KORAN SIMANTAB
11 Januari 2026 | 22:38 WIB
No Result
View All Result
  • Home
  • Live TV
  • Headline
  • Nasional
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Kriminal
    • Pendidikan
    • Politik
    • Sejarah
    • Teknologi
  • Sumut
    • Asahan Batu Bara
    • Binjai – Langkat
    • Dairi
    • Danau Toba
    • Deli Serdang
    • Karo
    • Labuhan Batu Raya
    • Medan
    • Siantar
    • Simalungun
    • Tabagsel
  • Wisata
  • Dunia
  • Sehat
  • Kuliner
  • Olahraga
  • Adventorial
  • Login
KORAN SIMANTAB
No Result
View All Result
KORAN SIMANTAB
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • HEADLINE
  • SUMUT
  • NASIONAL
  • KESEHATAN
  • KULINER
Beranda Nasional
Momen saat punggahan.(simantab/ist)

Momen saat punggahan.(simantab/ist)

Punggahan: Perjalanan Budaya, Refleksi Diri, dan Tantangan Zaman di Simalungun

Mahadi Sitanggang Editor: Mahadi Sitanggang
1 Maret 2025 | 11:53 WIB
Topik: Nasional
0

Punggahan memiliki makna reflektif bagi individu dan komunitas. Lebih dari sekadar tradisi, punggahan menjadi momen untuk memperkuat hubungan sosial, mempererat tali kekerabatan, serta memperkaya nilai budaya yang sudah ada.

Simalungun|Simantab – Di tengah hamparan perbukitan dan perkebunan Simalungun yang hijau, satu tradisi unik bersemi, memadukan warisan budaya Jawa dan kearifan lokal.

Punggahan. Demikian tradisi itu disebut. Bukan sekadar perayaan makan bersama, tetapi sebuah perjalanan panjang akulturasi budaya dan refleksi diri yang kini menghadapi tantangan zaman.

Tradisi punggahan merupakan tradisi yang dilakukan umat Islam dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan yang dilaksanakan pada akhir bulan sya’ban ( satu hari atau dua hari menjelang bulan ramadhan).

Tradisi punggahan dalam menyambut bulan suci Ramadhan ini telah dilaksanakan oleh masyarakat suku Jawa sejak dahulu hingga saat ini. Sehingga, tradisi ini sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam masyarakat Jawa karena tradisi ini dilaksanakan setiap tahunnya.

Meskipun dikenal luas di kalangan masyarakat Sunda dan Jawa, praktik ini mengalami perubahan serta adaptasi di berbagai daerah, termasuk Simalungun, Sumatera Utara.

Antropolog Sumut, Ibnu Avena Matondang,  membuka tabir pelaksanaan tradisi punggahan di Tanah Habonaron Do Bona ini.

Menurutnya, punggahan pada dasarnya merupakan tradisi yang mencerminkan perpindahan ke kondisi yang lebih baik.

Kata punggah atau munggah bermakna naik atau beralih. Dalam praktiknya bertransformasi menjadi sebuah ritual sosial yang memperkuat kebersamaan dalam masyarakat.

Ia menjelaskan, tradisi ini berkembang seiring dengan proses migrasi dan interaksi budaya yang terjadi di wilayah Simalungun.

“Variasi bentuk punggahan di Simalungun adalah bukti nyata dari migrasi etnis Jawa yang berinteraksi dengan masyarakat lokal. Proses ini menghasilkan akulturasi budaya yang memperkaya khazanah tradisi di daerah ini,” ungkap Ibnu saat dikonfirmasi, Jumat (28/2/2025).

Ibnu menekankan, punggahan memiliki makna reflektif bagi individu dan komunitas. Lebih dari sekadar tradisi, punggahan menjadi momen untuk memperkuat hubungan sosial, mempererat tali kekerabatan, serta memperkaya nilai budaya yang sudah ada.

Tak hanya itu, esensi punggahan, menurut Ibnu, terletak pada momen refleksi diri.

“Ini adalah saat untuk merenungkan perjalanan hidup, memperbaiki diri, dan mempererat tali silaturahmi. Aspek-aspek lain, seperti hidangan khas dan doa bersama, hanyalah pelengkap yang memperkuat makna inti dari tradisi ini,” jelasnya.

Namun, Ibnu juga menyoroti adanya kecenderungan komodifikasi budaya, di mana tradisi migran lebih menonjol daripada tradisi lokal yang memiliki nilai serupa.

“Masyarakat Indonesia di setiap wilayahnya sebenarnya telah memiliki nilai-nilai sosial dan budaya yang kuat sejak lama. Punggahan hanyalah salah satu bentuk ekspresi dari nilai-nilai tersebut,” ujarnya.

Di era digital ini, punggahan menghadapi tantangan baru. Punggahan mengalami pergeseran makna, terutama di kalangan generasi muda atau Gen Z.

Generasi Z, kata Ibnu, yang tumbuh dalam budaya instan dan individualistis, cenderung mengaitkan punggahan dengan waktu dan tempat tertentu. Padahal, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat dipraktikkan dalam berbagai konteks kehidupan.

