Laura Sinaga “Sihoda” Angkat Bicara

Pematang Siantar, Setelah berhari hari menjadi polemik. Laura Sinaga, manager dan founder Simalungun Home Dancer (Sihoda) memberikan klarifikasi.

Beberapa hari ini media siantar simalungun menyoroti tentang sumbangan dari Plt. Walikota Pematang Siantar yang dikembalikan oleh Sihoda.

Sihoda merupakan komunitas seni dan budaya yang akan berangkat ke Polandia untuk mengikuti XXVI International Folklore Festival Meeting di Polandia, Juli 2022.

Berikut ini adalah klarifikasinya yang disampaikan via akun facebooknya:

Inilah Penjelasan Laura Tyas Avionita Sinaga

Awalnya saya tidak mau angkat bicara lagi persoalan engembalian uang ini, tapi karena banyak berita simpang siur dan terus memojokkan kami maka akan saya jelaskan disini.
Awal Februari kami mulai memasukkan surat ke Plt Walikota ibu dr. Susanti Dewayani, Sp. A, dinas-dinas terkait dan DPRD Siantar, namun tak satupun surat kami itu mendapatkan balasan dan respon. Hingga akhirnya diakhir maret kami memutuskan untuk mencari “Orang” terdekat bu Wali agar kami dapat mengadakan audiensi dan akhirnya kami dapat mengadakan audiensi diakhir maret dengan bu Wali melalui orang tersebut, dan saat ditanyakan kembali bagaimana nasib surat kami, katanya “hilang”.
Lalu kami audiensi dan menerangkan kegiatan kami ini, Berikut memberikan proposal dan Company Profile sanggar.

Saat audiensi kami terangkan pada Ibu bahwa jikapun anggaran tidak ada, minimal kami difasilitasi untuk membuat Kegiatan Pra event/Aksi Dana dan diberikan Surat Rekomendasi untuk mengajukan Proposal Ke perusahaan2 yg ada di Kota Siantar. Lalu ibu menyetujui dan mengatakan akan mendukung, bahkan ada ucapan Ibu nanti kita akan usahakan untuk membawa ke Propinsi karena festival yg kami ikuti sudah membawa nama Indonesia dan untuk kelanjutannya nanti kami akan Follow Up dari “orang” yg membawa kami bertemu dengan Ibu.

Berjalan punya waktu, kami terus bertanya kepada “orang” tersebut bagaimana kelanjutannya, dan jawaban yg kami terima adalah “Sabar ya, sudah di Follow up ke Ibu.”

Nah hingga pada akhirnya dipertengahan Mei saya dipanggil untuk bertemu dengan Kabag Umum, lalu saat bertemu tersebut, hasil yg kami terima adalah bahwa Pemko tidak bisa mengeluarkan anggaran, hanya akan ada bantuan yg diberikan Ibu untuk mengapresiasi kami bahkan Surat Rekomendasi kami pun tidak dapat diberikan.

Disitulah saya mengusulkan agar kiranya kami bisa difasilitasi untuk membuat kegiatan penggalangan dana sekaligus Pra Event yg akan mengundang OPD Kota Siantar, dimana disitu kami akan mengadakan penggalangan dana.

Hal itu disetujui, dan Terjadilah “Gerakan Marharoan Bolon” pada tgl 24 Mei 2022 di Lapangan Parkir Pariwisata. Ya kami difasilitasi Untuk Sound Sistem, Sofa, Taratak dan Konsumsi Tamu Undangan, Tapi kamipun bukan tidak bermodal, juga mengeluarkan budgeting Untuk Live Streaming, Flayer, Banner, Pengisi Acara, Konsumsi, Kostum dan MUA.

Saat sebelum acara saya bertanya bagaimana sistem Gerakan “Marharoan Bolon” akan kita laksanakan, saat kami mengusulkan untuk menjalankan Balbahul tidak disetujui karena takutnya disorot media dan dibilang Pungli, lalu saat kami mengusulkan Taken List juga tidak disetujui karena Menjaga Integritas Ibu.

Akhirnya kami putuskan untuk membagikan selebaran kertas kepada hadiran. Namun nominalnya tidak boleh kita share ke Medsos.
Akhirnya berjalanlah acara, saat berjalannya acara ini, jujur kami sudah sangat kecewa, dari Ratusan yg hadir hanya ada 15-18 Kertas yg terisi, bahkan sebagian dari Pejabat yg dengan gagahnya memakai baju PNS membuang kertas dan tidak menerima kertas, tapi kami sadar kita tidak bisa memaksa orang memberi, kami sadar, namanya juga kami meminta, jadi “ikhlas”.

