Layakkah Kita Menggantungkan Harapan Kepada Sang Dokter?

Opini, Pemimpin adalah tempat sebuah harapan rakyat digantungkan. Pemimpin sejatinya adalah alternatif solusi dari sebuah problematika yang dihadapi oleh rakyat.

Seorang dokter spesialis sudah dilantik menjadi Wakil walikota. Wakil Walikota dari sebuah kota yang beberapa tahun sebelumnya dituding dikendalikan secara auto pilot. Kota Pematang Siantar, Kota yang dicap sebagai kota yang unik dimana jumlah media massanya lebih banyak daripada wartawannya.

Sering juga dinyatakan sebagai kota para ketua, karena memang ketua terkecil sampai ketua terbesar tumpah ruah dikota ini. Para ketua memang gampang ditemui di Kota Siantar, mulai dari warung emperen hingga ke cafe elit, kita akan menemukan para ketua disana.

Itulah Kota Pematang Siantar. Kota yang hari ini dipimpin oleh seorang wanita yang dilantik sebagai wakil walikota. Pelantikan tunggal non pasangan ini terjadi karena sang walikota terpilih, meninggal dunia  setelah berhasil menenuntaskan konstelasi dengan sebuah kemenangan indah, kemenangan mutlak atas kotak kosong.

Lalu segera, sang Wakil Walikota akan naik menjadi Walikota sesuai dengan amanat Undang Undang. Seberapa yakinkah kita beliau akan menjadi leader dalam pembangunan kota Pematang Siantar?

Yakinkah, Ibu Walikota akan Berhasil Menata Kota Pematang Siantar?

Secara pribadi, penulis tidak mengenal ibu dokter ini dalam tata kelola pemerintahan, bahkan ketika beliau menjadi Plt. Direktur RSUD pun tidak sempat memperlihatkan aksi heroik dalam manajemen rumah sakit, namun penulis mendapat sebuah testimoni dari salah satu dokter spesialis bahwa Plan, Do, Check, Action RSUD sempat beliau susun, namun belum sempat diaplikasikan, menurutnya sang Dirut sudah diganti oleh Walikota sebelumnya, Dr. Hefriansyah Noor, MM.

Dan hari ini, sang dokter spesialis yang demikian tersohor sebagai dokter anak pilihan ini, diberikan amanat Undang Undang menjadi Walikota Kota Pematang Siantar. Beliau tentu saja harus membuktikan bahwa kemampuannya mengobati anak anak berbanding lurus dengan kemampuannya mengelola kota ini.

Agak sedih memang ketika narasi yang digelontorkan olehnya ketika pelantikan adalah sebuah narasi penghormatan kepada Walikota terpilih yang sudah meninggal dunia. Sebagai pejabat publik, tentu saja narasi yang ditunggu adalah narasi berbasis kerakyatan bukan narasi personal. Dan narasi itu adalah narasi yang mendegradasi kepercayaan masyarakat kepadanya.

Tapi berharap adalah sebuah pilihan yang tersedia secara gratis bagi masyarakat Pematang Siantar, tentu saja kt berharap mulai hari ini, sang dokter mampu menjadi dokter bagi Kota Pematang Siantar. Dan tentu saja warisan warisan yang keren dari Walikota sebelumnya, Dr. Hefriansyah Noor, MM seperti taman beo dan taman bunga yang dinikmati publik secara gratis dan terbuka haruslah lebih di optimalkan olehnya.

Jika sebelumnya taman bunga dan taman beo, dibumbui dengan satpol PP maka dimasa kepemimpinan ibu Walikota ini, hendaklah dibumbui dengan pendamping anak dari kedinasan terkait seperti dinas perempuan dan anak berupa kehadiran pendamping anak.

Dan akan sangat keren jika sang ibu Walikota melakukan visit anak di lokasi lokasi sarat anak. Karena tentu saja anak anak lebih membutuhkan pendamping dan dokter anak daripada satpol PP untuk mengawasi permainan anak anak.

Begitulah, ibu Walikota dr. Susanti Dewayanti, Sp.A bekerjalah layaknya dokter yang siap sedia dan senantiasa memiliki waktu untuk memperhatikan pasien. Jadikanlah kami masyarakat Kota Pematang Siantar layaknya pasien yang senantiasa mendapat perhatian dari sang Walikota.