“Gen Z lebih melihat punggahan sebagai acara seremonial tahunan saja, bukan sebagai bagian dari praktik hidup yang lebih luas,” katanya.

Sebagai seorang dosen di Jurusan FISIP Universitas Sumatera Utara (USU), Ibnu juga mencatat adanya kecenderungan punggahan menjadi semakin sentralistik, yang berpotensi menggerus kebudayaan lokal yang memiliki makna serupa.

“Inilah tantangannya. Jika suatu ritus hanya dipahami secara religius, tanpa mempertimbangkan aspek budaya yang lebih luas, ada risiko nilai-nilai lokal menjadi terpinggirkan,” tambahnya.

Di luar aspek budaya, punggahan juga memiliki dampak sosial dan ekonomi yang lebih besar dari yang terlihat di permukaan. Tradisi ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga bagian dari proses distribusi pengetahuan dan reproduksi kebudayaan.

“Tradisi ini menautkan manusia dengan alam, spiritualitas, dan kehidupan sosial dalam satu kesatuan. Ini bukan sekadar ritus religius, tetapi juga praktik hidup yang organik dan dinamis.” kata Ibnu.

Karena itulah, Ibnu menekankan bahwa punggahan tidak bisa sekadar dilestarikan sebagai kebijakan atau program budaya. Ia harus terus berkembang dan disesuaikan dengan konteks zaman, bahkan mungkin diadaptasi ke dalam budaya lokal, seperti melalui kosakata atau praktik khas Simalungun.

“Punggahan bukan sesuatu yang statis. Jika kita bisa menyesuaikannya dengan budaya lokal tanpa menghilangkan esensinya, maka ia akan tetap relevan dan bisa terus berkembang,” pungkasnya.

Di tengah gempuran modernisasi, punggahan membuktikan bahwa tradisi memiliki cara untuk bertahan dan beradaptasi. Nilai-nilainya tetap hidup, mengalir dalam berbagai bentuk, mengikat manusia dalam jalinan kebersamaan yang tak lekang oleh waktu.

“Punggahan berpotensi menjadi jembatan antara generasi muda dan warisan budaya mereka. Namun, diperlukan upaya untuk mengemas tradisi ini secara lebih relevan dengan gaya hidup generasi Z, tanpa menghilangkan esensi nilainya,” kata Ibnu.

Dilema Akulturasi: Antara Pengayaan dan Penggerusan

Lebih lanjut, Ibnu menekankan melakukan tradisi punggahan, sebagai agen penyebaran dan adaptasi budaya, juga menyimpan dilema.

Di satu sisi, tradisi ini memperkaya khazanah budaya lokal. Namun, di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa punggahan dapat menggerus tradisi lokal yang memiliki makna serupa.

“Penting untuk menjaga keseimbangan antara akulturasi dan pelestarian budaya lokal. Punggahan seharusnya menjadi pelengkap, bukan pengganti, dari tradisi-tradisi yang telah ada di masyarakat Simalungun,” ujar Ibnu.

Ibnu menekankan pentingnya pemaknaan punggahan yang lebih adaptif.  Di masyarakat Simalungun yang mayoritas beragama Islam sebesar 56,77% ini, menjadikan Punggahan tidak hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga simbol kerukunan budaya dan refleksi sosial.

“Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang holistik, yang melibatkan aspek budaya, sosial, dan ekonomi.” jelasnya.

Salah satu cara untuk menjaga relevansi punggahan adalah dengan mengadopsi kosakata Simalungun sebagai bagian dari hibriditas budaya.

“Ini akan memberikan sentuhan lokal pada tradisi ini, membuatnya lebih dekat dengan masyarakat Simalungun,” kata Ibnu.

Punggahan, dengan segala dinamika dan tantangannya, adalah cermin dari kekayaan budaya Indonesia. Tradisi ini mengajarkan kita tentang pentingnya refleksi diri, toleransi, dan pelestarian warisan budaya.

Di tengah arus modernisasi yang deras, punggahan menjadi pengingat akan akar budaya yang kuat, yang menjadi identitas bangsa.

“Penting untuk menjaga keseimbangan antara akulturasi dan pelestarian budaya lokal. Punggahan seharusnya menjadi pelengkap, bukan pengganti, dari tradisi-tradisi yang telah ada di masyarakat Simalungun,”  kata Ibnu.(putra purba)

Tags: PuasaPunggahanRamadhanSimalungun
ShareTweetSendShareSendSharePinScanShare

Berita Terkait

Pemerintah Kota Semarang mengimbau warga tetap tenang dengan penyebaran virus super flu.(Simantab/ai)
Nasional

Pemerintah Meminta Warga Tetap Tenang, Virus Super Flu Tidak Berbahaya

Editor: Mahadi Sitanggang
7 Januari 2026 | 07:57 WIB

Dinkes Kota Semarang memastikan influenza A H3N2 subclade K tidak berbahaya dan meminta warga tetap tenang serta waspada dengan menjaga...

