Prahara Negeriku, Dari Lebak Kurayakan Natal

Kenyataan yang malu untuk kita akui sebagai bangsa yang bhineka, Ketika membangun Diskotik lebih gampang daripada membangun rumah ibadah. Mayoritas sering memaksakan toleransi versinya kepada minoritas.

 

Natal adalah hari besar keagamaan yang dirayakan oleh umat kristiani. Waktunya juga selalu berulang yaitu di Bulan Desember setiap tahunnya. Namun natal selalu menghadirkan sebuah problema tersendiri. Bangsa ini belum mampu menuntaskan persoalan hari besar kristiani ini dengan sempurna. Natal selalu menghadirkan riak riak yang seharusnya tidak perlu hadir.

Ketika negara masih berhutang dengan pembangunan gereja yang tidak kunjung tuntas hingga pelaksanaan ibadah yang kerap dihempang, negara kembali gagap menyikapi momen tahunan umat kristiani ini. Negara kalah dengan kerasnya suara sekelompok orang.

Di Kabupaten Lebak, riak riak perayaan natal kembali hadir. Ketika Bupati Lebak yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Propinsi Banten Ita Octavia Jayabaya menolak permohonan dari kelompok masyarakat maja yang ingin melaksanakan perayaan natal di wilayah Maka dan meminta supaya masyarakat merayakannya di Rangkasbitung.

Kelompok masyarakat yang ingin merayakan natal di Majo, Saya minta untuk merayakan Natal di Rangkasbitung, karena disana ada juga perayaan natal dan saya akan hadir (Ita Octavia Natabaya – Bupati Lebak).

Sedih, miris dan bingung. Apakah ibu Bupati yang sebenarnya sangat humble ini lupa bahwa gereja itu memiliki denomasi yang berbeda beda. Kristen Protestan saja memiliki banyak denomasi mulai dari basis kesukuan, basis wilayah hingga berbasis tata cara seperti pentakosta dan bethel dan lain lain.

Lalu bagaimana umat melaksanakan natal dengan sekumpulan umat yang tidak pernah berinteraksi sama sekali. Natal adalah ibadah kebersamaan, ada sentuhan sosial yang sangat esensial untuk dicurahkan dalam perayaan natal tersebut.

Dan tentu menjadi sangat penting sebenarnya adalah pemerintah menunjukkan kehadirannya ditengah masyarakat sebagai regulator. Jika pendirian gereja yang bersifat permanen menjadi sebuah kendala, hendaklah umat kristen di maja diberikan kesempatan merayakan natal di lingkungannya, toh hanya sehari dua hari kok. Bukankah itu itu yang disebut dengan toleransi?

Akhirnya kita semua harus kembali ke realitas yang nyata bahwa toleransi merupakan barang mahal di kehidupan kita. Toleran adalah sikap langka dalam realitas kehidupan beragama. Selamatlah merayakan Natal untuk kita semua.

Tinggalkan Balasan