Miris, Bertahun-tahun Satu Keluarga di Medan Huni Gubuk Reot

Medan – Dalam lima tahun terakhir, Anggiat Sitorus (65) bersama istri Maris Br Hombing (64) dan anak mereka, menempati gubuk reot yang kondisinya rusak parah sebagai tempat tinggal.

Rumah berdindingkan tepas dan beralaskan tanah yang dihuni keluarga Anggiat Sitorus ini terletak di Jalan Pintu Air IV, Gang Pantai Ujung Lingkungan X, Kelurahan Kwala Bekala, Kecamatan Medan Johor.

Di dalam rumah, hanya diisi beberapa perlengkapan seadanya seperti peralatan untuk memasak. Di beberapa bagian dinding tepas itu pun terlihat sudah bolong.

Sedangkan kondisi bangunan gubuk yang ditempati keluarga Anggiat Sitorus ini pun, tampak sudah mulai miring.

Dari pengakuan Anggiat Sitorus, rumah yang saat ini ditempatinya, rusak parah sejak lima tahun belakangan.

Dan mengandalkan sopir angkot sebagai mata pencahariannya, Anggiat tidak mampu membenahi rumahnya karena faktor usia yang sudah menua sehingga tidak bisa bekerja maksimal.

 

Tampak bagian dapur rumah Anggiat Sitorus sangat memprihatinkan.

 

“Saya sudah sakit-sakitan, untuk kerja sudah tidak sanggup. Penghasilan aku sendiri yang mencari makanya begini kejadiannya,” ungkap Sitorus terbata-bata tanpa mampu menahan tangis.

Kondisi ini pun, kata dia, diperparah dengan adanya pandemi Covid-19, dia yang bekerja sebagai sopir angkot jurusan Medan-Helvetia tidak memiliki penghasilan memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Penumpang sepi. Sejak pandemi sudah tidak ada lagi gaji dari pekerjaan sebagai sopir angkot. Jangankan memperbaiki rumah ini, makan saja kami sudah susah,” ungkapnya.

Untuk makan sehari-hari Sitorus sekeluarga, sekarang ini mengandalkan dari hasil bertani istrinya Maris Br Hombing.

“Lauknya hanya ikan asin, itupun jika ada uang sedikit. Kalau tidak, ya hanya beras hasil bertani istri saja yang dimakan,” tuturnya.

Sitorus menuturkan, tanah yang mereka tinggali adalah tanah peninggalan orang tua istrinya. Dia yang memiliki empat orang anak, dan satu diantaranya sudah menikah juga tinggal bersebelahan dengan rumahnya.

Sitorus menambahkan, beberapa tahun lalu ada menerima bantuan, hanya saja belakangan ini sudah tidak lagi menerima bantuan tersebut dan tidak tahu apa alasannya.

 

Bagian samping gubuk reot yang dihuni Anggiat Sitorus dan keluarga.

 

Sedangkan, Camat Medan Johor, Zulfahri Ahmadi mengatakan, keluarga Anggiat Sitorus merupakan keluarga yang memperoleh bantuan Program Keluarga Harapan (PKH).

“Keluarga ini penerima PKH, hanya saja terputus pada 2020. Jadi di tahun 2021 saldonya nol. Kami sudah melakukan pengecekan lagi, dan telah meminta persyaratan kembali untuk melihat apa yang menjadi masalah di keluarga ini sehingga kenapa haknya mendapat bantuan terputus,” ujar Ahmadi kepada wartawan, Kamis (22/7/2021).

Mengenai bantuan Covid-19, Ahmadi mengatakan ada tahap 1 dan tahap 2. Namun bagi penerima PKH, tidak dapat bantuan sembako ini. Sebab ada peraturan untuk bantuan Covid-19 yang berupa sembako ini bahwa penerima PKH, BST, BLT tidak bisa mendapatkannya.

Ahmadi pun mengakui baru dua hari lalu mendapatkan informasi keberadaan keluarga Anggiat Sitorus. “Begitupun, dengan kejadian ini memang ada kelalaian kita. Yang saat ini akan saya lakukan adalah menanggung biaya pengobatan Ibu Maris yang tiga hari ini dirawat di klinik karena gejala tipus. Itu akan saya tanggung. Selanjutnya saya perintahkan kepling dan lurah untuk mencarikan donatur memberikan bantuan ke keluarga ini,” pungkasnya. ()

Iklan RS Efarina