Diburu Lewat Online, Nastar Kue Lebaran Terfavorit di Siantar

Siantar – Masuk bulan Ramadan 2021, pengusaha kue Lebaran mulai bersiap untuk menjual dagangan musiman dan yang paling diburu, yakni kue kering. Seperti Nastar, Bangkit Jakarta dan Putri Salju. 

Bahkan, kanal distribusi pilihan juga berubah dari yang konvensional saat sebelum pandemi Covid-19, menjadi via online.

Distributor rumahan kue kering, Ratna Juwita (51) mengatakan, permintaan kue kering cukup lumayan. 

Bahkan warga Jalan Silimakuta, Kelurahan Timbang Galung, Kecamatan Siantar Barat, itu sudah membuat stok tiga hari saat puasa berlangsung. Tujuannya untuk antisipasi lonjakan permintaan.

“Permintaan ini, lumayanlah meski pandemi Covid-19. Dalam sehari kami buat kue berbagai jenis mencapai 15 kilogram. Tapi yang paling banyak diburu itu jenis kue nastar, kalau itu banjir pemesanan lewat online. Maka itu tiga hari masuk puasa dan sampai sekarang kami buat terus,” ujarnya.

Anggota organisasi Keluarga Besar Siantar Bersatu (KBSB) itu juga mengaku, penjualan lewat online sangat membantu distribusi dan menjangkau pelanggan. 

 

Suasana pembuatan kue di rumah Ratna Juwita di Jalan Silimakuta, Kelurahan Timbang Galung, Kecamatan Siantar Barat, Kota Pematangsiantar.

Apalagi, saat pandemi tahun lalu di mana penjualan konvensional sangat berisiko, sehingga memilih opsi penjualan online.

“Ada Family Kita, Surya Ramadani, dialah yang posting lewat online. Makannya banyak datang ke rumah, tapi rata-rata agen. Karena mereka masarkan kue saya lagi, ada yang lewat Instagram, Facebook dan mulut ke mulut,” papar Ratna, Selasa (20/4/2021) siang.

Untuk kue yang dibuat Ratna ada tujuh belas macam jenis dengan harga bervariasi. Paling murah harga Rp 80 ribu hingga yang paling mahal Rp 90 ribu per Kg.

BACA JUGA

Tilang Elektronik di Siantar, 2 Kamera Pengawas Ditempatkan di Sini

Mendorong Perda Sapangambei Manoktok Hitei di Siantar

Tahun lalu, dia berhasil menjual kue kering sebanyak 150 Kg. Sedangkan di tahun 2021 ini mencapai 300 Kg lebih yang dihabiskan.

“Sekarang alhamdulillah, permintaan semakin banyak. Ini pun masih bulan puasa pertengahan aja, sudah 300 kilo yang mesan. Belum lagi digabung sama agen, ini dia masih minta buatkan lagi,” paparnya.

Dia mengatakan, omzet menjual kue kering selama Lebaran lalu mencapai puluhan juta belum lagi Tahun Baru.

Selama pandemi Covid-19 sambung Ratna, dirinya belajar banyak hal termasuk penguasaan packing untuk tetap mempertahankan langganan. 

Terutama packing kue Lebaran berbentuk parsel yang juga banyak diminta pelanggan. Dengan melakukan inovasi itu, produknya bisa tetap terjual dan harga bisa naik.

“Pandemi mengajarkan kami banyak hal, salah satunya kami harus belajar mengikuti teknologi. Kami juga belajar packing untuk kemasan parsel dengan baik agar kue kami tidak hancur. Alhamdulillah, dan akhirnya kami tidak ragu lagi untuk mengirim sampai keluar kota,” jelas dia yang dari tahun 2005 sudah membuat kue.

Sepanjang 16 tahun menjadi distributor kue kering, Ratna juga tidak luput dari masa sulit yang menerjang. 

Mulai dari sulitnya menentukan harga akibat bahan yang naik turun hingga mengelola agen. Namun dengan kondisi yang sering dialaminya itu, tidak terus membuat Ratna hilang gairah atau patah semangat. 

Justru saat ini dirinya tetap mengembangkan usahanya. “Alhamdulillah, semua pernah kami lalui dengan baik dengan selalu berpikir positif dan mau tetap berusaha buat menyelesaikan semua. Serta tidak pernah lari dari masalah yang ada,” katanya. (Yuda)

Iklan RS Efarina