Read more
Sejumlah pekerja mengangkat potongan kayu mahoni ke atas truk di Jalan Asahan, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun. (Simantab/Putra Purba)
Nasional

Penebangan Mahoni di Jalan Asahan Simalungun Dipersoalkan, Rekomendasi PUTR Bukan Izin

Editor: Mahadi Sitanggang
21 Desember 2025 | 14:23 WIB

Penebangan pohon mahoni di Jalan Asahan Simalungun menuai sorotan. Rekomendasi teknis PUTR disebut bukan izin, sementara status kayu hasil penebangan...

Read more
Presiden Prabowo menemui korban bencana Aceh Tamiang di tenda-tenda pengungsian.(Simantab/ai)
Nasional

Prabowo Tinjau Pengungsi Aceh Tamiang, Janji Percepatan Pemulihan Pasca Banjir

Editor: Mahadi Sitanggang
12 Desember 2025 | 17:54 WIB

Presiden Prabowo Subianto meninjau pengungsian di Aceh Tamiang dan menegaskan pentingnya kolaborasi penanganan bencana serta menjaga lingkungan. Pemerintah memastikan bantuan...

Read more
Ilustrasi polisi  mengamankan sejumlah tersangka pembalakan liar.(Simantab/ai)
Nasional

Kapolri Sebut Sudah Ada Tersangka Kasus Kayu Ilegal di Tapanuli Selatan

Editor: Mahadi Sitanggang
12 Desember 2025 | 17:33 WIB

Polri menetapkan tersangka dalam kasus pembalakan liar yang terkait temuan kayu gelondongan saat banjir di Tapanuli Selatan. Penyidikan diperluas dan...

Read more

Berita Terbaru

Simalungun

Disdukcapil Simalungun Rekam KTP-el Lansia di Ruang Perawatan Rumah Sakit

9 Januari 2026 | 09:16 WIB
Siantar

308 Gugatan Cerai Masuk ke Pengadilan Agama Pematangsiantar Sepanjang 2025

9 Januari 2026 | 08:55 WIB
Siantar

Konflik Penagihan Utang Meningkat di Pematangsiantar, Polisi Ingatkan Bahaya Kekerasan

7 Januari 2026 | 10:11 WIB
Nasional

Pemerintah Meminta Warga Tetap Tenang, Virus Super Flu Tidak Berbahaya

7 Januari 2026 | 07:57 WIB
Siantar

Drainase Tersumbat, Aktivitas Pedagang di Pasar Balerong Pematangsiantar Terganggu

6 Januari 2026 | 21:39 WIB
Siantar

Waspada Super Flu H3N2 Mengintai, Dinkes Pematangsiantar Tekankan Disiplin Imunitas dan Deteksi Dini

6 Januari 2026 | 21:20 WIB
Simalungun

DPMN Simalungun Temukan 13 BUMNag Bermasalah, Pemkab Perkuat Pembinaan

5 Januari 2026 | 15:06 WIB
Simalungun

UMK Simalungun 2026 Naik 8,5 Persen, Berlaku Mulai 1 Januari

5 Januari 2026 | 14:55 WIB
Nasional

Penebangan Mahoni di Jalan Asahan Simalungun Dipersoalkan, Rekomendasi PUTR Bukan Izin

21 Desember 2025 | 14:23 WIB
Siantar

Sepekan Operasional Terminal Tanjung Pinggir, Kepatuhan PO Masih Jadi Tantangan

21 Desember 2025 | 13:52 WIB
Simalungun

Pemkab Simalungun Dorong Kenaikan PBB 2026 untuk Menutup Penurunan Dana Pusat

21 Desember 2025 | 13:38 WIB
Simalungun

Pemkab Simalungun Kembali Raih Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik 2025

18 Desember 2025 | 16:52 WIB

  • Kuki
  • Etika Perilaku
  • Hubungi Kami:
  • Karir
  • Layanan
  • Pedoman Siber
  • Peraturan Pers
  • Privasi
  • Tentang Kami
  • Redaksi

© 2025
PT SIMALUNGUN MANTAB INDONESIA
(PT. SIMANTAB INDONESIA) .
Jalan Ahmad Yani No. 97 Siantar Barat, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara.
☏ -
📧 [email protected]

rotasi barak berita hari ini danau toba berita

  • slot gacor
  • slot gacor
  • slot thailand
  • slot gacor
  • slot gacor hari ini
  • slot gacor
  • slot pulsa
  • slot gacor
  • slot gacor
  • slot gacor
No Result
View All Result
  • Home
  • Live TV
  • Headline
  • Nasional
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Kriminal
    • Pendidikan
    • Politik
    • Sejarah
    • Teknologi
  • Sumut
    • Asahan Batu Bara
    • Binjai – Langkat
    • Dairi
    • Danau Toba
    • Deli Serdang
    • Karo
    • Labuhan Batu Raya
    • Medan
    • Siantar
    • Simalungun
    • Tabagsel
  • Wisata
  • Dunia
  • Sehat
  • Kuliner
  • Olahraga
  • Adventorial
  • Login

© 2025
PT SIMALUNGUN MANTAB INDONESIA
(PT. SIMANTAB INDONESIA) .
Jalan Ahmad Yani No. 97 Siantar Barat, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara.
☏ -
📧 [email protected]

rotasi barak berita hari ini danau toba berita