Lalu hal yg membuat saya dan adik-adik Sihoda sedikit terobati adalah, Saat akan pulang, Ibu datang menjumpai kami, “Besok kita jumpa, disitu nanti saya akan memberikan yg dari saya ya, nanti kalau dana dari sini belum memadai kita cari solusinya lagi, Tetap Semangat ya, Jaga Kesehatan.”

Dan terjadilah kejadian 25 Mei 2022. Saat kami mengetahui kami tidak jadi bertemu dengan Ibu, dan kami hanya menerima titipan didalam Amplop, kami sudah sangat kecewa, apalagi saat kami memastikan kepada Pak Kabag, apakah hanya ini titipan bu Wali, apaakah putus sampai disini saja solusi dari Pemko, apakah tidak ada waktu kami lagi untuk bertemu dengan Ibu, Pak kabag menjawab ragu dan tidak dapat memberikan Jawaban.

Kami hanya manusia biasa, dengan tidak bertemu dengan Bu Wali yg sudah berjanji saja kami sudah cukup kecewa, apalagi saat kami tidak mendapatkan kejelasan apapun, kami hanya berpegang dari ucapan seorang “Ibu” yg mengatakan untuk bersama membantu kami mencari solusi, solusi yg kami maksud disini bukan hanya “UANG”.

Dan kalaupun memang banyak yg bilang karena “nilai uang” nya, oke kita main pakek logika saja, benar bukan bahwa uang 4,8 jt dari Ibu Wali tidak akan bisa memberangkatkan kami ke Polandia?

Tapi apalah kami bilang kami harsunya minta 200 jt sisany, atau 50 jt? ENGGAK kan, kami minta Solusi seperti yg dijanjikan Ibu , coba aku balikkan posisinya di kalian semua.
Tidak kami bukan emosi, dan ini bukan Soal jumlah uang.

Sanggar Seni Sihoda adalah Sanggar yg berdiri sendiri, kami tidak dibawah naungan siapa2, anggota nya adalah Kumpulan Mahasiswa, Anak SMP dan SMA. Dari dulu setiap kami punya kegiatan kami sudah terbiasa berjuang sendiri, dibantu atau tidak oleh Pemerintah bahkan saat kami berangkat ke Turkey. Kami mengamen Ke cafe dan Keluarga, Kami berjualan, Kami mengisi Event2 Wedding atau seremoni untuk mencari dana. Kami tidak tau cara berpolitik, kami gak tau cara menjilat orang, dari dulu saya hanya berkarya, menari, berbudaya, bahkan saat Saya harus didorong dikursi rodapun tujuan saya hanya membawa budaya Simalungun.

Saya ingin sekali menunjukkan disini Video bagaimana kami memakaiakn Pakaian Adat Simalungun kepada Kepala-Kepala daerah diTurkey, bagaiman Makanan dan Pariwisata Kota Siantar diperkenalkan disana, jika pembaca ada waktu silahkan scrol ke bawah Postingan2 FB saya atau cek pangsung ke ig @officialsihoda.

Karena saya tidak mau dibilang pandai menulis di medsos saja.
Kami mengembalikan uangnya juga bukan dengan marah-marah, kami kembalikan bahkan kami Mengucapkan Terimaksih, kami sadar kami orang biasa, masih bersyukur Ibu mau peduli dan respon pada kami, kami sadar itu. Masih saya simpan chat dan pesan saya ke Ibu, saya bukan orang yg tidak tau Terimakasih.

Dan Lalu dihari Kamis sorenya, kami bertemu dengan Kabag Umum dan disitu kami sudah berbicara baik-baik, dan mereka mengatakan bahwa ini hanya kesalahan Komunikasi saja. Dan mari kita ambil jalan Tengah nya.
Lalu kalian fikir kami meminta apa? Kami meminta uangnya ditambahin, TIDAK SAMA SEKALI.

Kami hanya meminta agar Seluruh Bantuan tersebut baik dari OPD dan Ibu diberikan kepada kami secara Langsung oleh Ibu Wali dan Seluruh Jumlahnya boleh kami masukkan ke List Gerakan Marharoan Bolon yg memang sudah kami jalankan dari kemarin, tidak boleh ada yg ditutupi. Dan disetujui, dan akan dicarikan kapan waktu yg baik.

Sudah, ya tentu sudah, lalu setelah itupun masih ada beberapa media yg menghubungi tapi aku jelaskan keadaan yg sebenarnya dihari Kamis agar tidak ada lagi yg menaikkan beritanya. Karena sudah ada pembicaraan yg terjadi di Hari Kamis.

