Sumut  

Tangisan Warga Dairi saat Gereja Mereka akan Dijadikan Bendungan Limbah Tambang

Dairi – Puluhan warga Kabupaten Dairi, Sumatra Utara, diiringi seruling, gitar dan harmonika yang dimainkan para pemuda, bernyanyi dan melantunkan doa. 

Mereka menangis, memohon pertolongan Tuhan agar memberikan kebijaksanaan kepada pemerintah, tidak memberikan izin kepada PT Dairi Prima Mineral (DPM) membangun bendungan limbah tambang di lahan gereja mereka.

Mereka adalah warga sejumlah desa di Kecamatan Silima Pungga-pungga. Menggelar aksi doa dan refleksi di depan gereja HKBP Sikhem Sopokomil, Senin, 5 Juli 2021 kemarin.

Sejumlah desa di Kecamatan Silima Pungga-pungga, seperti Desa Longkotan, Desa Bonian, Desa Panginuman, Desa Bongkaras, Desa Pandiangan dan Desa Sumbari, merupakan wilayah hulu lokasi pembangunan bendungan limbah PT DPM. Warga di sana pun khawatir dan cemas, jika kelak bendungan limbah beracun itu jadi dibangun.

PT DPM bahkan sudah memasukkan lokasi gereja sebagai bagian lahan seluas 24,13 hektare yang akan ditukargulingkan dengan HKBP, di mana lahan gereja merupakan bagian dari area bangunan bendungan limbah.

Namun, Ephorus HKBP Pdt Robin Butarbutar menolak relokasi rumah ibadah menjadi tempat limbah beracun PT DPM, melalui surat HKBP No.40/004/II/2012.

PT DPM terkesan mengabaikan surat ephorus karena di  dalam dokumen  adendum Andal, RKPL, RPL Tipe A  tahun 2019 dan tahun 2021 ada tertuang bahwa untuk kepentingan pembangunan bendungan limbah PT DPM akan  merelokasi gereja HKBP Sikhem Sopokomil.

Lokasi tempat limbah selama ini menjadi sumber berkat, sumber kehidupan, tanah yang menghasilkan kopi, jagung, manggis, durian, pinang coklat dan lain-lain

Menyusul suratnya yang pertama, pada 9 Juni 2021 Ephorus HKBP kembali mengeluarkan surat No. 1003/L15/VI/2021 tentang penolakan Rencana Relokasi HKBP Sikhem Sopokomil untuk Pembangunan Bendungan Limbah PT DPM yang ditujukan kepada PT.DPM.  

Sikap Ephorus HKBP mendapat dukungan dari banyak pihak termasuk dari warga terdampak yang berada di hilir. Kabar baik gereja dengan tegas menolak rumah ibadah dijadikan tempat limbah beracun. 

Menurut kajian ahli keselamatan bendungan limbah Dr Richard Meehan, lokasi bendungan limbah terbentuk dari struktur tanah yang tidak stabil atau terbentuk dari abu vulkanik toba atau toba tuff, berada di hulu desa dengan curah hujan yang tinggi, dekat pemukiman dan perladangan masyarakat. Sementara Dairi rawan gempa, longsor, dan banjir. 

Richard menyimpulkan pembangunan lokasi bendungan limbah tidak layak dan menimbulkan ancaman terhadap keselamatan warga. Kebijakan Pembangunan bendungan limbah yang tidak mempertimbangkan kerentanan dan aspek kebencanaan  berpotensi  mempertaruhkan keselamatan ratusan ribu jiwa penduduk Dairi, serta berpotensi besar menggusur lahan-lahan pertanian produktif, sumber air, sungai dan kawasan hutan yang semuanya sumber perekonomian utama masyarakat Dairi. 

Acara doa dan referensi bersama dipimpin Diakones Santun Sinaga. Diawali meditasi, semua peserta menundukkan kepala sambil diiringi musik.

Hamparan bukit-bukit hijau dan pemandangan hamparan sawah yang terlihat kejauhan dari halaman gereja seperti mengajak semua warga merenungkan anugerah Tuhan atas tanah Dairi yang subur dan selama ini menghasilkan pangan  dan  sebagai sumber  kehidupan. 

“Peserta refleksi menyerahkan  kekhawatiran kepada Tuhan,  kekhawatiran akan keterancaman kehidupan dari potensi kehancuran dan jebolnya bendungan limbah PT DPM ke depan yang akan berdampak atas  sumber mata pencaharian, selama ini sudah selalu disuarakan kepada para pengambil kebijakan, kepada pemerintah,” kata Diakones Sarah Naibaho dalam rilisnya, Rabu, 7 Juli 2021. 

Dikatakannya, setelah refleksi semua peserta melantunkan lagu-lagu pujian dimana juga  merupakan bagian dari doa.

Semua peserta melantunkan lagu dengan isak tangis. Gedung HKBP Sikhem menjadi saksi dari isak tangis yang meluapkan isi hati dari semua peserta yang tidak menghendaki kebijakan pemerintah yang akan membangun tempat limbah yang bisa berpotensi menjadi sumber pencemaran yang akan berdampak atas kehidupan bukan hanya bagi warga yang berada di sekitar lokasi tapi juga bagi warga yang tinggal di hilir.

“Lokasi tempat limbah selama ini menjadi sumber berkat, sumber kehidupan, tanah yang menghasilkan kopi, jagung, manggis, durian, pinang coklat dan lain-lain,” kata Sarah.

Acara kata dia, diakhiri doa penutup dibawakan Op. Gideon Sitorus. Dalam doanya dia memohon belas kasihan dari Tuhan agar pemerintah  tidak memberikan izin lingkungan kepada PT DPM. []

Iklan RS Efarina