di singalor lau akan disiram oleh masyarakat tiga binanga. Siapapun tidak terkecuali.

Dan ajaibnya seingat saya, ritual tersebut sering berhasil dan memang setelah melaksanakan ritual tersebut selama dua minggu atau seminggu maka hujan biasanya akan datang dan menyelamatkan tanaman petani di wilayah tersebut.

Dan pergeseran perilaku pasca masehi dengan mulainya individu mengenal agama maka secara spontan kita semua akan bersikap apriori dengan orang yang berdoa di dekat pohon dengan menudingnya menyembah berhala. Padahal secara jujur kita harusnya menempatkan wilayah ketuhanan adalah wilayah individual bukanlah urusan publik.

Terjadinya pergesaran perilaku individual dalam kesehariannya memang normal terjadi. Sehingga menjadi sebuah realitas ketika hubungan umat beragamapun mengalami pergeseran. Semasa saya kecil, saya sebagai katolik sering diejek oleh teman teman saya sebagai penyembah patung hanya karena saya seorang katolik dan ketika kami berdoa, sering menghadap ke patung salib atau patung bunda maria yang ada di rumah kami. Dan sayapun sering mengejek teman teman saya yang muslim dengan ucapan yang diplesetkan bis…… nir…. nir………, adi la bi…. ba.. lagia min.

Dan tentu saja saya dan teman teman saya tidak pernah saling mengadukan hal tersebut ke polisi dengan dalih penistaan agama. Bahkan hal yang lumrah di kampung saya, tiga binanga seorang muslim menyekolahkan anaknya di TK St Yoseph yang dimiliki oleh Susteran Katolik. Dan tentu saja sang anak menghafal doa Bapa Kami hingga doa Salam Maria.

Sehingga menjadi sebuah anomali bagi saya ketika Bupati Simalungun Radiapoh Hasiholan Sinaga sebagai Bupati Simalungun malah parnok dengan Surat Edaran yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Simalungun tersebut. Selagi hal yang dihafalkan oleh siswa/i tersebut adalah hal yang baik dan berbahasa Indonesia maka tidak ada aturan yang dilanggar oleh Surat Edaran tersebut.

Saya jadi teringat apa yang dikatakan oleh seorang pengulu kepada saya bahwa beliau memang sukanya gimmick alias mbongak doang. Dan memang selalu saja buang badan tak mau peduli dengan bawahannya demi mempertahankan popularitasnya yang sedang nyungsep digerogoti sikerja,

Dan tentu saja melalui tulisan ini, saya meminta Bupati Simalungun Radiapoh Hasiholan Sinaga untuk menjelasan letak kesalahan dari Surat Edaran tersebut, jangan sampai persepsi masyarakat karena kurangnya keterbukaan adalah ada yang salah dengan nats Alkitab tersebut. Atau jangan jangan Bupati Simalungun sendiri tidak tau apa yang salah dengan Surat Edaran tersebut.

Ini adalah kukek kukek. Dan sebelum anda melapor ke polisi supaya kiranya membaca Privasi di www.simantab.com

Tinggalkan Balasan