Upeti

Kotaku beberapa minggu terakhir penuh dengan kehebohan. Kehebohan yang datang silih berganti. Dan semua itu bermuara kepada satu kata yaitu upeti. Upeti yang sebenarnya lumrah dan terpampang jelas dan nyata dihadapan kita semua.

Sehingga seorang wartawan senior dengan gamblang bertanya, siapa diantara kita yang tidak pernah menerima upeti, saya akan sembah dia. Dan yang hadir di pertemuan tersebut semua mengamini yang dikatakannya, Yach semua ternyata penikmat upeti. Dan semuanya merasa tangannya kotor dengan upeti. Lalu kenapa ribut?

Ternyata keributan yang terjadi di kotaku ini adalah sebuah keributan yang disebabkan oleh sebuah realitas, tidak kebagian. Dan hanya itulah alasan kenapa kotaku menjadi riuh.

Realitas yang susah diucapkan namun jamak terlihat dikotaku. Sekelas oknum jurnalispun masuk daftar. Daftar oknum jurnalis yang harus kebagian upeti dari pelaku pelaku kejahatan seperti narkoba dan judi. Ini adalah realitas yang nyata. Bahkan lembaga pemerintahpun melakukan pembayaran terhadap berita berita yang dimuat di media massa. Itu adalah sebuah realitas.

Lalu upeti apa yang sedang riuh saat ini. Tentu saja bukanlah upeti kepada sebuah organisasi sekelas persekutuan atau perkumpulan yang mendapat cipratan dana dari penyelenggara sebesar Rp. 65.000.000 (enam puluh lima juta rupiah). Tetapi ini upeti yang dilakukan secara berulang yang menurut informasi yang beredar hampir senilai Rp. 1.000.000.000 (Satu Miliar Rupiah).

Dan upeti yang konon katanya miliaran ini bisa dikalkulasi dengan persentase dari sebuah kegiatan yang ada. Dan penerimanya adalah seseorang yang berkuasa dan berjabatan. Jika sekelas sekretaris daerah sudah diduga menerima upeti maka seharusnya yang bersangkutan akan sibuk melakukan klarifikasi.

Tapi di kampung kami ini, Sekretaris Daerah yang diduga menerima upeti ini tidak membantah apalagi mengundurkan diri. Dia memilih diam. Dan anehnya atasannya yang merupakan kepala daerah juga tidak bergeming. Kenapa? Mungkin karena di kampung kami, upeti adalah hal biasa.

Jadi jangan heran jika nantinya di kampung kami, anda buka usaha harus bayar upeti. Upeti untuk apa, entah tidak ada yang tau. Tapi setidaknya jika lancar membayar upeti maka batu bata untuk pembangunan usaha tersebut tidak akan hilang, Namun jika tidak dibayar, mungkin semen bersak sak pun tidak akan diketahui kemana rimbanya.

Segawat itukah? Mungkin itu gawat bagi banyak orang namun bagi kami itulah realita. Dan kami semua enjoy dengan realitas ini.

Begitulah selamat mengutip upeti.

Tinggalkan Balasan