Siantar Kota Para Ketua, Tapi Bukan Kota Preman

Opini, Kota Pematang Siantar identik dengan sebutan sebagai kota para ketua. Karena di setiap sudut dan gang kita akan menemukan ketua ketua. Entah itu ketua organisasi sosial atau ketua organisasi kemasyarakatan.

Semua ketua hadir di kota yang terdiri dari beragam suku dan agama. Pluralitas yang kompleks di kota ini, telah menghadirkan masyarakat dengan tingkat toleransi yang tinggi sehingga berkali kali kota ini diberikan penghargaan sebagai kota dengan tingkat toleransi tertinggi se Indonesia.

Dahulu di era 90 an, kota Pematang Siantar identik dengan sebutan copet dan premanisme yang kental. Terminal perluasan adalah sebuah saksi bisu bagaimana lihainya para pencopet pencopet dari Pematang Siantar. Bahkan para kriminal ini eksodus sampai ke Amplas di Kota Medan hingga ke Pulo Gadung di ibukota Jakarta.

Tapi itu dulu. Pematang Siantar hari ini adalah kota yang hadir dengan tingkat kriminalitas yang rendah. Sebaliknya kota Pematang Siantar sudah berubah menjadi kota dengan ide dan gagasan yang selalu mewarnai dinamika sosial, ekonomi dan politik regional dan nasional.

Untuk kuantitas media online saja, Kota Pematang Siantar adalah kota dengan jumlah media online terbesar di Sumatera Utara. Tercatat 102 media online di Kota Pematang Siantar yang secara terus menerus memberikan informasi kepada dunia tentang kota Pematang Siantar.

Sehingga ada anekdot di kalangan penggiat sosial Pematang Siantar bahwa jumlah media onlie di Pematang Siantar lebih banyak dari jumlah wartawannya. Bahkan di kota ini terdapat wartawan yang tidak dikenal di daerah lain yaitu wartawan facebook.

Media dan Intimidasi Terhadap Aktivis

Beberapa hari yang lalu kita mendengar adanya intimidasi verbal yang dilakukan oleh seseorang terhadap penggiat media sosial Azahari Nasution. Azahari Nasution tercatat sebagai Ketua PAC PDIP untuk Kecamatan Siantar Barat, Pematang Siantar, Sumatera Utara.

Selain aktif di media sosial, dia juga dikenal sebagai seorang pemimpin perusahaan di media simantab.com. Beliau juga tercatat sebagai seorang penggiat gerakan dakwah dan politik islam di PDIP sebagai Ketua DPC Baitul Muslimin Indonesia (BMI) yang merupakan sayap dari PDI Perjuangan,

Intimidasi yang dilakukan oleh seseorang kepada beliau merupakan sebuah kemunduran terhadap pergerakan sosial yang selama ini hidup koheren dengan perjalanan pemerintahan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Pematang Siantar.

Kalo hanya karena sebuah bangunan di Jalan Melati yang secara nyata digunakan untuk komersil, ada pihak yang sudah berani menggunakan ancaman untuk membungkam pemikiran aktivis sepertinya maka kota pematang siantar sudah mengalami kemunduran ke era tahun 90 – an kembali.

Hal yang dikritisi olehnya juga bukanlah sesuatu yang membahayakan, hanya menyoroti tentang Izin Mendirikan Bangunan yang nota bene sangatlah mudah penyelesaiannya. Para pihak yang membangun tinggal mengurus dokumen IMB nya dan melanjutkan pembangunannya.

Dan bukankah pembangunan harus memiliki IMB?

Melalui tulisan ini, Saya mengajak semua pihak untuk menata hati dan pikirannya serta menimbang langkah langkah yang harus dilakukan. Kota Pematang Siantar adalah kota yang nyaman dan adem sehingga kedewasaan dalam membangun ide dan gagasan serta narasi yang bernas haruslah menjadi yang utama.

Dan penggunaan premanisme untuk membungkam pihak lain tidak akan pernah berhasil di kota ini, Percayalah