Dan soal berita ini bisa sampai kemedia, bahkan saya pun hanya bertemu dengan 2 wartawan saat kejadian itu, mana saya tau bahwa beritanya akan terus di Up dibanyak media bahkan Youtobe.

Ya baik saya akui itu menjadi kesalahan saya sebagai pemimpin, karena saya menjawab pertanyaan dari media.

Tapi saya juga berterimakasih kepada mereka, mungkin itu bentuk kepedulian mereka terhadap kegiatan yg kami lalukan, jikapun tidak ya mau bagaimana, kita tidak bisa membatasi tindakan dan prilaku orang.

Satu lagi tambahan, kami datang bukan dengan tangan kosong, bahkn kmi sudah berhasil mengumpulkan Kurang lebih 250 juta dari Mengamen Setiap Hari di Cafe/Restoran Keluarga, Berjualan Dayok Nabinatur dan Nasi Tumpeng, membuat kegiatan Marharoan Bolon, Menari di Event/Wedding dengan Free Budget lalu kami menggalang dana disana, dan masih banyak lagi.

Kami melakukannya disela-sea kami latihan, karena kami juga mempersiapkan 12 Tarian untuk dibawa.

Disini juga saya ingin sampaikan, terkhusus untuk orang-orang yg bilang, Kami tidak tau terimakasih, tidak bisa diajak kerja sama dll. Hanya karena kalian saat ini mendapatkan tempat dan fasilitas dari yg diatas, jangan kalian urusi yg bukan bagian kalian.

Hei, mari bercermin, bisa dikatakan Kami adalah sanggar yg dari dulu tidak pernah ikut mendemo pemerintah, sampai kami dibilang penghianat dan pelacur budaya oleh orang simalungun sendiri.

Kami hanya tau menari, berbudaya, bersimalungun. Kami hanya tau bagaimana dan apa yg kami lakukan untuk Tanah Simalungun, kami mungkin tidak mengangkat Akar seperti kalian, kami mungkin gak bisa “mandilo” “Opung” seperti kalian, tapi aku percaya, yg punya tanah ini pun taunya bahwa dari dulu saya tidak pernah mau niat apa-apa dalam bersimalungun.

Saya tidak pernah menyentuh bagianmu dan pekerjaanmu jadi jangan sentuh bagianku.

Karena saya sudah cukup teramat sabar, setiap pekerjaan yg saya lalukan selalu kamu komentari di medsosmu, jangan karena anda tidak menyebut nama saya tidak tau, saya selalu diam karena saya malas ribut, anda orang tua tapi prilaku tidak mencerminkan orang tua yg mengayomi kami anak-anaknya.

Dari dulu saya tidak pernah mau menjalin hubungan buruk dengan sanggar manapun, bahkan kalau ada sanggar yg mau ikut festival International, AYO, kami bantu memfasilitasi tapi harus siap dengan SOP dan siap TTD MOU dengan pihak Festival.

Dan teruntuk yg bilang miris melihat kami harusnya bisa dibicarakan, ayo silahkan buktikan kata-kata kalian, dari bulan Februari kami sudah bergerak, mana yg muncul??
Justru orang-orang yg benar-benar sudah membantu kami tidak pernah angkat bicara dan Pamer.

Lalu saya juga memohon untuk Anda yg sampai melakukan Live dengan Video anak-anak sanggar saya yg sedang mengamen, lalu memberi caption dengan bahasa “jangan pulangkan uang kami ya, karena pasti lebih kecil dari 4,8” tolong untuk dijaga ketikan dan omongannya, anak-anak itu tidak tau apa2, mereka menari dengan tulus tanpa tau anda videokan dengan bahasa yg menghancurkan mental mereka.

“Jadi disini saya Laura Tyas Avionita Sinaga, Putri Simalungun yg Lahir di Kota Pematangsiantar, Saat ini saya berusia 25 Tahun, Saya Sebagai Pimpinan dan Pelatih Sanggar SIHODA memohon maaf untuk kegaduhan yg kami timbulkan, tidak ada sedikitpun niat saya untuk membuat KERIBUTAN.

Saya berSUMPAH, dari awal sampai detik ini tujuan saya hanya menari, berkarya dan bersimalungun, jika memang Saya punya niat terselubung didalamnya saya siap menerima Konsekuensi apapun dari Tuhan, Karena saya sangat meyakini adanya hukum Tabur Tuai.”

Kami juga mengucapkan terimakasih banyak untuk semu pihak yg tetap dan masih mendukung kami.
Doakan kami dalam perjuangan dan setiap kegitan kami, Terimakasih banyak🙏🏻