Dunia  

Rusia Ubah Strategi Perang Ukraina?

Dunia, Agresi militer Rusia ke Ukraina sudah berlangsung 55 hari sejak deklarasi perang diumumkan oleh Vladamir Putin. Serangan demi serangan yang dilakukan oleh militer Rusia sudah meluluh lantakkan Ukraina hingga menjadi kota dengan sejuta puing,

Reuters mencatat setidaknya 46 ribu orang meninggal dunia baik dari masyarakat sipil maupun militer. Sedangkan korban yang diperkirakan cedera non fatal adalah sebanyak 12 ribu dan 400 orang dinyatakan hilang. Sedangkan disisi lain, warga sipil wanita dan anak anak serta masyarakat biasa yang mengungsi ke negara negara tetangga setidak tidaknya diperkirakan mencapai 11 juta orang.

Reuters sebagai sebuah perusahaan berita dunia, setiap hari mengupdate perkembangan dari perang Rusia dan Ukraina ini termasuk mengupdate statistik berbasis perkiraan kerugian dan hal hal lain.

Kerugian yang demikian besar ternyata tidak membuat perang Rusia dan Ukraina berhenti. Bahkan tentara Rusia diyakini oleh sebagian kalangan kewalahan menghadapi tentara Ukraina dan relawan relawan perang yang bergabung dengan angkatan bersenjata Ukraina.

Salah strategi dan bocornya informasi intelejen Rusia kepada pihak Ukraina membuat Putin berang. Terbaru seperti diberitakan oleh vivanews, Putin menjadikan Panglima angkatan bersenjata Federasi Rusia Valery Gerasimov menjadi sasaran kemarahan Presiden Putin. Baca DISINI

Kegagalan menguasai Kiev dalam waktu hampir dua bulan ini, membuat Rusia mulai mengubah strategi peragnya dan fokus kepada penguasaan wilayah wilayah yang bersekutu dengan Rusia yaitu wilayah donbas atau sering disebut sebagai front timur.

Militer rusia pada hari Senin (18/4/2022) mulai mengintensifkan serangan demi serangan ke wilayah utara hingga selatan ukraina dalam bentangan ratusan kilometer. Dengan intesif serangan di wilayah dombas tersebut akan meningkatkan persepsi dan opini rakyat Rusia terhadap kepemimpinan Putin.

Donets dan Luhanks adalah dua wilayah yang dideklarasikan dan diakui oleh pemerintah Federasi Rusia sebagai negara merdeka pada tanggal 24 februari 2022. Dan kehadiran militer Rusia di Ukraina adalah untuk melindungi negara yang dianggap dan diakui secara sepihak oleh Federasi Rusia.

Kementerian Pertahanan Rusia sendiri mengklaim bahwa 1260 fasilitas militer Ukraina sudah dilumpuhkan dan 1214 titik alteleri angkatan bersenjata Ukraina sudah diserang dan tinggal menunggu waktu untuk ditaklukkan oleh militer Rusia.