Festival Tuak Danau Toba di Samosir Dibubarkan

Samosir – Festival tuak yang semula digelar sejak 4-5 Juni 2021 di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir, Sumut, disebut dibubarkan oleh pemerintah setempat.

Terungkap lewat akun Facebook Togu Simorangkir, dilihat pada Sabtu (5/6/2021). Togu dalam status itu menyampaikan informasi pembubaran dan menyatakan kekesalannya atas sikap pemerintah dan negara yang tak pernah hadir untuk kreativitas lokal.

 “Sama halnya dengan Festival Babi Danau Toba yang juga ditekan oleh pemerintah. Negara tidak hadir untuk kreativitas lokal dan membangun ekonomi lokal. Banyak pedagang sudah meminjam uang untuk modal jualan mereka. Kasihan mereka. Sementara semua surat izin sudah didapat panitia. Inilah Indonesia,” tulis pegiat literasi Nusantara itu.

Unggahan Togu kemudian mendapat reaksi dari sejumlah warganet. Beragam tanggapan, mulai dari kesal, kecewa dan heran.

Menjawab pertanyaan pemilik akun Delima Silalahi, yang dikenal sebagai Direktur KSPPM, mengapa festival dibubarkan, Togu yang memang sudah di lokasi acara menyebut alasan pembubaran karena pandemi covid.

“Alasan covid. Padahal pesta dan onan pun lebih rame dari Festival Tuak Danau Toba pertama ini,” sahut Togu, yang berencana akan berjalan kaki dari Toba ke Jakarta dalam rangka kampanye menutup operasional PT TPL.

Pemilik akun Anita Martha Hutagalung melontarkan kekesalannya dengan pembubaran festival tuak tersebut.

“Etaheee…Ada surat izin untuk bikin lapak,Tapi tak diizinkan orang datang ke lapak? Yang kekmananya ceritanya,” tulisnya di kolom komentar status Togu.

BACA JUGA

Septian Nainggolan, panitia festival belum berhasil dimintai konfirmasi dengan pembubaran acara tersebut.

Kepada Simantab.com, beberapa waktu lalu Septian menyebut, gagasan festival tuak tak lain untuk peningkatan penghasilan warga di daerahnya yang dikenal dengan produksi tuaknya.

“Jadi kami buat festival tuak ini untuk meningkatkan kesejahteraan warga yang bekerja sebagai petani tuak, dan juga untuk menghilangkan nilai negatif bahwa tuak itu tidak selalu untuk mabuk-mabukan,” kata Septian, Kamis (22/4/2021) lalu lewat WhatsApp.

Menurut dia, dalam ajang yang terbilang unik ini, mereka akan mengedukasi warga petani di sana bahwa ada nilai tambah dari pohon aren milik warga yang tidak sekadar memproduksi tuak.

“Jadi di sini nanti kami mengedukasi masyarakat untuk mengolah pohon aren itu. Jadi hasilnya tidak hanya tuak yang bisa diolah dari pohon aren,” ujarnya.

Nantinya dalam ajang festival, panitia kata Septian akan mengundang dan melibatkan para paragat dari tujuh kabupaten di Kawasan Danau Toba. Paragat adalah petani yang menghasilkan tuak setiap harinya dari pohon aren.

“Kami akan melibatkan paragat-paragat di lingkungan Danau Toba. Untuk mempraktikan bagaimana cara mengolah pohon aren itu, dan di sini juga kami akan memperkenalkan kuliner dari aren dan ubi,” katanya.

Selain mempertontonkan soal tuak dan produk ikutannya, pihaknya kata Septian juga bakal menggelar beberapa isian acara untuk mengajak masyarakat lebih menyadari pentingnya kebersihan Danau Toba.

Sementara itu, dilansir dari greenberita.com, kasus Covid-19 di Kabupaten Samosir mengalami peningkatan.

Tercatat ada 50 kasus terkonfirmasi positif Covid-19 dan dua orang meninggal dunia di RS Hadrianus Sinaga, sebagaimana disampaikan Kabid P2P Dinas Kesehatan Samosir, Elias Sinuraya, Jumat (4/6/2021).

“Benar, berdasarkan data tanggal 3 Juni 2021, konfirmasi positif 50 orang dan isolasi di RS Hadrianus 5 orang dan dirujuk 2 serta isolasi mandiri 43 orang,” jelas Elias.

Dua warga Samosir dalam satu minggu terakhir, kata dia, meninggal akibat terpapar virus Covid 19. Keduanya ialah pria usia 37 dan wanita usia 55 tahun.()

Iklan RS Efarina