IKLAN SAMPING SIMANTAB oleh Silverius Bangun
IKLAN SAMPING SIMANTAB oleh Silverius Bangun

Tentang Kerangkeng, Pers Indonesia Berutang Maaf Kepada Bupati Langkat?

Simantab, Pers Indonesia berutang maaf kepada Terbit Perangin – angin Cs atas pemberitaan pemberitaan subjektif tentang penjara pribadi/kerangkeng/terali besi di halaman rumahnya, yang terungkap pasca Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan KPK.

Pemberitaan pemberitaan menjurus kepada penghakiman kepada Terbit Perangin – angin karena meng-kereng manusia di belakang rumahnya. Bahkan sampai menuduh bahwa perbudakan modern sedang terjadi disana.

Simantab sudah berhasil terhubung dengan beberapa warga yang mengetahui dengan jelas keberadaan “kereng”/penjara besi di belakang rumah Terbit Perangin – angin, Bupati Langkat non aktif.

Seorang warga yakni Jasa Ginting (JG)  yang pernah menjadi karyawan Terbit Perangin – angin membuka cerita kepada Simantab melalui saluran telepon pada hari Kamis, 27 Januari 2022.

Dia dahulu (sekitar tahun 2015) adalah karyawan yang mengurusi seluruh lembu milik Terbit. Setiap hari, para karyawan bagian ternak ini mendapat jatah makan siang dan disebut nasi kereng. Disebut nasi kereng karena memang nasi yang didistribusikan kepada karyawan tersebut diambil dari kereng yang kita sebut dengan penjara manusia tersebut.

JG membantah publikasi yang dilakukan oleh media massa seakan nasi kereng adalah nasi yang tidak layak untuk dimakan. Menurutnya nasi kereng justru lebih baik dari nasi sebagian besar warga yang tinggal dipedesaan.

JG menyatakan bahwa nasi kereng dengan lauk ayam dinikmati oleh karyawan 2 x dalam seminggu.

Selanjutnya JG juga bercerita bahwa kereng manusia tersebut sudah lama beroperasi dan sudah banyak warga sekitar yang berhasil lolos dari kereng tersebut dan meninggalkan dunia gelap penyalahgunaan narkoba.

Orang tua yang mengetahui penyalahgunaan narkoba oleh anaknya akan memilih untuk merawat anak tersebut dirumah terbit daripada panti rehabilitasi yang ada, ujar Jasa Ginting.

JG menyatakan bahwa orang tualah yang bermohon kepada Terbit untuk merawat anaknya yang ketergantungan narkoba.

Selain itu, tuduhan dari sebagian kalangan bahwa manusia didalam kereng adalah korban perbudakan modern juga dibantahnya karena para pecandu yang tinggal dikereng ini adalah “pasien” yang sedang dibatasi kegiatannya dan diberikan pekerjaan di ladang ladang seputaran rumah Terbit Perangin – angin adalah salah satu cara yang diyakini efektif membantu pecandu tersebut lepas dari ketergantungan narkoba.

Akses komunikasi yang dibatasi adalah komunikasi “pasien”/manusia kereng dengan sembarang orang diluar tembok yang dapat mengganggu proses penyembuhannya atau mempermudahnya melarikan diri.

Namun akses bagi orang tua yang menitipkan anaknya untuk dirawat dalam rumah Terbit Perangin-angin tersebut sangatlah terbuka dan bebas berkunjung ke rumah Bupati. 

Metode perawatan yang digunakan oleh Terbit Perangin – angin kepada pecandu narkotika terbukti berhasil menjauhkan mereka dari narkotika setelah keluar dari perawatan atau kereng tersebut.

JG mengaku bahwa beliau pernah memasukkan keponakannya untuk dirawat di rumah Terbit Perangin-angin dan sekarang keponakannya tersebut sudah lepas dari candu dan jerat narkoba tersebut.

Selanjutnya JG kepada simantab dan efarina tv berjanji untuk menghadirkan pengelola rumah kereng tersebut untuk memberikan informasi kepada redaksi simantab.

Catatan redaksi:

  1. Simantab akan terus mengupdate informasi tentang hal tersebut.
  2. Simantab akan memverifikasi kembali berita berita berkaitan dengan kereng manusia ini.
  3. Simantab memohon maaf atas kekeliruan yang diperbuat dalam pemberitaan sebelumnya namun kami sampaikan bahwa pemberitaan yang dianggap keliru tersebut diperoleh dari sumber yang sangat kredible.

 

Respon (1)

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.