Kantor Berita Simantab
Pusat informasi dan berita politik, ekonomi, hukum, budaya dari kabupaten karo, pakpak, dairi, toba, melayu, simalungun dan budaya jawa.

Bocah 7 Tahun di Aceh Diseret Seperti Hewan

Jakarta –  BMJ (42), seorang Kepala Urusan Pembangunan Desa Cieumprdak, Tanah Jambo, Aceh Utara, Aceh, diduga melakukan kekerasan fisik terhadap seorang anak berusia 7 tahun dengan cara mengikat leher dan tangan korban lalu menyeret seperti hewan karena kedapatan mengambil kotak amal masjid.

“Dia dapat diancam Pasal 81 UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang penerapan Perpu Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun pidana penjara,” kata Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait dalam siaran pers, Senin (31/5/2021).

Kata Arist, kekerasan yang dilakukan BMJ tidak bisa ditoleransi. Atas nama kemanusiaan dan martabat anak, Komnas Perlindungan Anak meminta Polres Aceh Utara  menerapkan UU Nomor 17 Tahun 2016 terhadap BMJ.

Kronologis

Seorang bocah mengambil kotak amal masjid di Cieumprdak, Tanah Jambo untuk dipergunakan membeli makan.

Ayahnya sedang sakit di rumah dan tidak mempunyai pekerjaan dampak dari pandemi Covid- 19. 

BACA JUGA

Si bocah ditangkap oleh BMJ. Leher anak itu diikat dengan tali nilon warna kuning, dan tangannya diikat ke belakang dengan nilon warna biru. 

Korban diseret seperti binatang, disaksikan warga dan rekan sebayanya. Korban tak berdaya dan tak berkutik diperlakukan tak manusiawi.

Arist dalam keterangan persnya menjelaskan, alasan pelaku menghukum korban dengan cara mengikat leher dan tangan lalu menyeret korban, merupakan terapi kejut.

Kapolsek Tanah Jambo Aye Aceh Utara AKP Ahmad Yani membenarkan peristiwa tersebut. Ia mengatakan anak tersebut mengambil kotak amal di masjid. 

Hal itu dilakukan korban karena ayahnya sedang sakit dan tak bisa bekerja. Uang menurut korban, dipergunakan membeli makanan untuknya dan ayahnya yang sedang terbaring sakit di rumah dan sisanya diberikan kepada pamannya.

Setelah dilakukan musyawarah warga, oleh pamannya uang itu dikembalikan dan digenapkan menjadi  Rp 1,5 juta setelah dikurangi dengan yang dipergunakan untuk membeli makan.

“Atas peristiwa ini, MBJ sebagai pamong harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tidak ada kata damai terhadap pelecehan martabat kemanusiaan,” tegas Arist.

Seharusnya BMJ, kata dia, memberikan nasihat terhadap korban agar tidak mengulangi perbuatannya, bukan justru menghukum secara tidak manusiawi dan merendahkan martabat kemanusiaan.

Komnas Perlindungan Anak juga memberikan apresiasi kepada Polres Aceh Utara dan jajaran atas kerja cepat dalam menangani perkara ini.()

Top Radio Banner
Comments
Loading...

Situs ini menggunakan kuki untuk memberikan pengalaman terbaik bagi anda dalam menggunakan layanan kami. Kami memegang komitmen untuk melindungi privasi anda dan menjadikan keamanan data menjadi prioritas kami SetujuBaca Lagi