Dunia  

Trump Dibidik Oleh FBI

Berita ini merupakan berita kerjasama antara voice of america dengan Kantor Berita Simantab. 

 

VOA, Donald Trump, Mantan Presiden Amerika dari Partai Republik meradang. Dalam konfrensi pers yang dilakukannya pada hari Senin (8/8/2022) dia menyatakan bahwa rumahnya yang indah telah digerebek oleh FBI. Trump juga menyatakan bahwa penggerebekan yang dilakukan dirumahnya tersebut tidak perlu dilakukan dan sangat tidak pantas.

Rumah saya di Mar – A – Lago, Palm Beach, Florida telah dikepung, digerebek dan diduduki oleh sekelompok besar agen FBI. Penggerebekan yang dilakukan di rumah saya adalah tidak pantas dan tidak perlu, ujar Trump kepada wartawan.

Undang-Undang Catatan Presiden tahun 1978 menetapkan bahwa semua catatan kepresidenan dimiliki oleh publik dan secara otomatis dipindahkan ke dalam penyimpanan Arsip Nasional segera setelah seorang presiden meninggalkan jabatannya. Semua perpustakaan dan museum kepresidenan adalah bagian dari Arsip Nasional.

Departemen Kehakiman AS menyelidiki mantan Presiden AS Donald Trump atas kemungkinan pelanggaran Undang-Undang Spionase dan tindak kejahatan lainnya setelah Biro Investigasi Federal (FBI) menemukan 11 set dokumen rahasia negara di kediaman pribadinya di Mar-a-Lago, negara bagian Florida, pekan lalu.

Hari Jumat (12/8) lalu, Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Selatan Florida membuka segel surat perintah dan tanda terima properti dari penggeledahan yang dilakukan FBI pada hari Senin (8/8) di kediaman pribadi mantan Presiden AS Donald Trump di Mar-a-Lago, negara bagian Florida.

Dari surat dan tanda terima itu diketahui bahwa agen FBI menemukan 11 set dokumen, termasuk yang berlabel sangat rahasia (top secret), rahasia (secret) dan konfidensial (confidential).

Jaksa Agung AS Merrick Garland sendiri yang memberikan persetujuan penggeledahan tersebut. “Departemen Kehakiman tidak mengambil keputusan seperti itu dengan enteng. Jika memungkinkan, merupakan praktik standar untuk mencari cara yang tidak terlalu mengganggu sebagai alternatif penggeledahan dan untuk mempersempit cakupan penggeledahan yang dilakukan,” ujarnya.

Trump, yang menentang penggeledahan itu, pada hari Kamis (11/8) membuat tuduhan tak berdasar bahwa mantan Presiden AS Barack Obama sendiri menyimpan 33 juta dokumen, termasuk yang bersifat rahasia. Arsip Nasional AS langsung mengeluarkan pernyataan pada hari Jumat (12/8) untuk membantah klaim tersebut dengan mengatakan pihaknya telah mengambil alih catatan kepresidenan Obama ketika ia meninggalkan Gedung Putih.

Trump kini sedang diselidiki atas kemungkinan pelanggaran Undang-Undang Spionase, alias pemata-mataan, yang mencakup pelanggaran berupa kesalahan penanganan materi rahasia negara.

Biro Investigasi Federal (FBI) dalam keterangan persnya (12/8) menyatakan bahwa pihaknya menyita dokumen dokumen dengan label sangat rahasia dari kediaman Donal Trump. 

Laporan media menunjukkan FBI mencari dokumen rahasia yang diduga diambil Trump dari Gedung Putih saat dia mengakhiri jabatannya dan tidak mengembalikannya seperti yang diminta oleh Arsip Nasional.

Para anggota Kongres AS dari Partai Republik telah mengecam keras penggeledahan itu dan menuduhnya bermotif politik untuk menggagalkan kemungkinan pencalonan kembali yang diharapkan oleh Trump pada tahun 2024.

Gedung Putih mengatakan tidak diberitahu tentang tindakan FBI itu dan menyangkal telah memerintahkan penggeledahan tersebut